Bangga Ku Menjadi Indonesia

Fahima I.

Siapa yang bisa meminta ingin lahir di mana. Menjadi warga negara apa. Tak ada satupun, kecuali kita semua telah ditakdirkan oleh Yang Kuasa tentang umur kita, jodoh, rizki, kehidupan dan kematian. Sudah tertulis di lauh mahfudzNya.

Termasuk menjadi bagian dari warga dan penduduk yang menghuni bumi Indonesia, adalah diantara anugrah itu. Kita yang berkulit berwarna, yang lebih dominan sawo matang, tentu bersyukur karena secara pigmen kulit kita rerata lebih eksotik dibandingkan para bule itu. Buktinya? Kita lihat di sepanjang pantai di Bali sana, para bule itu berjemur, semata agar kulitnya sedikit menghitam seperti kita. Ini baru satu contoh.

Bahwa kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah hal yang mesti kita promosikan. Di tengah carut marut pemimpin negeri +62 ini belepotan mengelola negeri.

Rasa bangga menjadi Indonesia setidaknya menjadi modal awal optimisme bahwa kita Indonesia masih bisa bangkit. Peluang memperbaiki negeri ini masih luas dan bisa kita perankan. Minimal untuk kemandirian kita, terkhusus dalam aspek ekonomi.

Menurut para pakar ekonomi, di tengah pendemi covid-19 yang belum kunjung usai ini, maka resesi ekonomi adalah keniscayaan yang akan dialami oleh semua negara yang terdampak. Negara yang super power dan hebat secara landasan ekonominya pun terseok dan terkapar. Pertumbuhan ekonominya minus. Indonesia? Pemerintah, yang diwakili kementerian ekonomi mencoba terus meyakinkan bahwa kita memang akan resesi, pertumbuhan ekonomi yang minus, tapi tidak perlu khawatir, kita mempunyai rakyat yang hebat. Kekuatan kehebatan itu justru ada di rakyat. Yakni tumbuhnya kemandirian ekonomi rakyat, UMKM yang terus menjamur, di tengah keterpurukan situasi yang mencemaskan banyak pihak. Hebat Indonesia kita. Hebat rakyatnya.

Ini baru satu tinjauan sisi ekonomi. Ada banyak hal yang membuat kita harus bangga menjadi Indonesia. Selain sumber daya alam yang “given” luar biasa kayanya, namun hanya dinikmati dan dikuasai 1% warga negara yang super kaya, juga ragam budaya, adat istiadat, ribuan suku dan ragam bahasa, adalah diantara kekayaan Indonesia.

Subur tanah dan alamnya, potensi pertanian yang mestinya digarap serius, namun nyatanya petani Indonesia adalah komunitas warga negara termiskin. Ini ironi tapi sekaligus menjadi cambuk, bahwa kita bisa memperbaikinya. Dua per tiga wilayah Indonesia adalah lautan, artinya sumber daya potensi perikanan kita luar biasa besarnya, namun dalam teknologi teramat jauh dibandingkan dengan negara jiran.

Tapi ku tetap bangga menjadi Indonesia. Setidaknya kita masih merasakan ketentraman dengan cara bersosial kita, guyub gotong royong yang masih menjiwai karakter bangsa ini, meski di tengah serbuan individualisme yang menyayat.

Kita mesti tetap bangga dengan Indonesia, yang beragam ras dan perbedaan agama, namun mampu tetap bersatu. Ribuan pulau yang terpisah, namun bisa disatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Meski ada yang sempat terpisah melalui referendum di tahun 1999, toh kini rakyat Timor Leste tidak lebih makmur dari bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, masih menjadi negara termiskin di kawasan Asia.

Tetaplah bangga menjadi Indonesia. Negeri mayoritas muslim terbesar di dunia, yang tetap rukun serta memegang toleransi yang tinggi dalam menghormati minoritas dalam beragama. Sebuah harmoni yang indah bernama Indonesia.

Dan tetap banggalah menjadi bagian dari bangsa besar Indonesia. Sebuah negara yang berazaskan Pancasila dan menganut demokrasi, meski sedang dalam belajar mempraktekkannya. Kita diberikan keleluasaan bersama untuk saling berkolaborasi membangun dan memperbaiki tata kelola, dengan partai politik salah satunya.

Dan aku tetap bangga menjadi Indonesia. Karena kulinernya yang kaya menggugah selera. Rendangnya yang kaya rempah, sate madura yang mak nyus, sop conro yang menggugah selera, serta sego pecel yang selalu bikin kangen. Dan semua itu tidak ditemui di negara selain Indonesia, kecuali warga negara Indonesia yang berbisnis kuliner di manca negara.

Banggalah menjadi Indonesia.
Merdeka……

MASYARAKAT BARU INDONESIA


By : Anis Matta

Ada perubahan yang sedang terjadi diam-diam di tengah semua kegaduhan politik hari ini yaitu perubahan komposisi demografi dan karakteristik masyarakat yang pada gilirannya nanti akan mempengaruhi lanskap politik pada Pemilu 2014.

Komposisi penduduk mulai condong ke usia muda, bahkan didominasi oleh penduduk berusia 45 tahun ke bawah. Proyeksi demografis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2014 ini angka usia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 65%. Penduduk berusia muda ini memiliki tingkat pendidikan dan penghasilan yang cukup tinggi. Tentu saja, Indonesia telah masuk ke ambang pendapatan per kapita USD3.000 sejak 2011. Karakter lain dari kelompok ini koneksi ke dunia luar melalui internet (well connected). Diperkirakan kurang-lebih 60 juta orang Indonesia terhubung dengan social media. Angka itu sama dengan hampir 25% dari penduduk Indonesia.

Native Democracy

Karakter lain yang khas di Indonesia dewasa ini adalah kelompok yang saya sebut sebagai “native democracy”. Mereka adalah generasi muda yang hanya merasakan demokrasi sejak dewasa. Mereka tumbuh remaja dengan menyaksikan pemilihan presiden langsung, iklan politik di media, dan kebebasan berpendapat hampir di mana saja. Mereka tidak memiliki referensi kehidupan dalam suasana otoriter Orde Baru, di mana pers dibungkam, partai politik dibonsai, serta pemilu yang semata menjadi “pesta” bagi penguasa, bukan pesta demokrasi yang sebenarnya.

Kelompok “native democracy” ini berbeda dengan “kakaknya” yang lahir pada awal Orde Baru (akhir 1960-an atau awal 1970- an) yang menyaksikan runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet ketika remaja. Sebagian dari anak sulung Orde Baru ini menjadi pelaku ketika gerakan Reformasi bergulir karena mereka sedang berada pada usia pemuda atau mahasiswa. Mereka merekam suasana otoriter masa lalu dan melihat situasi demokratis sekarang sebagai suatu pencapaian, sementara adiknya melihat kebebasan hari ini adalah sesuatu yang terberi (given).

Orientasi yang Berubah

Dari perjalanan sejarah, kita mencatat bahwa pencapaian terbesar para pendiri bangsa dan pemerintahan pascakemerdekaan di bawah Bung Karno adalah pembentukan konstitusi Indonesia sebagai negara-bangsamodern. Namun, paradigma “politik sebagai panglima” di era ini menyebabkan negara tidak punya perhatian dan kemampuan untuk melakukan pembangunan sosial dan ekonomi. Orde Baru yang datang sebagaiantitesisOrdeLamamenempatkan pembangunan ekonomi, dalam arti peraihan kesejahteraan material, sebagai fokus dan basis legitimasi.

Namun, karena stabilitas politik merupakan premis bagi pembangunan ekonomi, proses penguatan lembaga negara dilakukan dengan menjadikan militer sebagai “brain and backbone” negara, sementara kekuatan sipil terpinggirkan, khususnya partai politik. Era Reformasi mengalihkan perhatian kita dari politik dan ekonomi ke masyarakat (society). Yang terjadi selama 15 tahun belakangan ini adalah penguatan masyarakat sipil dengan empat pranata utama: kampus, media, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan partai politik.

Inilah yang kemudian menciptakan keseimbangan baru dalam hubungan antara negara, pasar dan masyarakat sipil. Bersamaan dengan beralihnya pusat perhatian kita pada society, yang berdampak pada penguatan masyarakat sipil, kita mendapatkan berkah dari Tuhan berupa “bonus demografi” di mana komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif. Rasio ketergantungan (dependency ratio) menurun karena orang tidak produktif (orang tua dan anakanak) yang harus ditanggung oleh penduduk produktif semakin kecil sampai titik tertentu.

Proyeksi demografis BPS menunjukkan bahwa dividen ini mencapai puncaknya pada 2020, ketika penduduk berusia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 70% dari populasi. Dampak paling besar akibat pergerakan dari politik ke ekonomi ke masyarakat ini adalah berubahnya tujuan pertanggungjawaban politik dan ekonomi. Di era ini masyarakat akan menjadi “panglima” bagi politik dan ekonomi. Karena itu, negara sebagai integrator bagi semua aktivitas politik dan pasar sebagai integrator bagi semua aktivitas ekonomi bukan hanya dituntut untuk lebih terbuka dan transparan, melainkan juga dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sosial.

Masyarakat menjadi faktor pembentuk nilai utama bagi negara dan pasar. Jargon era ini adalah: society first! Pertanyaan yang berkembang, apa orientasi hidup masyarakat baru ini? Ternyata jawabnya adalah kualitas hidup. Kesejahteraan adalah impian, tapi ia tak lagi sendiri. Kesejahteraan bergeser dari tujuan menjadi salah satu faktor pembentuk kualitas hidup. Itulah yang kita baca dari perubahan lanskap nilai dan moral masyarakat baru tersebut.

Di samping nilai-nilai lama yang masih kuat bertahan, yaitu agama dan gotong-royong, muncul nilai baru yang menyertai dan mengimbangi kedua nilai tersebut yaitu tendensi pada kekuasaan (power) dan prestasi (achievement). Agama memberi orientasi hidup, menjadi sumber moral sementara pengetahuan memberi mereka kapasitas dan sumber produktivitas. Kesejahteraan adalah output dari kedua hal tersebut yang berfungsi sebagai pembentuk kualitas hidup secara keseluruhan.

Implikasi

Implikasi dari lahirnya masyarakat baru ini adalah kebutuhan hadirnya representasi politik yang melampaui polarisasi politik lama. Cara pandang dikotomis Islam vs nasionalis— kemudian Islam masih dibelah lagi menjadi tradisionalis vs modernis—menjadi usang dan tidak relevan. Pada masyarakat baru ini, agama adalah identitas, bukan ideologi. Kehidupan mereka relatif lebih religius, tetapi tidak otomatis berkorelasi dengan pilihan-pilihan politis-ideologis.

Kita harus mencari ide tentang “the next Indonesia” yang benar-benar mewakili ruh zaman, mewakili orang-orang yang berumur di bawah 45 tahun. Karena itu, seperti sudah saya sampaikan dalam banyak kesempatan, Pemilu 2014 bukan hanya menjadi momentum politik demokrasi, berupa peralihan kekuasaan, melainkan momentum peralihan gelombang sejarah Indonesia. Partai politik harus menyiapkan strategi komunikasi baru karena nantinya hubungan antara pemerintah (yang merupakan hasil kontestasi pemilu) dan publik akan berlangsung pada kesepakatan tingkatan layanan (service level agreement) dari kedua pihak;

layanan apa yang diminta publik dan kewajiban apa (seperti partisipasi atau pajak) yang harus diserahkan publik untuk mendapat layanan itu. Partai politik harus menyiapkan dan menyampaikan draf kontrak layanan itu. Pada skala yang lebih besar, tugas negara bagi masyarakat baru tersebut adalah memfasilitasi masyarakat bertumbuh secara maksimal dengan semua potensi mereka. Fungsi fasilitator pertumbuhan sosial itulah yang akan mencegah terjadi ketegangan diametrak antara negara dan masyarakat sipil yang banyak terjadi di negaranegara demokrasi baru.

Semua berkah yang diberikan Tuhan itu, seperti sumber daya alam dan bonus demografi, hanya akan punya makna jika dikelola secara baik. Jika tidak, berkah itu akan hilang percuma dan kita kehilangan momentum untuk membuat lompatan menjadi negara yang sejahtera. Perubahan ini yang akan membuat Pemilu 2014 menjadi menarik dan menantang bagi partai politik. Mudah-mudahan lebih menarik dari Piala Dunia FIFA yang digelar di Brasil!

*Koran Sindo (Jumat, 20/12/2013)

Partai itu Bukan Tujuan

Membaca dokumen visi dan misi partai-partai yang ada di Indonesia, ada bagian yang menarik dari visi misi PDI Perjuangan. Salah satunya adalah statemen bahwa partai itu alat perjuangan untuk … atau guna …

Posisi partai sebagai alat, menurut saya memiliki setidaknya dua makna, yakni :

  1. Sebagai alat, partai digunakan untuk tujuan tertentu. Salah satu tujuan partai adalah merebut kekuasaan secara sah. Dalam hal ini melalui mekanisme demokrasi.

Meski ada sebagian orang yang memandang kekuasaan sebagai tujuan. Namun kekuasaan sendiri sebenarnya bukan tujuan akhir. Kekuasaan adalah juga alat, tentu saja alat perjuangab yang lebih besar dibanding partai. Kalaulah tujuan, kekuasaan hanya tujuan antara untuk mewujudkan tujuan yang lebih besar. Misalnya saja membawa Indonesia menjadi kekuatan lima besar dunia.

Di sini, kita sebenarnya sudah mulai bisa membedakan tiap-tiap partai. Adakah tujuan yang lebih besar ketimbang kekuasaan. Atau pertanyaan, ketika partai anu berkuasa apa yang akan terjadi?

Karena sampai titik untuk merebut kekuasaan, semua partai itu sama saja. Setahu saya semua partai ingin berkuasa. Meskipun ada yang malu-malu, kemudian menghaluskan dengan istilah lain.

  1. Karena partai itu alat, maka siapapun yang bergabung dengan sebuah partai sudah semestinya memiliki set mental dan niat untuk menggunakan alat. Bukan sekedar mendapatkan alat. Ya buat apa pegang alat, kalau tidak digunakan.

Apapun niat atau tujuannya. Tentu saja tidak bisa disamakan. Dan memang tidak harus sama tiap-tiap orang. Bahkan mungkin motif atau tujuan yang sangat pribadi sekalipun, boleh saja. Tapi ya tadi, partai itu hanya alat untuk mencapai tujuan tertentu.

Jadi, kurang tepat saat seseorang bergabung dengan sebuah partai kemudian memulai dengan pertanyaan : “Kalau bergabung, saya dapat apa?” Karena partai adalah alat.

Setidak-tidaknya pertanyaan yang agak tepat adalah : ” Kalau saya punya rencana begini-begini, apakah bisa dilakukan dengan partai ini?”

Oleh karenanya, justru ruang yang cukup untuk mengakomodasi motif tiap orang yang berbeda-beda untuk bergabung, itulah kata kunci sebuah partai akan punya peluang menjadi besar atau tidak. Itulah kira-kira makna partai menjadi permadani atau karpet yang nyaman untuk setiap orang duduk di atasnya.

Isi kepala yang berbeda. Motif pribadi yang berbeda. Latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Dan sekian banyak perbedaan lain, berhimpun menjadi satu.

Meski mengakomodasi semua perbedaan personal, namun sebagai sebuah institusi, tentu saja di dalam partai perlu ada arah yang sama. Agar apapun motif setiap personal yang ada di dalam partai, tetap saja memiliki arah gerak yang sama. Menjadikan partai dinamis dan terarah.

Sekali lagi partai itu hanya alat, bukan tujuan. Ojok nemen-nemen lah…

GelorakanIndonesia🇮🇩

IndonesiaKekuatanLimaBesarDunia🇮🇩

Setia Jogja

Assalamualaikum

Hello sweethearts, how are you?
It’s been really long since I’ve updated my blog but I thought I should start to upload articles more regular again.
What are your thoughts about it? Are you guys still reading a blog? Or do you prefer Instagram, YouTube or any other social media accounts?
I actually still enjoy reading blogs even though I know it gets less and less because YouTube and
Instagram are really strong!

Anis Matta, Ustad yang bangun Partai Berazas Pancasila, Kenapa ?

Oleh : Arka Wong Ndeso

(terimakasih yang baca sampai akhir)

Anis Matta adalah seorang ustad dengan pengetahuan yang luas. Jika mendengar tausiahnya, kita akan terpana dengan uraian sirah yang dalam, disertai tinjauan ilmiah dari ayat-ayat quran menjadikan apa yang beliau sampaikan begitu renyah.

Mungkin publik bertanya, kenapa Anis Matta justru membentuk Partai Gelora Indonesia, dimana partai baru ini malah memilih berazaskan Pancasila dan bukan berazaskan Islam. Kenapa tidak membentuk partai berbasis Agama seperti partai yang pernah ia naungi hampir 20 tahun.

Inilah pilihan politik beliau yang saya nilai brilian dan sangat terbuka dengan kondisi perubahan baru. Ini juga membuktikan beliau sangat open dan jauh dari kekakuan pemikiran yang memang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari solusi persoalan kebangsaan yang terus berkembang.

Kenapa brilian, karena dengan berazaskan Pancasila, menurut saya paling tidak ada 3 peran dan positioning yang bisa dilakukan Partai Gelora yang tidak akan bisa dilakukan oleh partai lain.

Yang pertama adalah peran konsolidasi ideologis dan persatuan keumatan

Ustad Anis Matta yang memiliki basis keumatan karena beliau punya kemampuan komunikasi keumatan, akan mampu menjadi jembatan konsolidasi ideologis yang selama ini masih menjadi konflik yang tak kunjung satu. Ada jurang pemisah antara kaum agamis dengan kaum nasionalis yang seharusnya itu tidak perlu.

Apalagi sejak momentum kontestasi politik beberapa tahun ini, ada benturan keras yang cukup mengkhawatirkan, seakan-akan kekuatan Islam bertarung, bermusuhan dengan kekuatan Nasionalis yang sering disebut kaum abangan. Apakah memang keterbelahan ini perlu dipertahankan.

Partai Gelora punya potioning yang tepat, memberikan contoh kepada bangsa ini, bahwa keyakinan keimanan, ideologi agama tidak berbenturan dengan nasionalisme.

Seorang Ustad mampu memimpin Partai Nasionalis berazas Pancasila adalah pesan, bahwa Agama tidaklah berbentur dengan Nasionalisme tanpi justru menguatkan. Dan saya kira sejarah bangsa ini telah mengajarkan itu. Dengan ini Partai Gelora akan mampu menjadi aktor persatuan keumatan.

Yang kedua Partai Gelora Indonesia menjadi aktor rekonsiliasi dan membangun kolaborasi anak bangsa

Kita lihat bersama kegaduhan disosial media dimana tidak lagi nilai dan kebangsaan yang diperjuangkan, namun justru keterbelahan identitas yang saya kira sangat berbahaya. Ada cebong, kampret, dan sekarang ada sebutan kadrun, ini sangat tidak sehat dalam konsolidasi kebangsaan.

Lagi-lagi Partai Gelora punya positioning dan peran yang bagus. Partai Gelora bisa menjadi perekat keduanya dalam satu kesatuan, melakukan konsiliasi kebangsaan. Akan sangat berbeda jika Gelora berazaskan Islam, maka langsung Partai Gelora akan masuk kedalam kotak kadrun.

Dengan berazaskan Pancasila, Nasionalis, Partai Gelora mampu untuk menjalin rekonsiliasi dikeduanya, memberikan alternatif jalan baru yang menjadikan munculnya titik temu baru dalam satu gagasan.

Apalagi Partai Gelora memilik gagasan yang cukup kuat, yaitu Arah Baru Indonesia, menuju negara 5 besar Dunia. Gagasan ini akan mudah dicerna oleh kaum agamis karena disampaikan secara apik oleh seorang Ustad dengan spirit Agama, namun tidak diragukan juga Nasionalismenya oleh kaum nasionalis karena Partainya berazaskan Pancasila.

Yang ketiga Partai Gelora mampu memperkuat lahirnya Demokrasi Modern

Tidak perlu kita diskusikan, mayoritas partai adalah feodal, dimana Partai dipegang absolut oleh satu dan dua orang. Tidak perlu saya sebutkan karena itu kasat mata terlihat.

Saya kira pilihan Partai Gelora berazaskan Pancasila akan memberikan contoh bagaimana sebuah partai dapat dibangun dengan sistem yang modern dengan landasan pilar kebangsaan.
Partai yang egaliter dimana ide dan gagasan dibiarkan menyamai subur.

Demokrasi sudah sebagai pilihan politik bangsa ini, tapi ironisnya demokrasi justru tidak ada di Partai-partai yang justru cenderung feodal. Apa kata Ketua umum menjadi sabda yang tunggal. Kita menolak Totaliter, tapi justru totaliter ada didalam Partai.

Gelora tidak memilih menjadi Partai agama. Partai Agama cenderung menjual identitas yang justru membuat bangsa semakin terbelah. Agama hanya untuk memperkuat positioning politiknya yang seharusnya dalam demokrasi modern hal tersebut tidaklah tepat, yang perlu dibangun adalah memperkuat ide dan gagasan, memberikan solusi persoalan kebangsaan.

Gelora punya peluang bagus untuk mengkolaborasikan potensi yang ada didalamnya. Kekuatan keagamaan, keumatan dan juga kekuatan Nasionalisme sekaligus. Jika 3 peran ini dilakukan, Gelora punya peluang untuk menjadi Partai besar dan cita-cita mewujudkan Indonesia menjadi negara 5 besar dunia bukan hanya slogan dan mimpi saja.

Gen Z

[Fahima Indrawati]

Sejarah mencatat, sebuah perubahan selalu diawali oleh gegap kaum muda.

Mereka muda secara usia biologis, namun matang secara pemikiran. Dari Khalifah Sayyidina Ali Ra, Abdullah ibnu Abbas yang berusia 14th sudah diangkat menjadi mufti di era Khalifah Umar Ibn Khatthab Ra, Panglima Usamah yg berusia 18th, Thariq bin Ziyad, Muhammad Al Fatih di usia 22th. Ini diantara nama para muda pendahulu.

Para milenial di era kini, yang tahu betul tentang road map menempuh cita2nya, adalah mereka yang akan mewarisi zaman. Di bidang apapun, mereka berfokus pada kontribusi dan kemanfaatan.

Gen Z identik dengan keterbukaan, energi dan rasa ingin tahu yg tinggi, mereka yg openmind dan bersiap berlayar bersama dalam kolaborasi anak bangsa, terus berkiprah utk bangsanya, meski peran yang mereka mainkan dalam skala sekecil apapun, meraka kaum milenial yang paling bersiap menghadapi tantangan ketakpastian global.

Merekalah pemilik zaman yang mewarnai dan mewarisi estafeta peradaban. Gen Z adalah identik dengan peran perubahan.
Perubahan menuju Indonesia kekuatan 5 besar dunia. Dan partai Gelora bersiap kolaborasi bersama seluruh anak bangsa.

GELORA LABUHANBATU SAH

Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) sudah resmi mendapatkan Surat Keputusan (SK) Tentang Pengesahan Badan Hukum dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly Pada Hari (Selasa, 02/06/2020-Red). Sebelumnya, Partai Gelora Indonesia mendapatkan SK Menkum HAM nomor M.HH-11.AH.11.01 Tahun 2020 yang ditandatangani Menkum HAM Yasonna Laoly sebagai Badan Hukum Partai Politik ( Selasa, 19/05-2020 – Red ) lalu. Artinya, Partai Gelora Indonesia telah sah secara hukum menjadi partai politik di Indonesia ( dikutip dari Artikel detik.com kamis, 21 Mei 2020-Red ).

Partai Gelora di Kabupaten Labuhanbatu sudah terbentuk dan Kepengurusan Inti pada saat ini dengan susunan Ketua: H. Marasakti Harahap, Lc. Dipl. Sekretaris: Ahmad MulkanAB, Spd.I, Bendahara: Syarifuddin Hasibuan, S.H.

Ahmad Mulkan, ketika dihubungi via pesan WhatsApp menyampaikan “ Wa’alaikumsalam, Mohon Maaf bang baru bisa balas pagi ini. Sebelumnya Kami ucapkan terima kasih atas apresiasinya atas lahirnya partai gelora, semoga bisa bersinergis dengan media, disini saya ingin memaparkan partai Gelombang Rakyat Indonesia itu apa ? “ pungkas Sekretaris Partai Gelora Labuhanbatu itu (05/06/2020-Red).

Masih melalui WhatsApp-nya, Ahmad Mulkan melanjutkan “ tak dapat dipungkiri bahwa pasti kita pernah dihinggapi pertanyaan Kenapa harus memilih Partai Gelombang Rakyat Indonesia. Kami akan memberikan alasan logis, kenapa harus memilih partai Gelombang Rakyat Indonesia? Atau dengan kata lain, kenapa kita harus bergelora? “ lanjutnya.

“ Dalam suatu kesempatan, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat Indonesia Anis Matta pernah menuturkan bahwa untuk membangun Indonesia kita harus mampu menjadi otaknya Indonesia, menjadi hatinya Indonesia, dan menjadi tulang punggungnya Indonesia. Pernyataan menarik dari beliau, menstimulus kami untuk menarik satu kesimpulan sederhana. Tatkala kita menjadi otaknya Indonesia, menjadi hatinya Indonesia, dan menjadi tulang punggungnya ” tambah Ahmad Mulkan yang menjabat Sekretaris Partai Gelora Labuhanbatu tersebut.

Historical Timeline Partai Gelora:

  1. 28 Oktober 2019 : Piagam Pendirian Partai Gelora Indonesia;
  2. 10 November 2019 : Pelantikan Pimpinan 34 DPW Provinsi Partai Gelora Indonesia;
  3. 31 Maret 2020 : Pendaftaran Partai Gelora Indonesia ke Kemenkumham;
  4. 19 Mei 2020 : SK Menkumham ttg Badan Hukum Parpol Gelombang Rakyat Indonesia;
  5. 2 Juni 2020 : Penyerahan SK Kemenkumham oleh Kementerian Hukum dan Ham RI ke DPN Gelora Pusat

Gelora Demokrasi Kita

Terus memperuncing antara isu agama dan nasionalisme hanya akan merugikan kalangan agamis.

Demokrasi tidak bisa diperjuangkan hanya dengan isu dan memperbesar gesekan antar anak bangsa.

Siapa saja kalangan agamis yang ingin menguatkan demokrasi, maka jalur yang harus ditempuh adalah jalur demokrasi.

Siapa saja kalangan nasionalis yang ingin menguatkan demokrasi, maka jalurnya juga sama yaitu jalur demokrasi.

Siapa saja yang ingin membangun bangsa ini, apapun mazhab politiknya. Baik haluan kiri, kanan, tengah, dalam atau luar. Semua wajib dengan cara cara demokrasi.

Mempertentangkan agamis-nasionalis, menguatkan isu politik identitas bukanlah solusi cerdas menguatkan demokrasi.

Kalangan agamis yang terus menerus sibuk dengan diskursus pancasila-agama, agama-nasionalisme, agama-demokrasi. Dst. Sebenarnya sedang membuang buang waktu.

Terus mengangkat isu isu politik identitas hanya jebakan jangka pendek dalam narasi, tapi itu akan menggali lubang kubur sendiri dalam jangka panjang.

Partai partai islam harus lebih cerdas dalam berjuang dengam fokus pada kekuatan ril dan persiapan SDM sebaik baiknya. Ribut dalam tataran isu agamis-nasionalis justru akan merugikan pihak agamis.

Partai modern tidak boleh mengangkat isu isu dikotomis diatas, karena sebuah partai modern basisnya adalah kolaborasi dengan semua pihak untuk menemukan harapan baru indonesia. Bukan saling ribut soal defenisi pancasila-agama.

Para pendiri bangsa ini sudah sepakat dengan konstitusi bersama soal kebhinnekaan, keragman, pancasila, dst. PR sekarang hanya bagaimana meracik semua itu dengan nalar yang benar.

Kaum agamis agar bisa menahan diri untuk tidak meladeni debat soal soal dikotomis antara agama-nasionalisme. Mereka harus bergerak ke tengah untuk memahami lebih utuh semua bingkai demokrasi di negara ini.

Partai partai islam harus sepenuhnya sadar bahwa cara konvensional yang sudah tidak relevan di era sekarang perlu ditinggalkan dan tidak dipaksakan.

Partai partai islam harus melek fakta bahwa isu isu inilah yang menjadi penyebab utama kenapa partai partai islam sampai saat ini masih terus menjadi pemain cadangan dan bermain di pinggir dalam demokrasi.

Mereka hanya menguasai panggung pinggiran dengan suara rendah dalam elektoral. Riuh dalam debat, minus dalam karya nyata.

Cara mengelola demokrasi modern di era modern ini tidak bisa lagi memakai platform histori masa lalu yang telah jelas gagal. Dunia yang semakin kompetitif sekarang tidak akan mentolerir akal akal yang malas(Resigned Reason).

Berkolaborasilah, beradaptasilah, berkaryalah! ajaklah semua anak bangsa terlibat dalam membangun bangsa ini tanpa sekat dan tanpa isu isu kontraproduktif yang justru merugikan mayoritas muslim gara gara oknum oknum awam dalam beropini.

Partai modern yang dibutuhkan indonesia kedepan adalah partai yang punya pemahaman yang utuh bagaimana cara membaca narasi baru indonesia dalam upaya menguatkan demokrasi dan berbangsa.

Partai modern yang dibutuhkan indonesia kedepan adalah partai yang mampu mempertemukan semua kutub dan gesekan ideologi yang tidak produktif menuju pendekatan pemikiran dan pendekatan visi misi bersama dengan seluruh kalangan anak bangsa.

Gelorakan Semangat Indonesia!

GELORA, DAN KESIMA YASONA

Pada momen penyerahan surat keputusan pengesahan Badan Hukum Partai Gelombang Rakyat Indonesia, Selasa 2 Juni, muncul apresiasi atas kinerja dan prospek partai ini oleh Yasonna H Laoly, selaku Menteri Hukum dan HAM ataupun pribadi politikus, dan kolega separtai yang juga gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Suatu apresiasi yang sepintas tampak spontan, terutama pada Yasonna. Tepikan dulu bahwa itu bagian dari komunikasi politik untuk sekadar berbasa-basi. Gelora, tukas Yasonna, berisikan para petarung. Suatu pujian yang sepatutnya jadi bahan pemikiran aktivis partai berwarna dominan biru langit ini: sudah seberapa patut menyandang predikat sesuai yang diarahkan pihak luar?

Izinkan saya tidak bicara dalam ruang dan waktu sekarang, namun ke alam bawah sadar pertautan dua orang kader Soekarnoisme itu dengan narasi Gelora. Artinya, spontanitas ataukah basa-basi, semua itu tidak hadir dalam momen kealpaan. Namun, ada suatu ingatan. Tentu saja, uraian di tulisan berikut hanya spekulasi subjektif saya yang kemudian ditarik dengan pembacaan objektif pada catatan sejarah. Poin pentingnya sebenarnya pada soal becermin pada sejarah, yang ini penting bagi aktivis dan—terutama—pengurus Gelora. Jadi, kesima sang Menteri di acara daring penyerahan anggap saja pemanis dalam pentas politik nasional.

Di tengah perpolitikan nasional yang “biasa-biasa”, cetusan dari pendiri Gelora, Anis Matta untuk membawa Indonesia sebagai kekuatan 5 besar dunia sesungguhnya angin segar yang menggerakkan. Bagi kalangan yang pesimis dan sinis dengan melihat kenyataan hari ini negeri kita, narasi Anis Matta itu terdengar sloganistis dan impian kosong belaka. Bagi kalangan yang merindukan perubahan, tidak serta-merta menyambut gema narasi Anis Matta sebagai kesamaan agenda. Masih ada semacam jarak untuk bersama-sama melakukan gerakan serupa walau tanpa harus berkiprah bareng di Gelora.
Narasi “Indonesia menjadi kekuatan 5 besar dunia” dan jarak dengan kenyataan di negeri ini sesungguhnya bisa kita bandingkan dengan situasi yang mendorong dua anak muda yang begitu cinta pada bangsanya dan ingin membawa lari segera dari ketertindasan oleh penjajah. Di bawah umur 30 tahun, Soekarno dan Hatta sudah memimpikan, membayangkan dengan satu skema pikiran bagaimana negerinya ke depan selepas merdeka. Sebenarnya nama Tan Malala dengan Menuju Merdeka 100% bisa disebutkan juga, namun untuk membatasi uraian di tulisan ini melebar, serta tingkat luasnya pengenalan publik pada Soekarno-Hatta maka nama sosok komunis nan misterius ini terpaksa tidak diperbincangkan.

Yang mereka lakukan adalah membaca situasi geopolitik masa itu. Kekuatan global sedang berancang saling adu kekuatan. Pada 1926-1927, keduanya dalam ruang dan masa berbeda “sepakat”: akan ada perang di kawasan Asia Pasifik. “Sepakat” di sini bukan berarti mereka duduk bareng, menganalisis lalu berkesimpulan sama. Hatta waktu itu tengah menempuh studi di Belanda, seraya mendalami gagasan sosialisme. Adapun Soekarno, sosok yang waktu itu juga bukan kawan apalagi karib, tengah bergelut dalam alam pergerakan di Bandung; juga sebagai mahasiswa.
Akan tetapi, pikiran dan naluri mereka bekerja dan menghasilkan kesimpulan yang sama. Akan ada peperangan besar, dan negerinya bakal kena imbas. Dan dari imbas itulah nantinya harus ada satu perubahan mahapenting yang tidak boleh dilewatkan: kemerdekaan. Maka, kesamaan berikutnya juga, yang lagi-lagi “tanpa janjian”, keduanya menghasilkan presentasi bagaimana memerdekakan negerinya.
Ada dua kata kunci yang membuat keduanya berbeda. “Indonesia” dan “merdeka”. Menjadi aneh bagi banyak anak bangsanya ketika kolonialisme masih mencengkeram tanpa ampun. Apalagi Soekarno ketika itu baru saja divonis bersalah dalam peradilan di Bandung.

Hatta menulis lebih dulu: Ke Arah Indonesia Merdeka, sekitar 20 halaman banyaknya. Waktu itu ia baru saja sampai ke Hindia Belanda. Sjahrir yang memintanya menulis risalah penting dan berani itu. Satu uraian memimpikan negerinya yang sebenarnya asas dan tujuan partainya: Partai Pendidikan Nasional Indonesia atau biasa disingkat PNI Baroe. PNI ini berbeda dengan PNI era Soekarno masih menghirup udara bebas. Gegara penahanan Soekarno itulah, sebagian koleganya memilih membubarkan partai. Satu sikap yang mengecewakan Hatta dan Sjahrir yang akhirnya memisah dengan membentuk partai baru.

Di lain pihak, Soekarno sendiri, tanpa ada motivasi berkait dengan tulisan Hatta, juga menyusul tulisan bernada menantang: Mentjapai Indonesia Merdeka. Di buku Dibawah Bendera Revolusi kita bisa dapati sajian ulang tulisan Soekarno muda ini sebanyak 70-an halaman. Isinya uraian geopolitik, analisis sosio-ekonomi, falsafah sejarah, hingga logika massa aksi mengapa Indonesia niscaya merdeka. Buat saya pribadi, inilah tulisan terbaik dan paling “membakar” secara rasional dari seorang Soekarno.
Dan entah apakah dengan tulisan susulan setelah anggitan karya Hatta bagi PNI Baroe, Soekarno semacam membuat jawaban atas bidasan eks koleganya semasa di PNI lawas itu. Waktu itu Hatta masih di Belanda, dan dia mengamati apa yang terjadi di PNI berikut fenomena naratornya: Soekarno. Di Daulat Ra’jat, media kelompok Hatta-Sjahrir, Hatta ditampilkan membidas Soekarno begini pada 1931, “Soekarno mempunyai kontak yang terlalu sedikit dengan rakyat, dan hanya mengumpulkan tepuk tangan dalam rapat-rapat. Padahal, rakyat harus sepenuhnya diresapi oleh semangat… Dan tidak dapati dicapai dengan agitasi saja.”
Ke Arah Indonesia Merdeka, biasa disingkat KIM, juga punya hal istimewa. Semua anggota PNI Baroe, tulis dedengkot sosialis Indonesia Subadio Sastrosatomo, memiliki KIM. “Dan untuk memperdalam serta memahami isi KIM atas gagasan Sjahrir dibuatlah oleh seksi pendidikan Pimpinan Umum PNI (Baroe) pertanyaan-pertanyaan tertulis bertalian dengan isi KIM.”
“Jumlah pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah 150 buah… Setiap pengurus cabang diwajibkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada para anggota pada tiap-tiap kursus, dan oleh anggota harus dijawab dengan benar,” tambah Subadio dalam buku Mengenang Sjahrir (1980: xix).
Apa hebatnya KIM? Dengan menyaksamai 150 pertanyaan dalam metode ideologisasi, pihak intelijen Hindia Belanda berkesimpulan: Hatta-Sjahrir dengan PNI Baroe jauh lebih berbahaya dibandingkan Soekarno dan Partai Indonesia (Partindo). Isi risalah dan manifesto kelompok Hatta lebih menghunjam dan lugas. Bukan berarti karya Soekarno tidak berbahaya, cuma ideologisasi kelompok PNI Baroe lebih sistematis “memusatkan pemikiran kader”, dalam istilah Subadio.
Baik Ke Arah Indonesia Merdeka maupun Mentjapai Indonesia Merdeka, keduanya jadi sejarah. Sudah lama pikiran besar tidak mengisi dan membimbing masa depan bangsa gugusan kepulauan ini. Sampai kemudian ingatan dua politikus pengusung Soekarnoisme di atas tersentak sadar. Ada narator dan partai yang serupa kurun 1930-an: mengusung pikiran besar dengan terjangan gelombangnya bagi negeri ini.

Dalam konteks disentak kesadaran historis bawah sadar pada romantika karya besar guru partainya, dua politikus dari kalangan nasionalis-sekuler itu sadar. Sadar bahwa ada serupa Soekarno, juga Hatta kalau mereka insyafi, yang membawa pikiran melajukan negeri ini dalam aras momentum kebangkitan menuju satu abad Republik Indonesia.

Bila dulu ada Ke Arah Indonesia Merdeka, dan Mentjapai Indonesia Merdeka, maka mereka menyadari ada sesuatu yang patut disimak dari narasi-narasi bertajuk “Gelombang Ketiga Indonesia”. Tajuk ada, naratornya juga eksis: Anis Matta berikut Gelora. Sebuah fenomena “baru” yang rentan menginterupsi praksis dan perilaku politik di tanah air. Menjadi determinan bahkan kiblat pergerakan perpolitikan hari-hari ke depan. Suatu masa kesempatan terbuka untuk mendaur ulang pikiran besar manusia seperti Hatta dan Soekarno, tentu dalam kemasan zamannya, dalam menyiapkan satu perubahan besar dalam lanskap geopolitik kontemporer. Dan, tentu saja, bagaimana Indonesia terlibat aktif di dalamnya sebagai aktor; bukan objek penindasan sebagaimana masih berlaku hari ini.

Sebuah mimpi, cita-cita, bahkan utopia, itu ada pada Gelora. Naratornya juga ada. Nah, tinggal bagaimana narasi itu—Indonesia menjadi kekuatan 5 besar dunia (walaupun tanpa eksplisit kata “merdeka” tapi implisit memisikan itu)—dipahamkan jadi inspirasi hingga spirit pergerakan berkebangsaan. Dalam bahasa lugas kalangan sosialis: “memusatkan pemikiran kader” ke utopia Indonesia sebagai 5 besar kekuatan dunia. []

Penulis: Yusuf Maulana, Bidang Literasi & Narasi
DPN Partai GELORA Indonesia

THE JOURNEY

Dalam perjalanan berdirinya Partai Gelora Indonesia Saya membaginya menjadi 6 momentum atau 6 fase yang menjadi sisi-sisi emosional dalam jiwa para pendirinya.

Fase Pertama, Saya menyebutnya dengan Fase Kepercayaan Diri, karena fase ini adalah momentum dimana Anis Matta pada tanggal 3 Februari 2018 di event acara Mukernas KAKAMMI melangkah dengan percaya diri menyampaikan ide dan narasinya tentang Arah Baru Indonesia. Di tanggal ini lah sosialisasi narasi Arah Baru Indonesia dimulai. Ditengah hiruk-pikuk menjelang Pemilu 2019 dan konflik di internal PKS saat itu Anis Matta melangkah lebih jauh keluar dari mainstream pusaran persoalan, dia menawarkan Arah Baru untuk Indonesia.

Buku Gelombang Ketiga Indonesia menjadi referensi ide dan gagasan untuk memberi Arah Baru bagi Indonesia. Menjadikan Indonesia sebagai kekuatan 5 besar dunia menjadi cita-cita dari narasi Arah Baru Indonesia. Banyak orang yang ragu dengan cita-cita ini, dianggap mimpi atau utopia, tapi Anis Matta menjawab dengan santuy; “Semua kenyataan hari ini adalah hasil imajinasi hari kemarin, sebelum sesuatu terwujud, maka wujudkan dulu dalam imajinasi”. Teriakan merdeka para pejuang dan pahlawan Indonesia puluhan tahun jauh sebelum proklamasi kemerdekaan itu mungkin sebuah mimpi atau utopia saat itu, tapi imajinasi para pejuang dan pahlawan itu akhirnya menjadi kenyataan pada 17 Agustus 1945.

Fase percaya diri ini ditandai juga dengan lahirnya Ormas GARBI; Gerakan Arah Baru Indonesia yang berfungsi sebagai mesin sosialisasi narasi Arah Baru Indonesia. Anis Matta, Fahri Hamzah dan tokoh arah baru lainnya berkeliling Indonesia untuk menyampaikan ide dan gagasan tentang Arah Baru Indonesia. Sambutan publik meluas, narasi Arah Baru Indonesia mulai menjadi perbincangan publik, jaringan GARBI dalam waktu 2 bulan sudah mencapai lebih dari 20 provinsi. Acara-acara deklarasi semarak dan kreatif dengan ide-ide baru serta gaya komunikasi yang juga baru. Pada fase ini, peran KAKAMMI yang dipimpin oleh Fahri Hamzah dan GARBI sangat signifikan untuk meneguhkan kepercayaan diri untuk melangkah.

Fase Kedua, Saya menyebutnya dengan Fase Ketidakpastian, dimana langkah keragu-raguan mulai mengiringi langkah kepercayaan diri, ini adalah fase kritis, fase dimana perjalanan dilanjutkan atau tidak. Fase ini adalah fase dimana kepercayaan diri bertemu dengan realitas lapangan dan ekspektasi publik. Apakah narasi Arah Baru Indonesia beserta gerakannya kemudian mampu menjelma menjadi sebuah entitas politik baru berbentuk partai? Pergulatan pemikiran dan diskusi terjadi, keraguan publik mulai dirasakan, realitas lapangan mulai memberikan kesadaran, bahwa ini butuh kerja keras dan butuh determinasi. Apakah sambutan publik sekedar euphoria, apakah deklarasi-deklarasi itu fenomena permukaan? Ketidakpastian terjadi. Dalam fase ini, Anis Matta sebagai “leader Arah Baru” menulis pesan yang sangat emosional dan mendalam. Saya posting ulang pesan Anis Matta di fase ini, karena ini bagian dari sejarah yang melibatkan emosi dalam menentukan pilihan-pilihan keputusan saat itu;

Dalam jenak-jenak begini, kita teguhkan hati kita..

Pastikan kembali bahwa awal dan akhir dari semua ini adalah Allah Subhana wa Ta’ala, bahwa kejujuran kepada-Nyalah yang mendorong kita melangkah di jalan ini… Bahwa kita akan terus berijtihad untuk melakukan jihad terbaik dengan ilham dari Allah Subhana wa Ta’ala…

Bahwa kita mungkin salah, tapi keikhlasan, kejujuran dan ijtihad akan menjadi sebab bagi Allah mengilhami kita melangkah serta mengurangi bahkan menghilangkan efek dari kesalahan kita…

Bahwa tidak ada penyesalan, tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan sedikitpun yang menyertai langkah kita…

Karena awal dan akhir dari semua ini adalah Allah… Karena kita melangkah setelah istikharah..

Pada mulanya yang kita lakukan adalah membuat peta jalan kita sendiri menuju Allah..lalu kita buat peta jalan menuju negara sebagai bagian dari peta jalan kita menuju Allah..

Jika kita percaya Allah yang kita tuju maka tidak ada alasan bagi kita untuk khawatir dengan semua upaya pembunuhan karakter di sepanjang jalan itu..perhatikan pesan Allah kepada orang² beriman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِندَ اللَّهِ وَجِيهًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (Al Ahzab : 69)

Menjadi terpandang di mata Allah bukan di mata manusia itulah yg kita cari
الوجاهة عند الله

Cinta dan benci manusia kepada kita adalah cara Allah mengajarkan kita sebuah makna bahwa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan hati manusia..dan karenanya berusaha menemukan ridho kita pada diri sendiri dari ridho manusia kepada kita adalah kesia-siaan yg besar

Tersenyumlah pada semua yang berusaha membunuh karaktermu..karena di peta jalanmu menuju Allah itu hanya kekerdilan yang tidak akan pernah bisa mencegah ruhmu terbang ke angkasa..

Begitu ruhmu terbang tinggi ke angkasa niscaya akan kau saksikan betapa kecilnya bumi manusia ini..apalagi manusia yang menghuninya..

Teruslah mengepakkan sayap amalmu..tahta dan harta hanyalah batu tasbih yang akan kau genggam sambil menyebut nama Allah dalam setiap langkahmu meraih ridha-Nya

Keikhlasan dan kejujuran bukanlah sebuah pernyataan sikap, tapi adalah getaran yang menandakan bahwa dalam setiap amalmu ada signal yg menghubungkan dunia dan akhiratmu…

Hakikat dari semua yg kita kerjakan adalah melukis panorama akhirat di atas kanvas dunia

_تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ*

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Qoshos :83)

Pesan Anis Matta inilah yang mengakhiri keragu-raguan dan ketidak-pastian, walaupun semua butuh proses dan perjuangan, Tidak sedikit yang berguguran tidak yakin untuk melanjutkan perjalanan dan akhirnya pulang. Tapi ini adalah perjalan ide dan misi, bukan perjalanan satu atau dua orang. Orang bisa mati tapi ide dan misi akan terus ada dan tumbuh. Setelah melalui fase ketidakpastian, maka berlanjut masuk fase ketiga yaitu fase kontemplasi dan imajinasi…

Fase Ketiga, Saya menyebutnya Fase Kontemplasi dan Imajinasi, karena di fase ini kebesaran jiwa dan ketajaman memprediksi masa depan menjadi hal yang menentukan. Fase ini adalah fase dimana semua opsi dan langkah dihitung, peta jalan dibuat. Narasi diperdalam, lapangan di jajaki, infrastruktur organisasi dibangun, jaringan diperluas dan keyakinan diperkuat. Ini adalah fase krusial, fase yang menentukan. Manifesto partai mulai disusun, model organisasi di desain, teritorial dipetakan, sumber daya manusia di konsolidasi, branding dibuat, dan AD/ART disusun. Semua bekerja dalam sunyi, tidak banyak hirup-pikuk. Keraguan dan pembunuhan karakter terus dihembuskan untuk menghadang langkah, namun semua tak bisa dibendung, bagi kami ini kerja untuk rakyat dan bangsa, kerja untuk peradaban.

Di fase ini kontemplasi dilakukan terus-menerus, ide dan gagasan di elaborasi mendalam, imajinasi untuk partai dan Indonesia lebih baik terus di diskusikan dan diformulasikan. Aspirasi dan ekspektasi publik terus di dengar dan direkam, sebagai alat baca situasi dalam menentukan langkah-langkah strategis partai ke depan. Fase ini adalah fase dimana sebagian besar formulasi akan lahirnya Partai Gelora Indonesia didesain. Dan akhir dari fase ini adalah ketika Anis Matta mengajak kita untuk membaca doa;

بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Surat Hud 41.

Ini adalah doa Nabi Nuh AS ketika akan menaiki bahtera yang akan menyelamatkan ummatnya dari banjir besar pada saat itu. Dan ketika Anis Matta mengajak untuk bersama membaca doa ini, maka ini sebuah sinyal bahwa bahtera akan siap berlayar. Dan kita masuk fase selanjutnya, fase keempat, fase keberanian.

Fase Keempat; Saya menyebutnya dengan Fase Keberanian. Fase dimana semua resiko sudah di kalkulasi dan keberanian mengambil sikap dan keputusan. 28 Oktober 2019, fase keberanian ini dimulai dengan deklarasi Partai Gelombang Rakyat Indonesia;
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT, dan untuk menunaikan kewajiban sejarah, bangsa dan agama, serta diilhami oleh peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi penanda lahirnya kita sebagai bangsa dalam Gelombang Menjadi Indonesia, maka pada hari ini; Senin, tanggal 28 Oktober 2019, kami menyatakan berdirinya Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau disebut GELORA INDONESIA

Fase keberanian ini memulai babak baru, sekaligus sebuah tantangan baru. Mendirikan partai baru bukanlah sesuatu yang mudah. Membentuk struktur kepengurusan 100% di tingkat provinsi, minimal 75% di tingkat kabupaten/kota dan minimal 50% di tingkat kecamatan beserta persyaratan pendukung lainnya bukanlah hal mudah, apalagi semua itu akan diverifikasi faktual oleh negara melalui kementerian hukum dan ham. Ini kerja besar dan rumit, kerja administratif sekaligus kerja lapangan. Tetapi kesuksesan tidak akan tercapai tanpa keberanian, dan langkah berani ini sudah di ambil, tidak ada langkah mundur. Dan akhirnya Anis Matta menguatkan kembali keberanian ini dengan sebuah keyakinan, sampailah pada fase kelima, fase keyakinan.

Fase Kelima, Saya menyebutnya fase Keyakinan dan Determinasi. Karena fase ini adalah fase dimana keyakinan harus menyertai langkah memenuhi semua kelengkapan berdirinya partai. Sabtu 10 November 2019, Anis Matta menegaskan dalam pidato penandatanganan akta pendirian partai;

Ini semua adalah sebuah permulaan, dari sebuah fase baru dalam perjuangan kita setelah kita melalui tahun-tahun pergulatan dan ketidakpastian.. Akhirnya kita sampai pada hari yang ingin Saya sebut sebagai “Hari Keyakinan”

Selanjutnya Anis Matta menjelaskan indikator keyakinan:
“Orang-orang yang mampu melampaui hari-hari penuh keraguan dan ketidakpastian adalah orang-orang yang ikhlas.. punya determinasi.. dan sabar

Dan ditutup oleh Anis Matta dengan epik;
“Inilah Hari Keyakinan, hari di mana kita berkata kepada keraguan dan ketidakpastian: “Cukup sampai di sini!”.. dan kita akan memulai satu hari baru dalam hidup kita, dan mudah-mudahan dalam hidup bangsa kita, umat Islam, dan umat manusia.”
Hari ini adalah permulaan karena tantangan yang akan kita hadapi jauh lebih besar dari tantangan yang telah kita lewati bbrp tahun terakhir..

Fase keyakinan dan determinasi mengiringi hari-hari perjuangan memenuhi semua persyaratan pendirian Partai Gelora Indonesia. Kerja-kerja administratif dan kerja-kerja lapangan tak henti sebelum tuntas. Ini lah yang dimaksud Anis Matta “determinasi”; “Kalau ada mau…JADI!!!

Semua determinasi itu akhirnya sampailah pada fase keenam, fase berlayar.

Fase Keenam, Fase Berlayar. Fase ini adalah fase dimana pekerjaan mendirikan partai tuntas. 19 Mei 2020 atau bertepatan dengan 26 Ramadhan 1441H, surat keputusan Partai Gelombang Rakyat Indonesia sebagai partai politik resmi di Indonesia ditanda tangani oleh Menteri Hukum dan HAM, yang kemudian pada tanggal 2 Juni 2020, semua berkas faktual pengesahan sudah resmi diserahkan dari kemenkumham ke Partai Gelora Indonesia, maka sekarang kita memasuki fase berlayar. Bahtera Gelora Indonesia mulai berlayar mengarungi samudera luas bersama gelombang rakyat. Tapi ini adalah perjalanan panjang dan akan menghadapi badai. Dan dalam fase berlayar ini, Anis Matta memulainya dengan menjelaskan 3 fungsi lahirnya Partai Gelombang Rakyat Indonesia;

“Semoga kehadiran Gelora dapat menjadi (1) tempat agregasi aspirasi rakyat, (2) kaderisasi pemimpin bangsa, dan (3) sumber gagasan bagi kejayaan Indonesia.

Jakarta, 2 Juni 2020

By Irfanenjo