Keluarga Alumni KAMMI; Membangun Arah Baru Politik Indonesia

26 Agustus 2021
Mohammad Irfan
Ketua Bidang Politik KAKAMMI

Kammi yang dilahirkan 29 Maret 1998 lahir dari sebuah pergulatan pemikiran tentang Indonesia dan pengaruh kebangkitan Islam di dunia.

Ide awal Kammi yang termaktub dalam deklarasi Malang adalah di latar belakangi krisis yang terjadi di Indonesia 1998. Dari krisis inilah lahir Kammi sebagai upaya untuk melakukan perubahan dan perbaikan.

Kemudian Kammi tumbuh dari organ gerakan mahasiswa menjadi organisasi kemasyarakatan yang berbasis di kampus. Pada pertumbuhannya, Kammi menempa dirinya dengan berbagai macam pemikiran dan juga madzhab gerakan. Dari yang sangat filosofis sampai dengan yang pragmatis. Dinamika dan diakektika terbangun bersamaan dengan usia organisasi dan situasi kontemporer Indonesia.

Dari KAMMI ke KAKAMMI

Masuk ke usia 18 tahun, para alumni Kammi kemudian membentuk wadah Keluarga Alumni Kammi yang kemudian melakukan Kongres pertamanya 12-13 November 2016 di Jakarta dan memilih Fahri Hamzah sebagai Presiden KAKAMMI. Terpilihnya Fahri Hamzah sebagai Presiden KAKAMMI cukup menarik karena Fahri Hamzah adalah Ketua KAMMI pertama dan juga Ketua/Presiden Alumni KAMMI pertama.

KAKAMMI sangat berbeda dengan KAMMI, perbedaan mendasar adalah bahwa KAKAMMI bukan lagi aktivis kampus. Spektrum daya jangkau KAKAMMI lebih luas dari kampus. Fahri Hamzah pada saat dipilih memimpin KAKAMMI adalah Wakil Ketua DPR RI 2014-2019. Kemudian anggota KAKAMMI tersebar di semua lini dan sektor profesi; menjadi ASN, memimpin BUMD, anggota dewan, kepala daerah, pimpinan partai, pengusaha dan masih banyak lagi. Spektrum kontribusi KAKAMMI terhadap bangsa lebih luas dibanding KAMMI. Oleh sebab itu proses pengelolaan organisasi KAKAMMI dan bagaimana berkontribusi terhadap kepentingan bangsa lebih jangka panjang dan komprehensif.

28 Agustus 2021, KAKAMMI akan melaksanakan Kongres yang ke-2 secara online. Kongres pertama menurut saya adalah fase pendirian dan eksistensi. Dimana infrastruktur organisasi dibangun dan sumberdaya alumni di konsolidasi. Dalam kongres kedua ini nenurut saya KAKAMMI harus memberikan Arah Baru Politik Indonesia. Ada tiga hal yang menarik untuk di elaborasi oleh KAKAMMI ke depan dalan konribusinya kepada bangsa;

Pertama, Membangun Politik Gagasan.

Bangsa ini sudah terlalu lama berkutat pada konflik masa lalu dan mengalami pembelahan di masyarakat pasca Pilpres 2014. Hal ini sangat tidak produktif, apalagi di masa krisis seperti ini dimana bangsa ini butuh persatuan, sinergi dan kolaborasi. Bahkan Pilpres 2024 yang harusnya menjadi ajang pesta rakyat untuk memilih pemimpinnya dibayangi dengan pembelahan jilid-2 setelah Pilpres 2014 dan 2019. KAKAMMI harus masuk dalam politik gagasan yang menawarkan gagasan-gagasan cerdas dalam mengatasi persoalan-persoalan bangsa. Karena bangsa ini kurang gagasan-gagasan yang bisa menjadi inspirasi perubahan dan perbaikan Indonesia ke depan.

Dengan alumni yang tersebar di semua wilayah NKRI yang memiliki berbagai macam kompetensi dan profesi, KAKAMMI sangat punya potensi dan mampu memberikan gagasan-gagasan solusi dan peta jalan Indonesia ke depan. Dan ini menjadi agenda KAKAMMI ke depan.

Kedua, Membangun Politik Jaringan.

Era krisis pandemi saat ini, maka manusia semakin terkoneksi satu sama lain. Maka manusia kemudian membangun masyarakat terkoneksi, masyarakat jaringan. Teknologi, terutama teknologi informasi banyak merubah kebiasaan dan gaya hidup manusia terutama ketika pandemi, dimana menjadi faktor yang mempercepat perubahan. Begitu juga dalam aspek politik. Dominasi kekuasaan saat ini terdegradasi karena pandemi. Ketidaksiapan pemimpin di banyak negara dalam mengatasi pandemi telah memicu krisis politik, entah bagaimana di Indonesia?

Situasi sosial-politik makin tidak pasti, masyarakat sudah terlalu berlimpah informasi sehingga sulit lagi mencerna info benar atau hoax. KAKAMMI harus membangun politik jaringan dimana KAKAMMI mampu membangun koneksi dengan semua elemen bangsa kemudian berkomunikasi dan berkolaborasi untuk berkontribusi optimal demi kepentingan bangsa. Egoisme sektoral, egoisme kelompok dan egoisme golongan harus di reduksi dan dijembatani menjadi kekuatan bangsa, pembelahan di akhiri, jaringan kerja dibangun, itu agenda KAKAMMI ke depan.

Ketiga, Politik Jalan Keluar.

Ketika KAKAMMI mampu memadukan antara Politik Gagasan dan Politik Jaringan, maka KAKAMMI akan mampu membangun politik jalan keluar. Artinya kehadiran KAKAMMI menjadi salah satu inspirasi dalam menemukan solusi atau jalan keluar persolan bangsa.

Tiga hal ini kiranya bisa menjadi inspirasi KAKAMMI dalam menyusun agenda dan peta jalan organisasinya ke depan. Selamat berkongres!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *