Partai GELORA : Mindset dan Mentalitas kader


Platform dasar Partai Gelora adalah partai yang terbuka, Partai yang benar benar terbuka bagi semua anak bangsa.

Mindset ini adalah mindset utama kader dan semua stakeholder Partai Gelora. Tanpa bisa ditawar tawar lagi.

Oleh sebab itu, semua kader dan stakeholder Partai Gelora diharapkan bisa kembali memperdalam pemahaman mereka soal soal Indonesia dan terutama soal soal sejarah Indonesia.

Semua stakeholder Partai Gelora diharapkan kembali menggali semua khazanah keindonesiaan kita untuk memperluas wawasan nasionalisme, kebangsaan, Islam dan demokrasi kita.

Mindset keterbukaan Partai bukan sekedar lips servis dan hanya pencitraan untuk kebutuhan pemilu. Kita harus sadar bahwa mindset keterbukaan adalah ruh utama dari turunan makna Pancasila soal soal kerjasama, kolaborasi dan gotong royong.

Apa yang harus kita lakukan adalah menggali lebih dalam soal soal pemahaman tentang ke Indonesia an kita. Tanpa harus malu mengakui bahwa kadang kita memang masih miskin tentang pemahaman itu semua.

Bekerjasama dengan semua pihak dalam rangka bahu membahu untuk menemukan satu misi besar kita dalam membangun Indonesia agar punya kekuatan di panggung dunia bukanlah hal yang mudah.

Tapi tanpa kerjasama yang apik dan saling bersinergi dengan semua elemen bangsa, maka cita cita besar itu akan semakin mustahil diraih.

Semua stakeholder Partai diharapkan mau introspeksi dan mau mengakui kekurangan kita soal soal keindonesiaan kita agar kita mau bergerak menutup kekurangan itu.

Minimnya jam terbang kita dalam politik, kurangnya bacaan kita, kurang luasnya pergaulan kita, lemahnya pemahaman kita soal soal politik nasional, sejarah, lanskap dst. Adalah wajar dan hanya membutuhkan kemauan untuk memperbaiki semua kekurangan semua itu.

Semua stakeholder Partai diharapkan tidak lagi punya warisan pemahaman konservatif dalam dalam bernegara di kepala Masing masing kita semua.

Idealisme keterbukaan Partai Gelora kembali ingin menegaskan bahwa kita bukan partai suci dan terbaik diantara yang ada. Kita hanya salah satu kekuatan yang ingin bekerjasama dalam membangun Indonesia yang semakin maju kedepan.

Idealisme keterbukaan di partai Gelora adalah mindset dimana semua ide ide dan gagasan konservatif dengan semua kutubnya agar bisa dikikis habis dan tidak mendapatkan tempat dalam mindset berpikir kita.

Pancasila dengan semua perangkat konstitusi negara adalah satu paket perangkat berpikir para kader dan stakeholder Partai Gelora. Tidak ada level diatasnya lagi termasuk fatwa fatwa personal dalam partai.

Pancasila dengan semua perangkat konstitusi negara Indonesia adalah paket wajib yang harus dipahami dan diamalkan oleh semua kader dan stakeholder Partai agar kita terhindar dari psikologi punya”masalah” dengan Indonesia.

Gagasan keterbukaan partai dalam bingkai Pancasila dengan semua perangkat konstitusi yang ada adalah mindset wajib yang harus dikuasi dengan baik di dalam partai, mulai dari pimpinan tertinggi sampai kader paling bawah di lapangan.

Bangunan Partai Gelora adalah yang sudah jelas di terangkan oleh banyak fungsionaris partai ini sebelumnya. Yang oleh ketua umum partai disingkat dengan Indeks. Islam, Nasionalisme, demokrasi, dan kesejahteraan.

Cara kita dalam beradaptasi dengan rumus indeks diatas pun perlu terus dilakukan improvisasi demi menghasilkan konsensus yang lebih konkrit dan lebih ril dalam kehidupan partai di tataran praxis sehari hari.

Semua gagasan keterbukaan di partai harus benar benar diresapi oleh semua stakeholder Partai agar kita terhindar dari pemahaman yang salah diluar itu sehingga para kader dan semua stakeholder tidak memiliki deferensiasi dengan kader dan stakeholder Partai lain.

Semua stakeholder Partai perlu terus memperkuat pemahaman tentang Narasi narasi kebangsaan kita secara utuh dan lengkap. Siapapun dia dan apapun jabatannya.

Karena PR paling besar semua partai politik adalah soal mindset dan Mentalitas, mindset yang lurus soal soal kebangsaan kita akan menciptakan mentalitas kader yang lurus yang paralel dengan cita cita besar Menuju kekuatan utama dunia.

Jangan sampai ada kader partai Gelora yang masih punya “masalah” dengan Indonesia. Jangan sampai ada kader partai Gelora yang masih punya jarak dengan Indonesia, dan masih punya pemahaman Yang salah soal soal narasi narasi besar bangsa kita.

Jangan sampai ada kader partai Gelora yang masih mewarisi mindset mindset politik lama yang tidak relevan, masih mewarisi mentalitas aktivis konservatif, dan masih berada pada kuadran yang berbeda dengan kuadran keindonesiaan kita.

Semua mindset dasar kita dalam ide ide keterbukaan Partai diharapkan akan mampu melahirkan kader kader yang lebih produktif dan fokus membangun jaringan dengan semua elemen anak bangsa dalam misi memperkuat Partai.

Kesemua narasi narasi keterbukaan kita diatas diharapkan mampu menanamkan mindset yang lurus dan sehat dalam internal partai. yang kesemua itu nanti akan bermuara pada ril power Partai dalam pemilu untuk mengubah peta politik Indonesia kita ke arah baru yang lebih baik.

(Tengku Zulkifli Usman)
Pengurus Harian Dewan Pimpinan Nasional Partai Gelora Indonesia.

PARTAI GELORA : Anis Matta & Pemikirannya.


Anis Matta adalah bukti ril seorang politisi muslim yang rapi dalam setiap langkah langkah politik nya.

Membentuk Partai Gelora dengan batu bata yang kokoh dan mampu bersabar dalam proses yang panjang.

Menolak cara cara instan dan memilih jalan yang banyak dipilih oleh para politisi muslim dunia yang lain semisal Erdogan di Turki dan beberapa teman teman lain di negara Asia.

Ketua umum partai Gelora ini adalah sosok pemikir sekaligus sosok politisi dengan jam terbang yang lebih dari cukup.

Sepengetahuan saya soal sosok sosok politisi dan pemikir di dunia Islam. Anis adalah salah satu sosok besar yang punya posisi istimewa di jajaran negara Islam khususnya.

Pemikiran Anis Matta yang saya kenal dari dekat justru memiliki karakteristik yang kadang berbeda dengan para pemikir muslim lain di dunia.

Anis Matta cenderung punya karakter moderat dan sangat fleksibel dalam Narasi narasi politik nya. Bahkan hal ini belum saya temui pada sosok sosok pemikir dan politisi lain di dunia Islam.

Tulisan ini juga bukan tulisan pertama saya tentang Anis Matta, tulisan ini mungkin adalah tulisan yang kesekian kali saya dalam menggambarkan sosok Anis Matta terutama dari sisi pemikiran nya.

Dalam beberapa buku Anis Matta yang memang saya secara official menjadi salah satu tim penelaahnya di Partai Gelora, Saya mendapati sisi sisi lain yang justru mengagetkan bagi saya.

Mengagetkan karena seorang Anis Matta punya cara pandang yang jauh berbeda dengan corak para politisi muslim lain yang saya singgung diatas.

Pandangan pandangan Anis Matta soal soal negara, demokrasi, Islam, nasionalisme, sekulerisme, inklusifitas, negara modern, Islam dan kemajemukan, Islam dan Pancasila, Islam dan nasionalisme, dst. Adalah unik dan langka di bahas secara mendalam oleh politisi muslim lain di dunia.

Pandangan Anis Matta sosal soal keberagaman Indonesia, mayoritas minoritas, muslim kultural dan muslim struktural, Islam politik dan Islam tradisional. Dst dst. Adalah sebuah pandangan yang sangat tepat dengan ke Indonesia an kita yang memang beragam.

Pandangan pandangan Anis Matta soal soal demokrasi yang cerderung moderat dan sangat terbuka misalkan. Hal ini masih terdengar asing di telinga orang awam bahkan di telinga aktivis Islam yang selama ini terlalu keenakan bertaqlid. dan karena itulah Anis Matta pernah dianggap sosok liberal.

Pandangan pandangan Anis Matta soal soal keanekaragaman Indonesia dalam bingkai Pancasila misalkan, membuat Anis Matta punya toleransi yang sangat tinggi dalam melihat perbedaan perbedaan di tengah tengah Indonesia. Yang karena itulah Anis memang lebih terlihat out of the box.

Anis Matta saat ini adalah satu satunya Ketua Umum Partai Politik yang punya pemahaman Islam cukup dalam dan cukup substansial. Jauh dari sikap sikap yang berlebihan yang pernah ditunjukkan oleh banyak politisi muslim lain dalam cara mereka melihat berbagai isu.

Belum ada Ketua Umum Partai Politik di Indonesia yang memiliki kekayaan berpikir yang begitu luas seperti yang Anis Matta miliki. Bahkan dengan teman temannya dulu, Anis Matta unggul jauh dari sisi manapun kita melihat jika kita punya kapasitas dalam menilai pemikiran seseorang tokoh.

Anis Matta bukan sekedar seorang ustadz fikih, bukan ustadz tafsir, bukan ustadz hadits. Anis Matta juga bukan sekedar guru bahasa Arab, bukan guru sejarah. Tapi Anis Matta adalah guru politik, guru soal soal peradaban, guru peta jalan, guru moderasi Islam, guru mindset, guru peta kebangkitan Islam, guru kebangkitan sebuah bangsa.dst dst.

Inilah diantara kelebihan kelebihan pemikiran Anis Matta baik sebagai individu maupun sebagai ketua umum partai, maka partai Gelora sangat beruntung punya Ketua Umum yang serba kaya ini.

Inilah diantara kelebihan kelebihan Anis Matta yang membuat Anis berbeda dengan yang lain. Tema tema yang menjadi pilihan Anis dalam setiap buku dan ceramah ceramah nya adalah tema tema yang tidak dikuasai dengan baik oleh kebanyakan politisi muslim lain di dunia Islam.

Memimpin sebuah partai politik modern dan terbuka di sebuah negara muslim terbesar di dunia seperti tipikal Indonesia adalah sebuah tantangan besar tersendiri bagi Anis Matta dan partai Gelora.

Sebagai individu, Anis Matta tentu juga punya kekurangan. Namun sebagai entitas politik baru seperti partai Gelora dengan semua stakeholder nya. Anis Matta adalah aset besar yang dimiliki partai ini bersama sosok sosok lain disamping Anis.

Sebagai sebuah partai modem dan terbuka, partai Gelora tentu juga membutuhkan lebih banyak pemikir pemikir hebat lain yang mampu berdiri di samping Anis Matta untuk memberikan masukan masukan yang membangun untuk membesarkan Partai.

Itulah mengapa kita memilih jalan kolaborasi, karena jalan ini akan menjamin setiap ide ide besar kita memiliki pendukung yang banyak dan luas kedepannya yang akan bersama sama dengan partai Gelora.

Karena satu atau dua puluh orang cerdas saja tidak akan mampu merubah Indonesia di panggung kekuasaan. Itulah mengapa kita membutuhkan kolaborasi semua pihak untuk mengeksekusi satu persatu gagasan gagasan Partai agar menjadi ril power kedepannya.

Tulisan ini bertujuan agar semua stakeholder partai Gelora dari pengurus, kader, dan semua stakeholder partai bisa lebih banyak menelaah pemikiran pemikiran partai Gelora dengan semua tokoh tokoh nya.

Agar kita paham dengan baik narasi narasi partai, mengenal lebih dekat tentang narasi narasi partai dalam melihat banyak isu isu berbangsa dan bernegara.

Agar kita bisa sejalan dalam melihat Indonesia, punya pandangan yang sama dalam mengomentari Indonesia, agar kita tidak terjebak pada kegaduhan dan kebisingan, serta tidak terjebak pada Narasi narasi ekstremitas haluan kiri dan kanan yang terus berdebat tanpa ujung.

Agar kita bisa memahami dengan lebih baik platform partai, cara berpikir partai, cara kerja Partai, dan cara cara pandang partai dalam misi mewujudkan Indonesia menjadi kekuatan utama dunia kedepan.

(Tengku Zulkifli Usman)
Pengurus Harian Dewan Pimpinan Nasional Partai Gelora Indonesia.

Partai Gelora : Antara Narasi dan Militansi


Militansi dalam partai politik memang dibutuhkan, namun jika diarahkan kepada arah yang salah justru bisa berakibat fatal.

Militansi adalah daya ungkit yang mengarah kepada daya kerja agar mencapai hasil yang maksimal. Tapi definisi sederhana ini jangan sampai salah ditafsirkan.

Partai Gelora memiliki Militansi yang kuat, memiliki kader kader dan para pengurus yang punya daya tahan luar biasa. Tapi militansi di partai Gelora jangan disamakan dengan Militansi di partai partai lain.

Partai Gelora saat ini memiliki banyak kader dan para pengurus juga simpatisan yang soal militansi nya tidak perlu diragukan. Justru karena potensi nya cukup besar sehingga kita butuh mengatur ulang definisi militansi di partai baru ini.

Partai Gelora bukan partai aliran kiri atau aliran kanan, sehingga jika ada yang ingin mengarahkan partai ini menuju salah satu kutub ekstrem ini adalah keliru.

Militansi di partai Gelora kita arahkan menuju peningkatan kerja kerja dan melipatgandakan karya karya dalam bingkai nasionalisme yang sebenar benarnya.

Militansi di partai Gelora kita arahkan agar menjadi energi besar yang bisa membuat partai ini meraih sebesar besarnya kekuasaan untuk menjadi instrumen kita dalam mengubah bangsa ini lebih baik lagi kedepannya.

Militansi yang kita ajarkan kepada semua stakeholder Partai Gelora bukanlah sikap heroik tanpa data, nyaring tapi kosong, kelihatan besar tapi rapuh, megalomania tapi sejatinya keropos.

Militansi di partai Gelora kita arahkan untuk menjadi bara api bagi semua kader dan semua stakeholder partai dalam kerja kerja besar untuk berkolaborasi dengan semua pihak untuk menemukan konsensus agar sama sama baik sebagai penerus estafet kepemimpinan nasional kelak.

Militansi di partai Gelora tidak untuk menyerang orang yang berbeda pandangan, tidak untuk menyerang partai lain, tidak untuk membahas isu isu sara, tidak untuk menjadi trigger pembelahan bangsa, tidak untuk saling bersaing dengan cara cara licik atas nama fanatisme Mazhab dan pemikiran. Tidak untuk semua itu.

Militansi di partai Gelora kita arahkan untuk persatuan, persamaan, sikap berani mengaku salah, sikap berani berkata benar, sikap menghormati demokrasi secara total, sikap berani mengakui orang lain jika orang lain lebih baik dari kita dalam berkontribusi kepada negara.

Militansi di partai Gelora bukan diarahkan untuk merasa menjadi paling baik, Bukan untuk mengatakan bahwa entitas kita paling bersih, paling hebat, paling suci dst.

Tapi untuk saling support sesama kader, saling support sesama pengurus, saling support sesama partai, saling menghormati sesama entitas politik lain apapun warna dan perbedaan pandangan mereka diluar sana.

Militansi di partai Gelora diarahkan agar semua kader partai bisa duduk sama rendah dengan semua pihak. Termasuk dengan rakyat di level paling bawah sekalipun.

Militansi di partai Gelora tidak untuk memperlebar perbedaan pendapat soal soal agama, nasionalisme, bukan untuk mempertajam perdebatan soal soal ideologi yang tidak relevan dan tidak untuk diskusi diskusi tema tema kecil yang tidak berpengaruh terhadap kemajuan bangsa kita.

Militansi di partai Gelora diarahkan agar semua kader partai memiliki semangat membangun bersama. Memiliki pemahaman bahwa roda bangsa ini berputar dan setiap kader partai harus mampu melihat masa depan bangsa yang jauh kedepan.

Militansi di partai Gelora tidak diarahkan agar kader partai ini menjadi ekslusif sendirian, menjadi entitas yang merasa asing dengan demokrasi dan setengah setengah melebur dengan Indonesia. Itu sejatinya adalah militansi yang menyesatkan.

Kita tidak punya masalah apapun dengan Indonesia, karena ini adalah tanah air kita bersama. Kita haruslah memiliki kecintaan yang begitu besar terhadap negara ini agar kita punya energi besar dalam bekerja memajukan nya apapun perbedaan yang ada diantara anak anak bangsa.

Sekali lagi, militansi di partai Gelora bertujuan untuk membentuk kader dan semua stakeholder partai agar terdepan dalam menjadi agen agen moderasi, agen agen modernisasi, agen agen perekat bangsa yang memiliki jiwa dan mental yang sehat.

Tujuan paling besar dari sikap militansi di partai Gelora adalah mengikis semua paham paham ekstrem dan radikal dalam bernegara dan berbangsa. Tidak terombang ambing oleh isu dan narasi kaum kanan atau kiri. Dst.

Tujuan terbesar kita dalam bingkai militansi dalam berpartai adalah menjadi contoh baru bagi generasi setelahnya sebagai ikon yang moderat, modern, bisa berkolaborasi, berkomunikasi, bernegosiasi,dan beradaptasi dengan semua kalangan lain.

Yang dengan itu semua, kita akan tetap menjadi entitas yang berbeda serta tetap bisa menjadi orisinil dalam peta jalan arah baru politik kita.

Tengku Zulkifli Usman.
(Pengurus Harian Dewan Pimpinan Nasional Partai Gelora Indonesia)

Merapikan Narasi Partai Gelora INDONESIA.


Salah satu syarat agar organisasi memiliki harapan menjadi besar adalah kerapian dalam bekerja.

Partai Gelora yang saat ini sudah memiliki struktur organisasi yang kokoh, kuat, dan rapi. Dan sedang terus berbenah.

Maka sudah saatnya sekarang partai Gelora menuju kerapian Narasi. Rapi dalam bersikap dan rapi dalam bertindak tanduk.

Untuk semua pengurus, kader dan semua stakeholder Partai Gelora, sudah tiba saatnya sekarang untuk merapikan narasi politik kita menuju sebuah brand yang kuat.

Kerapian Narasi adalah salah satu syarat agar partai memiliki brand positioning yang jelas dan kuat di masa yang akan datang.

Bagi semua pengurus, kader, dan semua stakeholder partai Gelora untuk terus menampilkan wajah partai yang ramah, elegan, dinamis, kolaboratif dan terus bersikap se terbuka mungkin Kepada semua khalayak.

Kerapian Narasi dalam bekerja adalah darurat saat kita menginginkan partai ini memiliki tempat di semua lapisan masyarakat kelak.

Sebagai partai modern, terbuka, dan mengusung prinsip prinsip demokrasi dalam bingkai nasionalisme, religius, gotong royong, dst.

Maka kita sebisa mungkin untuk terus fokus pada prinsip prinsip diatas dan tidak terjebak pada isu isu sektoral dan isu isu kecil yang tidak terlalu signifikan dalam mengubah keadaan.

Kerapian Narasi membantu kita untuk fokus menarasikan nilai nilai demokrasi universal yang pada akhirnya menghindarkan kita dari sikap reaksioner terhadap kegaduhan media.

Kerapian Narasi dalam bekerja akan membantu kita untuk terus berjalan pada rel yang telah ditetapkan Menuju partai yang mengutamakan isi daripada cover, substansi daripada seremoni.

Kerapian Narasi kita dalam menampilkan wajah partai modern Secara konsisten akan memberikan kita energi dalam merumuskan agenda agenda strategis untuk kemajuan dan kebesaran partai.

Partai Gelora dibentuk untuk menjadi kekuatan nyata yang ril dalam upaya mengubah Indonesia kedepan. Partai ini tidak di desain untuk menjadi sebuah kerumunan tanpa kekuatan yang ril.

Partai Gelora kita desain untuk menjadi partai terbuka dan kokoh dalam sikap demokratis dan hanya akan sibuk mengurus isu isu demokrasi universal tanpa mengedepankan sikap pembelahan bangsa.

Agar kita tidak terus terjebak pada permainan opini media, penggiringan narasi oleh berita berita dan kegaduhan untuk membuat kita tidak fokus pada tujuan utama berpartai.

Kerapian kita dalam menarasikan ide dan gagasan Partai Gelora dibutuhkan untuk mewujudkan kekuatan ril yang bermuara pada kemenangan partai Gelora pada pemilu pemilu mendatang.

Semua stakeholder partai Gelora agar aktif mengikuti narasi narasi resmi partai Gelora dan sebisa mungkin menjadikan itu sebagai acuan dalam bersikap dan bertindak di lapangan.

Kerumunan harus menjadi kekuatan. Itu adalah tekad kita dalam merealisasikan cita cita besar partai ini dalam mendorong Indonesia kuat dari dalam dan kokoh di pentas internasional.

Semua stakeholder partai Gelora secara terbuka bebas berkreasi dan bebas dalam berinovasi. Mengajak semua rakyat untuk terlibat dalam pembangunan bangsa ini secara bersama sama.

Partai Gelora bukan partai penguasa juga bukan partai oposisi. Partai Gelora adalah partai baru yang ingin menyusun kekuatan ril diluar arena kegaduhan yang tidak produktif Menuju kekuatan ril dalam kotak suara di pemilu pemilu mendatang.

Meskipun bukan bagian dari partai penguasa juga bukan bagian dari oposisi. Partai Gelora akan terus hadir dalam melakukan check and balances kepada pemerintah secara kritis, konstruktif dan substantif.

Partai Gelora dengan semua stakeholder nya akan terus mengupayakan budaya politik yang cerdas, santun, substansial, ril power, dan dengan kerapian dalam bekerja dan bertindak diwaktu waktu mendatang.

Tantangan bangsa kita akan semakin kompleks di kemudian hari, kita tidak bisa terus bertumpu pada konstelasi politik saat ini yang bersifat sementara.

View Partai Gelora harus jauh kedepan tentang semua rencana rencana memajukan Indonesia dan tidak terjebak pada kegaduhan kegaduhan opini hasil desain orang lain yang menginginkan Indonesia semakin terpuruk.

Semua stakeholder partai Gelora dari pusat sampai ke seluruh ranting partai seluruh Indonesia akan terus berupaya dan bekerja keras dengan kerapian dalam semua cara cara kerja kita.

Semua view view substansial kita tentang masalah masalah bangsa, harus terus kita sikapi dengan cerdas dalam melihat dan mengomentari isu isu penting secara selektif dan tidak ikut ikutan dalam pusaran opini publik.

Saya percaya, dengan kerapian Narasi dan konsistensi narasi kita dalam bekerja di semua level struktur partai, Maka tujuan utama agar partai Gelora menjadi besar, ril dalam kekuatan, bisa meraih dukungan dan kemenangan dalam pemilu adalah hanya soal waktu.

Dengan konsistensi dan kerapian kita dalam semua narasi narasi politik secara kontinyu dan direalisasikan di seluruh level pengurus partai dan stakeholder partai.

Maka suatu saat kita akan menemukan momentum dalam meraih kekuasaan sebesar besarnya untuk mengubah Indonesia menjadi kekuatan utama dunia.

Narrated By:
(Tengku Zulkifli Usman)
Pengurus Harian Dewan Pimpinan Nasional Partai Gelora Indonesia.

++++
Informasi bergabung dengan Partai Gelora:

  1. Hubungi kantor kantor Partai Gelora terdekat.
  2. Hubungi teman teman anda yang sudah bergabung ke partai Gelora.
  3. Via Medsos dan akun akun resmi Partai Gelora. Atau
  4. Download aplikasi Partai Gelora di play store, dan ikuti petunjuk cara bergabung ke partai Gelora.

Bangga Ku Menjadi Indonesia

Fahima I.

Siapa yang bisa meminta ingin lahir di mana. Menjadi warga negara apa. Tak ada satupun, kecuali kita semua telah ditakdirkan oleh Yang Kuasa tentang umur kita, jodoh, rizki, kehidupan dan kematian. Sudah tertulis di lauh mahfudzNya.

Termasuk menjadi bagian dari warga dan penduduk yang menghuni bumi Indonesia, adalah diantara anugrah itu. Kita yang berkulit berwarna, yang lebih dominan sawo matang, tentu bersyukur karena secara pigmen kulit kita rerata lebih eksotik dibandingkan para bule itu. Buktinya? Kita lihat di sepanjang pantai di Bali sana, para bule itu berjemur, semata agar kulitnya sedikit menghitam seperti kita. Ini baru satu contoh.

Bahwa kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah hal yang mesti kita promosikan. Di tengah carut marut pemimpin negeri +62 ini belepotan mengelola negeri.

Rasa bangga menjadi Indonesia setidaknya menjadi modal awal optimisme bahwa kita Indonesia masih bisa bangkit. Peluang memperbaiki negeri ini masih luas dan bisa kita perankan. Minimal untuk kemandirian kita, terkhusus dalam aspek ekonomi.

Menurut para pakar ekonomi, di tengah pendemi covid-19 yang belum kunjung usai ini, maka resesi ekonomi adalah keniscayaan yang akan dialami oleh semua negara yang terdampak. Negara yang super power dan hebat secara landasan ekonominya pun terseok dan terkapar. Pertumbuhan ekonominya minus. Indonesia? Pemerintah, yang diwakili kementerian ekonomi mencoba terus meyakinkan bahwa kita memang akan resesi, pertumbuhan ekonomi yang minus, tapi tidak perlu khawatir, kita mempunyai rakyat yang hebat. Kekuatan kehebatan itu justru ada di rakyat. Yakni tumbuhnya kemandirian ekonomi rakyat, UMKM yang terus menjamur, di tengah keterpurukan situasi yang mencemaskan banyak pihak. Hebat Indonesia kita. Hebat rakyatnya.

Ini baru satu tinjauan sisi ekonomi. Ada banyak hal yang membuat kita harus bangga menjadi Indonesia. Selain sumber daya alam yang “given” luar biasa kayanya, namun hanya dinikmati dan dikuasai 1% warga negara yang super kaya, juga ragam budaya, adat istiadat, ribuan suku dan ragam bahasa, adalah diantara kekayaan Indonesia.

Subur tanah dan alamnya, potensi pertanian yang mestinya digarap serius, namun nyatanya petani Indonesia adalah komunitas warga negara termiskin. Ini ironi tapi sekaligus menjadi cambuk, bahwa kita bisa memperbaikinya. Dua per tiga wilayah Indonesia adalah lautan, artinya sumber daya potensi perikanan kita luar biasa besarnya, namun dalam teknologi teramat jauh dibandingkan dengan negara jiran.

Tapi ku tetap bangga menjadi Indonesia. Setidaknya kita masih merasakan ketentraman dengan cara bersosial kita, guyub gotong royong yang masih menjiwai karakter bangsa ini, meski di tengah serbuan individualisme yang menyayat.

Kita mesti tetap bangga dengan Indonesia, yang beragam ras dan perbedaan agama, namun mampu tetap bersatu. Ribuan pulau yang terpisah, namun bisa disatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Meski ada yang sempat terpisah melalui referendum di tahun 1999, toh kini rakyat Timor Leste tidak lebih makmur dari bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, masih menjadi negara termiskin di kawasan Asia.

Tetaplah bangga menjadi Indonesia. Negeri mayoritas muslim terbesar di dunia, yang tetap rukun serta memegang toleransi yang tinggi dalam menghormati minoritas dalam beragama. Sebuah harmoni yang indah bernama Indonesia.

Dan tetap banggalah menjadi bagian dari bangsa besar Indonesia. Sebuah negara yang berazaskan Pancasila dan menganut demokrasi, meski sedang dalam belajar mempraktekkannya. Kita diberikan keleluasaan bersama untuk saling berkolaborasi membangun dan memperbaiki tata kelola, dengan partai politik salah satunya.

Dan aku tetap bangga menjadi Indonesia. Karena kulinernya yang kaya menggugah selera. Rendangnya yang kaya rempah, sate madura yang mak nyus, sop conro yang menggugah selera, serta sego pecel yang selalu bikin kangen. Dan semua itu tidak ditemui di negara selain Indonesia, kecuali warga negara Indonesia yang berbisnis kuliner di manca negara.

Banggalah menjadi Indonesia.
Merdeka……

MASYARAKAT BARU INDONESIA


By : Anis Matta

Ada perubahan yang sedang terjadi diam-diam di tengah semua kegaduhan politik hari ini yaitu perubahan komposisi demografi dan karakteristik masyarakat yang pada gilirannya nanti akan mempengaruhi lanskap politik pada Pemilu 2014.

Komposisi penduduk mulai condong ke usia muda, bahkan didominasi oleh penduduk berusia 45 tahun ke bawah. Proyeksi demografis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2014 ini angka usia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 65%. Penduduk berusia muda ini memiliki tingkat pendidikan dan penghasilan yang cukup tinggi. Tentu saja, Indonesia telah masuk ke ambang pendapatan per kapita USD3.000 sejak 2011. Karakter lain dari kelompok ini koneksi ke dunia luar melalui internet (well connected). Diperkirakan kurang-lebih 60 juta orang Indonesia terhubung dengan social media. Angka itu sama dengan hampir 25% dari penduduk Indonesia.

Native Democracy

Karakter lain yang khas di Indonesia dewasa ini adalah kelompok yang saya sebut sebagai “native democracy”. Mereka adalah generasi muda yang hanya merasakan demokrasi sejak dewasa. Mereka tumbuh remaja dengan menyaksikan pemilihan presiden langsung, iklan politik di media, dan kebebasan berpendapat hampir di mana saja. Mereka tidak memiliki referensi kehidupan dalam suasana otoriter Orde Baru, di mana pers dibungkam, partai politik dibonsai, serta pemilu yang semata menjadi “pesta” bagi penguasa, bukan pesta demokrasi yang sebenarnya.

Kelompok “native democracy” ini berbeda dengan “kakaknya” yang lahir pada awal Orde Baru (akhir 1960-an atau awal 1970- an) yang menyaksikan runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet ketika remaja. Sebagian dari anak sulung Orde Baru ini menjadi pelaku ketika gerakan Reformasi bergulir karena mereka sedang berada pada usia pemuda atau mahasiswa. Mereka merekam suasana otoriter masa lalu dan melihat situasi demokratis sekarang sebagai suatu pencapaian, sementara adiknya melihat kebebasan hari ini adalah sesuatu yang terberi (given).

Orientasi yang Berubah

Dari perjalanan sejarah, kita mencatat bahwa pencapaian terbesar para pendiri bangsa dan pemerintahan pascakemerdekaan di bawah Bung Karno adalah pembentukan konstitusi Indonesia sebagai negara-bangsamodern. Namun, paradigma “politik sebagai panglima” di era ini menyebabkan negara tidak punya perhatian dan kemampuan untuk melakukan pembangunan sosial dan ekonomi. Orde Baru yang datang sebagaiantitesisOrdeLamamenempatkan pembangunan ekonomi, dalam arti peraihan kesejahteraan material, sebagai fokus dan basis legitimasi.

Namun, karena stabilitas politik merupakan premis bagi pembangunan ekonomi, proses penguatan lembaga negara dilakukan dengan menjadikan militer sebagai “brain and backbone” negara, sementara kekuatan sipil terpinggirkan, khususnya partai politik. Era Reformasi mengalihkan perhatian kita dari politik dan ekonomi ke masyarakat (society). Yang terjadi selama 15 tahun belakangan ini adalah penguatan masyarakat sipil dengan empat pranata utama: kampus, media, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan partai politik.

Inilah yang kemudian menciptakan keseimbangan baru dalam hubungan antara negara, pasar dan masyarakat sipil. Bersamaan dengan beralihnya pusat perhatian kita pada society, yang berdampak pada penguatan masyarakat sipil, kita mendapatkan berkah dari Tuhan berupa “bonus demografi” di mana komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif. Rasio ketergantungan (dependency ratio) menurun karena orang tidak produktif (orang tua dan anakanak) yang harus ditanggung oleh penduduk produktif semakin kecil sampai titik tertentu.

Proyeksi demografis BPS menunjukkan bahwa dividen ini mencapai puncaknya pada 2020, ketika penduduk berusia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 70% dari populasi. Dampak paling besar akibat pergerakan dari politik ke ekonomi ke masyarakat ini adalah berubahnya tujuan pertanggungjawaban politik dan ekonomi. Di era ini masyarakat akan menjadi “panglima” bagi politik dan ekonomi. Karena itu, negara sebagai integrator bagi semua aktivitas politik dan pasar sebagai integrator bagi semua aktivitas ekonomi bukan hanya dituntut untuk lebih terbuka dan transparan, melainkan juga dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sosial.

Masyarakat menjadi faktor pembentuk nilai utama bagi negara dan pasar. Jargon era ini adalah: society first! Pertanyaan yang berkembang, apa orientasi hidup masyarakat baru ini? Ternyata jawabnya adalah kualitas hidup. Kesejahteraan adalah impian, tapi ia tak lagi sendiri. Kesejahteraan bergeser dari tujuan menjadi salah satu faktor pembentuk kualitas hidup. Itulah yang kita baca dari perubahan lanskap nilai dan moral masyarakat baru tersebut.

Di samping nilai-nilai lama yang masih kuat bertahan, yaitu agama dan gotong-royong, muncul nilai baru yang menyertai dan mengimbangi kedua nilai tersebut yaitu tendensi pada kekuasaan (power) dan prestasi (achievement). Agama memberi orientasi hidup, menjadi sumber moral sementara pengetahuan memberi mereka kapasitas dan sumber produktivitas. Kesejahteraan adalah output dari kedua hal tersebut yang berfungsi sebagai pembentuk kualitas hidup secara keseluruhan.

Implikasi

Implikasi dari lahirnya masyarakat baru ini adalah kebutuhan hadirnya representasi politik yang melampaui polarisasi politik lama. Cara pandang dikotomis Islam vs nasionalis— kemudian Islam masih dibelah lagi menjadi tradisionalis vs modernis—menjadi usang dan tidak relevan. Pada masyarakat baru ini, agama adalah identitas, bukan ideologi. Kehidupan mereka relatif lebih religius, tetapi tidak otomatis berkorelasi dengan pilihan-pilihan politis-ideologis.

Kita harus mencari ide tentang “the next Indonesia” yang benar-benar mewakili ruh zaman, mewakili orang-orang yang berumur di bawah 45 tahun. Karena itu, seperti sudah saya sampaikan dalam banyak kesempatan, Pemilu 2014 bukan hanya menjadi momentum politik demokrasi, berupa peralihan kekuasaan, melainkan momentum peralihan gelombang sejarah Indonesia. Partai politik harus menyiapkan strategi komunikasi baru karena nantinya hubungan antara pemerintah (yang merupakan hasil kontestasi pemilu) dan publik akan berlangsung pada kesepakatan tingkatan layanan (service level agreement) dari kedua pihak;

layanan apa yang diminta publik dan kewajiban apa (seperti partisipasi atau pajak) yang harus diserahkan publik untuk mendapat layanan itu. Partai politik harus menyiapkan dan menyampaikan draf kontrak layanan itu. Pada skala yang lebih besar, tugas negara bagi masyarakat baru tersebut adalah memfasilitasi masyarakat bertumbuh secara maksimal dengan semua potensi mereka. Fungsi fasilitator pertumbuhan sosial itulah yang akan mencegah terjadi ketegangan diametrak antara negara dan masyarakat sipil yang banyak terjadi di negaranegara demokrasi baru.

Semua berkah yang diberikan Tuhan itu, seperti sumber daya alam dan bonus demografi, hanya akan punya makna jika dikelola secara baik. Jika tidak, berkah itu akan hilang percuma dan kita kehilangan momentum untuk membuat lompatan menjadi negara yang sejahtera. Perubahan ini yang akan membuat Pemilu 2014 menjadi menarik dan menantang bagi partai politik. Mudah-mudahan lebih menarik dari Piala Dunia FIFA yang digelar di Brasil!

*Koran Sindo (Jumat, 20/12/2013)

Partai itu Bukan Tujuan

Membaca dokumen visi dan misi partai-partai yang ada di Indonesia, ada bagian yang menarik dari visi misi PDI Perjuangan. Salah satunya adalah statemen bahwa partai itu alat perjuangan untuk … atau guna …

Posisi partai sebagai alat, menurut saya memiliki setidaknya dua makna, yakni :

  1. Sebagai alat, partai digunakan untuk tujuan tertentu. Salah satu tujuan partai adalah merebut kekuasaan secara sah. Dalam hal ini melalui mekanisme demokrasi.

Meski ada sebagian orang yang memandang kekuasaan sebagai tujuan. Namun kekuasaan sendiri sebenarnya bukan tujuan akhir. Kekuasaan adalah juga alat, tentu saja alat perjuangab yang lebih besar dibanding partai. Kalaulah tujuan, kekuasaan hanya tujuan antara untuk mewujudkan tujuan yang lebih besar. Misalnya saja membawa Indonesia menjadi kekuatan lima besar dunia.

Di sini, kita sebenarnya sudah mulai bisa membedakan tiap-tiap partai. Adakah tujuan yang lebih besar ketimbang kekuasaan. Atau pertanyaan, ketika partai anu berkuasa apa yang akan terjadi?

Karena sampai titik untuk merebut kekuasaan, semua partai itu sama saja. Setahu saya semua partai ingin berkuasa. Meskipun ada yang malu-malu, kemudian menghaluskan dengan istilah lain.

  1. Karena partai itu alat, maka siapapun yang bergabung dengan sebuah partai sudah semestinya memiliki set mental dan niat untuk menggunakan alat. Bukan sekedar mendapatkan alat. Ya buat apa pegang alat, kalau tidak digunakan.

Apapun niat atau tujuannya. Tentu saja tidak bisa disamakan. Dan memang tidak harus sama tiap-tiap orang. Bahkan mungkin motif atau tujuan yang sangat pribadi sekalipun, boleh saja. Tapi ya tadi, partai itu hanya alat untuk mencapai tujuan tertentu.

Jadi, kurang tepat saat seseorang bergabung dengan sebuah partai kemudian memulai dengan pertanyaan : “Kalau bergabung, saya dapat apa?” Karena partai adalah alat.

Setidak-tidaknya pertanyaan yang agak tepat adalah : ” Kalau saya punya rencana begini-begini, apakah bisa dilakukan dengan partai ini?”

Oleh karenanya, justru ruang yang cukup untuk mengakomodasi motif tiap orang yang berbeda-beda untuk bergabung, itulah kata kunci sebuah partai akan punya peluang menjadi besar atau tidak. Itulah kira-kira makna partai menjadi permadani atau karpet yang nyaman untuk setiap orang duduk di atasnya.

Isi kepala yang berbeda. Motif pribadi yang berbeda. Latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Dan sekian banyak perbedaan lain, berhimpun menjadi satu.

Meski mengakomodasi semua perbedaan personal, namun sebagai sebuah institusi, tentu saja di dalam partai perlu ada arah yang sama. Agar apapun motif setiap personal yang ada di dalam partai, tetap saja memiliki arah gerak yang sama. Menjadikan partai dinamis dan terarah.

Sekali lagi partai itu hanya alat, bukan tujuan. Ojok nemen-nemen lah…

GelorakanIndonesia🇮🇩

IndonesiaKekuatanLimaBesarDunia🇮🇩

Setia Jogja

Assalamualaikum

Hello sweethearts, how are you?
It’s been really long since I’ve updated my blog but I thought I should start to upload articles more regular again.
What are your thoughts about it? Are you guys still reading a blog? Or do you prefer Instagram, YouTube or any other social media accounts?
I actually still enjoy reading blogs even though I know it gets less and less because YouTube and
Instagram are really strong!

Anis Matta, Ustad yang bangun Partai Berazas Pancasila, Kenapa ?

Oleh : Arka Wong Ndeso

(terimakasih yang baca sampai akhir)

Anis Matta adalah seorang ustad dengan pengetahuan yang luas. Jika mendengar tausiahnya, kita akan terpana dengan uraian sirah yang dalam, disertai tinjauan ilmiah dari ayat-ayat quran menjadikan apa yang beliau sampaikan begitu renyah.

Mungkin publik bertanya, kenapa Anis Matta justru membentuk Partai Gelora Indonesia, dimana partai baru ini malah memilih berazaskan Pancasila dan bukan berazaskan Islam. Kenapa tidak membentuk partai berbasis Agama seperti partai yang pernah ia naungi hampir 20 tahun.

Inilah pilihan politik beliau yang saya nilai brilian dan sangat terbuka dengan kondisi perubahan baru. Ini juga membuktikan beliau sangat open dan jauh dari kekakuan pemikiran yang memang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari solusi persoalan kebangsaan yang terus berkembang.

Kenapa brilian, karena dengan berazaskan Pancasila, menurut saya paling tidak ada 3 peran dan positioning yang bisa dilakukan Partai Gelora yang tidak akan bisa dilakukan oleh partai lain.

Yang pertama adalah peran konsolidasi ideologis dan persatuan keumatan

Ustad Anis Matta yang memiliki basis keumatan karena beliau punya kemampuan komunikasi keumatan, akan mampu menjadi jembatan konsolidasi ideologis yang selama ini masih menjadi konflik yang tak kunjung satu. Ada jurang pemisah antara kaum agamis dengan kaum nasionalis yang seharusnya itu tidak perlu.

Apalagi sejak momentum kontestasi politik beberapa tahun ini, ada benturan keras yang cukup mengkhawatirkan, seakan-akan kekuatan Islam bertarung, bermusuhan dengan kekuatan Nasionalis yang sering disebut kaum abangan. Apakah memang keterbelahan ini perlu dipertahankan.

Partai Gelora punya potioning yang tepat, memberikan contoh kepada bangsa ini, bahwa keyakinan keimanan, ideologi agama tidak berbenturan dengan nasionalisme.

Seorang Ustad mampu memimpin Partai Nasionalis berazas Pancasila adalah pesan, bahwa Agama tidaklah berbentur dengan Nasionalisme tanpi justru menguatkan. Dan saya kira sejarah bangsa ini telah mengajarkan itu. Dengan ini Partai Gelora akan mampu menjadi aktor persatuan keumatan.

Yang kedua Partai Gelora Indonesia menjadi aktor rekonsiliasi dan membangun kolaborasi anak bangsa

Kita lihat bersama kegaduhan disosial media dimana tidak lagi nilai dan kebangsaan yang diperjuangkan, namun justru keterbelahan identitas yang saya kira sangat berbahaya. Ada cebong, kampret, dan sekarang ada sebutan kadrun, ini sangat tidak sehat dalam konsolidasi kebangsaan.

Lagi-lagi Partai Gelora punya positioning dan peran yang bagus. Partai Gelora bisa menjadi perekat keduanya dalam satu kesatuan, melakukan konsiliasi kebangsaan. Akan sangat berbeda jika Gelora berazaskan Islam, maka langsung Partai Gelora akan masuk kedalam kotak kadrun.

Dengan berazaskan Pancasila, Nasionalis, Partai Gelora mampu untuk menjalin rekonsiliasi dikeduanya, memberikan alternatif jalan baru yang menjadikan munculnya titik temu baru dalam satu gagasan.

Apalagi Partai Gelora memilik gagasan yang cukup kuat, yaitu Arah Baru Indonesia, menuju negara 5 besar Dunia. Gagasan ini akan mudah dicerna oleh kaum agamis karena disampaikan secara apik oleh seorang Ustad dengan spirit Agama, namun tidak diragukan juga Nasionalismenya oleh kaum nasionalis karena Partainya berazaskan Pancasila.

Yang ketiga Partai Gelora mampu memperkuat lahirnya Demokrasi Modern

Tidak perlu kita diskusikan, mayoritas partai adalah feodal, dimana Partai dipegang absolut oleh satu dan dua orang. Tidak perlu saya sebutkan karena itu kasat mata terlihat.

Saya kira pilihan Partai Gelora berazaskan Pancasila akan memberikan contoh bagaimana sebuah partai dapat dibangun dengan sistem yang modern dengan landasan pilar kebangsaan.
Partai yang egaliter dimana ide dan gagasan dibiarkan menyamai subur.

Demokrasi sudah sebagai pilihan politik bangsa ini, tapi ironisnya demokrasi justru tidak ada di Partai-partai yang justru cenderung feodal. Apa kata Ketua umum menjadi sabda yang tunggal. Kita menolak Totaliter, tapi justru totaliter ada didalam Partai.

Gelora tidak memilih menjadi Partai agama. Partai Agama cenderung menjual identitas yang justru membuat bangsa semakin terbelah. Agama hanya untuk memperkuat positioning politiknya yang seharusnya dalam demokrasi modern hal tersebut tidaklah tepat, yang perlu dibangun adalah memperkuat ide dan gagasan, memberikan solusi persoalan kebangsaan.

Gelora punya peluang bagus untuk mengkolaborasikan potensi yang ada didalamnya. Kekuatan keagamaan, keumatan dan juga kekuatan Nasionalisme sekaligus. Jika 3 peran ini dilakukan, Gelora punya peluang untuk menjadi Partai besar dan cita-cita mewujudkan Indonesia menjadi negara 5 besar dunia bukan hanya slogan dan mimpi saja.

Gen Z

[Fahima Indrawati]

Sejarah mencatat, sebuah perubahan selalu diawali oleh gegap kaum muda.

Mereka muda secara usia biologis, namun matang secara pemikiran. Dari Khalifah Sayyidina Ali Ra, Abdullah ibnu Abbas yang berusia 14th sudah diangkat menjadi mufti di era Khalifah Umar Ibn Khatthab Ra, Panglima Usamah yg berusia 18th, Thariq bin Ziyad, Muhammad Al Fatih di usia 22th. Ini diantara nama para muda pendahulu.

Para milenial di era kini, yang tahu betul tentang road map menempuh cita2nya, adalah mereka yang akan mewarisi zaman. Di bidang apapun, mereka berfokus pada kontribusi dan kemanfaatan.

Gen Z identik dengan keterbukaan, energi dan rasa ingin tahu yg tinggi, mereka yg openmind dan bersiap berlayar bersama dalam kolaborasi anak bangsa, terus berkiprah utk bangsanya, meski peran yang mereka mainkan dalam skala sekecil apapun, meraka kaum milenial yang paling bersiap menghadapi tantangan ketakpastian global.

Merekalah pemilik zaman yang mewarnai dan mewarisi estafeta peradaban. Gen Z adalah identik dengan peran perubahan.
Perubahan menuju Indonesia kekuatan 5 besar dunia. Dan partai Gelora bersiap kolaborasi bersama seluruh anak bangsa.