Generasi Muda dan Politik

Kadang saya miris melihat generasi muda Indonesia.

Terutama anak anak muda yang memutuskan terlibat dalam politik.

Mereka takut menjelaskan diri mereka ke publik, takut menyampaikan ide ide mereka tentang politik, negara dst.

Ketakutan itu ada beberapa sebab, baik karena dia takut dipecat partai nya, takut kehilangan mata pencaharian nya, takut kehilangan komunitas nya dst.

Atau ada juga yang tidak berani menjelaskan narasinya yang original dalam berpolitik secara jelas. Karena takut ditinggalkan follower nya, takut dijauhi teman teman nya dst.

Padahal anak anak muda kita adalah masa depan nasib bangsa ini. Jika anak mudanya saja sudah punya mental begitu. Anda bayangkan nasib bangsa ini kedepannya.

Banyak yang mau bermain aman, tidak berani bersikap dengan ilmu yang dia miliki agar dia bisa berkontribusi secara langsung untuk pembangunan negara.

Mereka memilih diam, ikut arus, walaupun yang mereka ikuti jelas salah. Asal gak kehilangan pekerjaan, gak kehilangan kawan, atau gak kehilangan amplop ceramah jika dia aktivis partai Islam. Apakah generasi mental begini yang mau memimpin Indonesia kelak?

Kondisi seperti ini sangat memperhatikan, saat anak anak muda kita tidak berani berdaulat menentukan arah dirinya sendiri bahkan tidak mau dengan jelas mempersiapkan diri mereka memimpin Indonesia kelak.

Mereka serba takut, akhirnya mereka hanya ikut arus, ikut kemana mata angin berhembus. Menjadi petugas petugas partai yang membebek buta.

Akhirnya rakyat kita kebingungan dengan sosok mana yang mau mereka pilih kedepannya di panggung politik. Karena generasi kita tidak berani sejak awal bersikap dalam politik.

Bisa jadi kadang sebuah pemikiran kita saat ini tidak cocok dengan kalangan tertentu, tidak cocok dengan golongan tertentu. Tapi jika kita benar. Harusnya kita yakin akan selalu mendapatkan pendukung. Tidak sekarang, mungkin nanti.

Anak anak muda harusnya memiliki idealisme yang kuat, narasi yang lurus, sikap negarawan yang ditunjukkan sejak dini. Agar rakyat punya harapan.

Bisa jadi saat ini dianggap kontroversi, dianggap gak cocok dengan komunitas tertentu. Tapi jika kita benar benar berjuang sesuai dengan koridor demokrasi. Harusnya kita tidak takut kehilangan pendukung saat ini hanya karena kontelasi politik semata.

Anda bayangkan kalau anak anak muda kita sejak dini saja sudah bermental budak, mental yes man, mental petugas partai, mental mental feodal yang terus mencari aman demi uang receh?

Anda bayangkan kalau aktivis aktivis politik kita sudah begitu sejak masa mudanya. Main aman demi mempertahankan amplop tipis pemberian orang. Mau jadi apa generasi muda Indonesia kedepannya saat mereka memimpin.

Oleh sebab itu, saya sejak dini menempatkan diri saya sebagai anak muda, generasi penerus, dan saya menjaga kedaulatan berpikir dan bertindak saya. Tidak mau didikte siapapun dan tidak mau ikut arus kalau itu keliru. Apapun resikonya.

Saya tidak takut kehilangan teman, kehilangan komunitas, apalagi kehilangan mata pencaharian hidup. Karena saya gak pernah mencari makan lewat jalur itu, tidak pernah takut kehilangan honor atau amplop tausiyah recehan.

Saya juga tidak takut kehilangan follower, pengikut dst. Bahkan di medsos berkali kali saya usir siapapun yang merasa gak cocok dengan narasi demokrasi, hususnya yang hanya pengen debat kusir di wall saya.

Sikap saya cukup jelas sejak awal. Saya memperjuangkan demokrasi yang sehat, dan saya anti segala bentuk praktek kebodohan dalam politik, baik itu dilakukan oleh partai nasionalis maupun partai Islam sekalipun. Bagi saya bodoh itu gak mengenal warna dan bendera.

Sebagai generasi muda, saya sadar betul perjalanan masih jauh. Jadi lebih baik anak muda kita mempersiapkan diri dan memperkuat kapasitas, ketimbang harus terlibat buru buru dalam Politik hanya karena sekedar pengen punya komunitas, pengen punya teman ngobrol dst.

Tengku Zulkifli Usman✓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *