Kapasitas Pemimpin

Diluar negeri dan di negara negara maju,

Banyak kepala negara yang paham politik, dan pemimpin pemimpin yang memiliki kapasitas sebagai politisi.

Saya sering menonton debat profesor profesor di universitas universitas ternama dunia, dan yang menjadi lawan debat mereka bukan lah profesor atau akademisi. Tapi lawan debat mereka adalah Presiden, Perdana menteri, mantan Perdana Menteri. dst.

Di negara maju, banyak Presiden dan kepala negara memiliki kemampuan akademik yang tidak kalah dari akademisi dan para profesor. Maka mereka sering menjadi lawan debat para profesor ketika diadakan debat narasi di kampus kampus.

Ini perlu didorong di Indonesia, biar kita paham mana calon pemimpin yang memiliki isi kepala dan roadmap yang jelas soal soal pembangunan Indonesia. Bukan banyak gimmick.

Di Indonesia, masih terlalu banyak festivalisasi, entertainment, dan banyak drama yang muncul ketika pilpres yang tidak substansial.

Capres yang ngaku akademisi juga kadang gak paham masalah ril ketika diajak debat, apalagi capres gimmick petugas partai. Ini kebiasaan yang perlu dihapus di Indonesia.

Kita butuh para pemimpin partai politik yang siap bertarung sebagai calon kepala negara, dan dia datang dengan ide dan gagasan besar pembangunan Indonesia. Bahkan dia siap berdebat dengan para profesor ilmu politik seperti di negara negara maju.

Pemahaman peta masalah sangat penting, agar pemimpin negara begitu dia terpilih, dia paham cara mendorong Indonesia menjadi kekuatan dunia. Bukan justru dia yang diatur oleh partai politik yang mengusung dia karena dia boneka.

Partai Gelora punya ketua umum yang selain politisi juga seorang akademisi dan pemikir strategis bangsa. Itulah kenapa kita berjuang keras mendorong Ketua Umum menjadi capres suatu saat. Begitulah seharusnya.

Pak Anis Matta siap berdebat dengan para profesor dan para pakar politik di kampus kampus, untuk mempertahankan tesis arah baru Indonesia di depan ilmuwan.

Begitu seharusnya calon pemimpin, platform dan proposal nya teruji di ruang publik dan di lapangan. Jadi Presiden bukan urusan main main. Pemimpin tidak lahir ujug ujug tiba tiba dari telunjuk ketua umum partai yang mengangkat boneka nya.

Rute yang kita tempuh di Partai Gelora sudah on the track, menawarkan pikiran pikiran besar dan menawarkan calon presiden dengan otak besar kepada publik untuk diuji. Karena sosok ini akan memimpin Indonesia suatu saat.

Kalau semua partai politik membudayakan seleksi calon presiden seperti ini, maka akan banyak lahir Ketua Umum Partai yang punya kapasitas level dunia bukan sosok sosok yang dibesarkan dengan kantong orang asing.

Platform Indonesia sebagai super power baru dunia akan kita raih manakala semua sistem bernegara ini kita tata kembali dengan baik. Agar pikiran selalu menang diatas gimmick dan manuver mubazir para politisi.

Salam Gelora!
Semangat Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *