Keluarga Alumni KAMMI; Membangun Arah Baru Politik Indonesia

26 Agustus 2021
Mohammad Irfan
Ketua Bidang Politik KAKAMMI

Kammi yang dilahirkan 29 Maret 1998 lahir dari sebuah pergulatan pemikiran tentang Indonesia dan pengaruh kebangkitan Islam di dunia.

Ide awal Kammi yang termaktub dalam deklarasi Malang adalah di latar belakangi krisis yang terjadi di Indonesia 1998. Dari krisis inilah lahir Kammi sebagai upaya untuk melakukan perubahan dan perbaikan.

Kemudian Kammi tumbuh dari organ gerakan mahasiswa menjadi organisasi kemasyarakatan yang berbasis di kampus. Pada pertumbuhannya, Kammi menempa dirinya dengan berbagai macam pemikiran dan juga madzhab gerakan. Dari yang sangat filosofis sampai dengan yang pragmatis. Dinamika dan diakektika terbangun bersamaan dengan usia organisasi dan situasi kontemporer Indonesia.

Dari KAMMI ke KAKAMMI

Masuk ke usia 18 tahun, para alumni Kammi kemudian membentuk wadah Keluarga Alumni Kammi yang kemudian melakukan Kongres pertamanya 12-13 November 2016 di Jakarta dan memilih Fahri Hamzah sebagai Presiden KAKAMMI. Terpilihnya Fahri Hamzah sebagai Presiden KAKAMMI cukup menarik karena Fahri Hamzah adalah Ketua KAMMI pertama dan juga Ketua/Presiden Alumni KAMMI pertama.

KAKAMMI sangat berbeda dengan KAMMI, perbedaan mendasar adalah bahwa KAKAMMI bukan lagi aktivis kampus. Spektrum daya jangkau KAKAMMI lebih luas dari kampus. Fahri Hamzah pada saat dipilih memimpin KAKAMMI adalah Wakil Ketua DPR RI 2014-2019. Kemudian anggota KAKAMMI tersebar di semua lini dan sektor profesi; menjadi ASN, memimpin BUMD, anggota dewan, kepala daerah, pimpinan partai, pengusaha dan masih banyak lagi. Spektrum kontribusi KAKAMMI terhadap bangsa lebih luas dibanding KAMMI. Oleh sebab itu proses pengelolaan organisasi KAKAMMI dan bagaimana berkontribusi terhadap kepentingan bangsa lebih jangka panjang dan komprehensif.

28 Agustus 2021, KAKAMMI akan melaksanakan Kongres yang ke-2 secara online. Kongres pertama menurut saya adalah fase pendirian dan eksistensi. Dimana infrastruktur organisasi dibangun dan sumberdaya alumni di konsolidasi. Dalam kongres kedua ini nenurut saya KAKAMMI harus memberikan Arah Baru Politik Indonesia. Ada tiga hal yang menarik untuk di elaborasi oleh KAKAMMI ke depan dalan konribusinya kepada bangsa;

Pertama, Membangun Politik Gagasan.

Bangsa ini sudah terlalu lama berkutat pada konflik masa lalu dan mengalami pembelahan di masyarakat pasca Pilpres 2014. Hal ini sangat tidak produktif, apalagi di masa krisis seperti ini dimana bangsa ini butuh persatuan, sinergi dan kolaborasi. Bahkan Pilpres 2024 yang harusnya menjadi ajang pesta rakyat untuk memilih pemimpinnya dibayangi dengan pembelahan jilid-2 setelah Pilpres 2014 dan 2019. KAKAMMI harus masuk dalam politik gagasan yang menawarkan gagasan-gagasan cerdas dalam mengatasi persoalan-persoalan bangsa. Karena bangsa ini kurang gagasan-gagasan yang bisa menjadi inspirasi perubahan dan perbaikan Indonesia ke depan.

Dengan alumni yang tersebar di semua wilayah NKRI yang memiliki berbagai macam kompetensi dan profesi, KAKAMMI sangat punya potensi dan mampu memberikan gagasan-gagasan solusi dan peta jalan Indonesia ke depan. Dan ini menjadi agenda KAKAMMI ke depan.

Kedua, Membangun Politik Jaringan.

Era krisis pandemi saat ini, maka manusia semakin terkoneksi satu sama lain. Maka manusia kemudian membangun masyarakat terkoneksi, masyarakat jaringan. Teknologi, terutama teknologi informasi banyak merubah kebiasaan dan gaya hidup manusia terutama ketika pandemi, dimana menjadi faktor yang mempercepat perubahan. Begitu juga dalam aspek politik. Dominasi kekuasaan saat ini terdegradasi karena pandemi. Ketidaksiapan pemimpin di banyak negara dalam mengatasi pandemi telah memicu krisis politik, entah bagaimana di Indonesia?

Situasi sosial-politik makin tidak pasti, masyarakat sudah terlalu berlimpah informasi sehingga sulit lagi mencerna info benar atau hoax. KAKAMMI harus membangun politik jaringan dimana KAKAMMI mampu membangun koneksi dengan semua elemen bangsa kemudian berkomunikasi dan berkolaborasi untuk berkontribusi optimal demi kepentingan bangsa. Egoisme sektoral, egoisme kelompok dan egoisme golongan harus di reduksi dan dijembatani menjadi kekuatan bangsa, pembelahan di akhiri, jaringan kerja dibangun, itu agenda KAKAMMI ke depan.

Ketiga, Politik Jalan Keluar.

Ketika KAKAMMI mampu memadukan antara Politik Gagasan dan Politik Jaringan, maka KAKAMMI akan mampu membangun politik jalan keluar. Artinya kehadiran KAKAMMI menjadi salah satu inspirasi dalam menemukan solusi atau jalan keluar persolan bangsa.

Tiga hal ini kiranya bisa menjadi inspirasi KAKAMMI dalam menyusun agenda dan peta jalan organisasinya ke depan. Selamat berkongres!

Geloranomics, Sebuah Ide Awal

23 Agustus 2021
@irfanenjo

Geloranomics secara implisit pernah disampaikan oleh Anis Matta dalam grup diskusi. Ide dasar Geloranomics menurut Anis Matta adalah “Pertumbuhan berorientasi keselamatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, berbasis teknologi dengan fokus ekonomi domestik.” Atau dalam diskusi dengan Rocky Gerung beberapa hari yang lalu disederhanakan menjadi dua kata kunci yaitu keadilan lingkungan dan keadilan sosial.

Ada lima kosa kata yang menjadi ide dasar dari Geloranomics jika kita mau bedah agak mendalam;

1. Pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan yang secara berkesinambungan menuju kondisi yang lebih baik dalam kondisi perekonomian suatu negara. Ekonomi suatu negara sendiri dapat dikatakan bertumbuh jika kegiatan ekonomi masyarakatnya berdampak langsung kepada kenaikan produksi barang dan jasanya.

Pertumbuhan ekonomi menggunakan 3 indikator. Ketiga indikator itu adalah pendapatan per-kapita dan peningkatan pendapatan nasional, jumlah pengangguran lebih kecil ketimbang jumlah tenaga kerjanya, dan menurunnya tingkat kemiskinan.

Analisa-analisa pertumbuhan ini bagian dari geloranomics, cuma perbedaannya adalah bahwa analisa-analisa ini berorientasi pada keselamatan lingkungan.

2. Berorientasi pada Keselamatan Lingkungan.

Dalam ulasan buku Limit to Growth (Club of Rome) yg diterbitkan tahun 1972 didapat salah satu kesimpulan bahwa jika trend pertumbuhan yang pada waktu itu terjadi terus berlanjut maka peradaban manusia akan memasuki kondisi ‘overshoot’, yaitu melampaui batas pertumbuhan yang sanggup diakomodasi oleh planet bumi yang terbatas. Kondisi ini bisa mengakibatkan penurunan drastis kapasitas industri dan populasi manusia. Atau dengan kata lain: bencana peradaban. Sumberdaya manusia terus bertumbuh, tetapi sumberdaya alam terbatas. Atau dalam istilah Anis Matta sumber utama pembahasan trend ekonomi ke depan adalah bumi dan manusia.

Pertumbuhan ekonomi yang berorientasi pada keselamatan lingkungan merupakan aspek pertama yang dikembangkan dalam ide awal geloranomics. Presiden Amerika Joe Biden dalam pidatonya beberapa waktu lalu me-mention Indonesia dalam issue keselamatan lingkungan ini;

Menurut Biden apabila pemanasan global terus terjadi maka bisa berdampak pada mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut naik.

Karenanya menurut dia tak menutup kemungkinan bisa saja 10 tahun mendatang Jakarta bisa saja tenggelam.

“Apa yang terjadi di Indonesia jika perkiraannya benar bahwa dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena akan tenggelam?” kata Biden.

Issue Jakarta tenggelam ini menemui relevansinya dengan data dari Ketua Laboratorium Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB yang menyampaikan ada 112 kota/kabupaten yang berpotensi tergenang.

Pertumbuhan ekonomi yang berorientasi laingkungan adalah langkah relevan menghadapi situasi ekonomi saat ini, ditambah situasi saat ini dimana pertumbuhan cenderung melambat karena pandemi. Bahkan dalam diskusinya Anis Matta menyampaikan bahwa jangan-jangan kita tidak memerlukan pertumbuhan untuk mempertahankan sumberdaya yang ada?

3. Pemberdayaan Masyarakat.

Selain berorientasi pada kesalamatan lingkungan, geloranomics juga berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan masyarakat berpengetahuan yang menghasilkan teknologi untuk mencapai kesejahteraan atau kemakmuran bersama. Ruang-ruang dibuka lebar kepada masyarakat dalam mengakses sumber-sumber ilmu pengetahuan, sumberdaya ekonomi dan juga akses teknologi, maka keadilan sosial untuk kemakmuran bersama akan terwujud.

4. Teknologi

Kesenjangan pertumbuhan sumberdaya manusia dan keterbatasan sumberdaya alam bisa di atasi dengan teknologi. Secara singkat, teknologi dapat diartikan sebagai penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis dalam kehidupan manusia. Teknologi berperan untuk efektifitas dan efisiensi dalam memanfaatkan semua sumberdaya yang ada. Geloranomics sejak awal menjadikan teknologi sebagai instrumen dalam mengatasi keterbatasan sumberdaya alam. Karena manusia memiliki ilmu pengetahuan yang terus berkembang sehingga manusia punya kemampuan mengelola sumberdaya alam secara efektif dan efisien.

5. Fokus Ekonomi Domestik

Geloranomics bertujuan untuk mencapai kemakmuran bersama. Kemakmuran bersama menuntut ketersediaan sumberdaya pangan bagi manusia dalam mempertahankan hidupnya. Anis Matta menyampaikan bahwa fokus ekonomi domestik adalah dimana kita memiliki cukup semua sumberdaya yang mampu membuat kita bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Dengan kata lain, fokus ekonomi domestik adalah mengoptimalisasi sumberdaya manusia, sumberdaya alam dan teknologi yang kita miliki sendiri demi kemakmuran bersama.

Lima ide awal ini kira-kira yang akan di eksplorasi lebih lanjut oleh para expert dalam merumuskan geloranomics agar lebih relevan dan lebih praktis dalam mewujudkan Indonesia sebagai lima kekuatan besar dunia.

Selamat Bergabung Duo Papua

Oleh Arka Atmaja

Duo Papua, Okto Maniani dan Titus Bonai mantan pemain Tim Nasional bergabung dengan Partai Gelora Indonesia. Saya sangat terkesan dengan bergabungnya kedua pemain bola ini, bukan karena ia publik figur, tapi dengan bergabungnya duo papua ini, paling tidak memberikan 3 pesan yang kuat dari Partai Gelora kepada masyarakat Indonesia.

Pesan pertama adalah pesan keterbukaan. Dengan bergabungnya Okto dan Bonai membuktikan Bahwa Partai ini benar-benar terbuka kepada generasi bangsa tanpa ada sekat-sekat suku, ras, atau bahkan agama. Seluruh rakyat Indonesia diterima dengan tangan terbuka bila ingin menjadi bagian dari perjuangan mewujudkan Indonesia 5 besar dunia. Keterbukaan ini juga dibuktikan dengan percepatan pertumbuhan rekrutmen yang pesat. Semua orang dari berbagai elemen dan latar belakang bisa bergabung dengan Gelora.

Pesan kedua adalah pesan keberagaman, meskipun Partai Gelora didirikan oleh tokoh yang berlatar belakang Islam, tapi Partai Gelora memilih tidak menjadi Partai Agama yang kaku, tetapi menjadi Partai yang berazaskan Pancasila. Maka keberagaman menjadi keyword utama dalam membangun partai. Partai Gelora harus beragam, menjadi miniatur kebangsaan sebagai sumber kolaborasi, menjahit keberagan menjadi potensi besar.

Pesan ketiga adalah pesan kolaborasi, Partai Gelora sangat menyadari bahwa membangun bangsa Indonesia yang begitu besar tidak akan bisa dilakukan sendiri namun dengan mengkolaborasikan seluruh potensi bangsa dari berbagai bidang dan latar belakang. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, banyak budaya, banyak bahasa, maka tidak akan mungkin bangsa ini bisa berdiri tanpa kolaborasi.

Residu Afganistan

Oleh: Anis Matta

  1. Di Dunia Islam, ada sambutan besar atas kemenangan Taliban dan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan. Dulu Mujahidin mengalahkan Uni Soviet. Sekarang Taliban mengusir AS seperti dulu bangsa Vietnam mengusir mereka.
  2. Tapi cerita keseluruhannya tidak akan sama dengan apa yang tampak di depan mata. Uni Soviet runtuh setelah kekalahan di Afghanistan. Invasi itu memang kesalahan staregis yang sangat fatal karena menyedot sumber daya dan mendemoralisasi spirit militer dan rakyat.
  3. Berbeda dengan imperialisme Eropa sebelumnya dimana negara penjajah menyedot sumberdaya negara jajahan, Uni Soviet justru menyebar sumberdayanya untuk mempertahakankan “integritas teritorial” negara-negara yang sudah diinvasinya. Kelak ini menjadi akar kesimpulan bahwa sistem komunisme tidak bisa bekerja secara efektif, karena tidak ada pertumbuhan kolektif yang bisa diredistribusi. Jadi wilayah teritori Uni Soviet sebagai imperium sangat luas tapi ukuran ekonominya sangat kecil. Mereka “berbagi kemiskinan dan opium”, bukan berbagi kesejahteraan.
  4. Kelak fakta dasar itu yg menjadi alasan China di bawah Deng Xiaoping beralih ke kapitalisme dengan mendefinisikan ulang sosialisme sebagai cara berbagi kesejahteraan, bukan berbagi kemiskinan.
  5. Tapi penarikan pasukan AS dari Afganistan (dan sebelumnya dari Irak serta mungkin setelahnya dari Syria dan Teluk) adalah “koreksi atas kesalahan strategis”. Sama persis dengan keterlibatan dalam Perang Vietnam (1955-1975). Itu perang yang sia-sia karena didorong eforia kemenangan pada Perang Dunia II. Bahkan Perang Korea juga bagian dari eforia itu. Tidak ada target spesifik yang mengharuskan mereka hadir di sana, termasuk ide melawan penyebaran komunisme.
  6. Itu perbedaan yang sangat fundamental. Lalu apa yg salah? Isu “perang melawan terorisme” adalah narasi yang gagal menciptakan “musuh bersama”. Ongkosnya terlalu besar, pengelolaan medianya buruk, Eropa sebagai sekutu utama tidak semangat untuk terlibat jauh. Citra AS sebagai pemimpin global makin terpuruk dan kehilangan kepercayaan dari sekutu Eropa.
  7. Dan yang lebih penting adalah bahwa narasi itu tidak menjawab masalah inti masyarakat AS yang jauh lebih rumit, yaitu persoalan ekonomi dalam negeri AS sendiri. Ketimpangan ekonomi, penciutan kelas menengah dan munculnya Kulit Putih Miskin, adalah ancaman laten yang berpotensi menciptakan revolusi sosial dan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ideologi sosialisme.
  8. Bush Senior kalah dalam pilpres 1992 melawan Clinton justru setelah memenangkan Perang Teluk 1991. Itu karena isu ekonomi. “It’s the economy, stupid!” adalah jargon paling efektif mewakili kebosanan generasi baru AS yang berada dalam tekanan Perang Dingin selama 45 tahun. Bush Senior yang mantan direktur CIA gagal membaca “public mood” generasi baru AS.
  9. Periode Bush Junior (2000-2008) juga ditutup dengan ledakan krisis finansial global tahun 2008. Itu mengantarkan kemenangan bagi Obama (2008-2016). Dan sejak itu ide perang melawan teror menjadi tidak relevan. Masalah ekonomi domestik menciptakan “polarisasi elite dan rakyat” sekaligus. Itu bisa jadi ancaman Perang Saudara seperti yang sebelumnya pernah mereka alami.
  10. Tapi Obama juga tidak bisa menyelesaikan masalah itu dalam dua periode kepresidenannya. Dan itulah yang memberi peluang bagi kemenangan Trump pada 2016. Obamacare tidak menyentuh isu ketimpangan ekonomi secara susbtansial. Ada terlalu banyak kontradiksi dalam sistem ekonomi neoliberal AS yang telah melahirkan residu sosial yang sangat berbahaya. Finansialisasi ekonomi, peralihan industri manufaktur ke luar AS khususnya Asia, sebagai contoh, telah mengubah bukan saja struktur ekonomi AS, tapi juga struktur sosialnya. Kelas menengah yang hampir 70% dan menjadi sebab stabilitas politik AS, menciut drastis dan muncul fenomena baru: Kelas Putih Miskin.
  11. Karena itu selama periode Bush (2000-2008), AS membuat Departemen Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security) sebagai antisipasi terhadap kemungkinan revolusi sosial yang tidak terkendali. Itu jelas berbeda dengan jargonnya melawan teroris. Karena isu ketimpangan itu riil, sementara isu terorisme itu abstrak.
  12. Tapi selama periode Obama (2008-2016) ada perubahan besar pada visi global AS. Musuh mereka bukan lagi teroris, tapi China dan Rusia. Terorisme adalah musuh imajiner yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Tapi China dan Rusia adalah musuh riil yang punya kekuatan ekonomi, teknologi dan militer berskala besar.
  13. Bisa dibilang sebenarnya Amerikalah yang membesarkan China dan kini menganggapnya sebagai masalah. Tapi China berbeda dengan Jepang dan Jerman yang dibangun AS setelah PD II. Kedua negara itu takluk dalam perang dan paling tidak dalam jangka waktu lama tidak akan memiliki ambisi imperial. China jelas memiliki ambisi imperial itu. China dipisahkan dari Uni Soviet lalu ditarik masuk ke dalam sistem kapitalisme. China menikmati investasi, teknologi, dan pasar AS dan Eropa sekaligus. Ada peralihan industri manufaktur dari AS ke China dalam skala sangat besar. Sekarang kelas menengah kulit putih AS kehilangan pekerjaan, tapi China justru menyaksikan pertumbuhan kelas menengah baru.
  14. Itulah paradoksnya. Itulah kontradiksinya. Maka pada pilpres AS tahun 2016, kita menyaksikan dua fenomena penting. Kemenangan Trump mewakili kebangkitan Trumpisme: kulit putih miskin yang terlempar dari kelompok kelas menengah. Sementara walaupun tidak jadi kandidat presiden Partai Demokrat, Berni Sanders mewakili kebangkitan generasi baru AS yang percaya pada sosialisme.
  15. Yang sama pada semua kandidat adalah semangat Anti-China. Walaupun Trump kalah pada 2020 lalu, semangat itu telah menjadi doktrin formal negara dan narasi yg dipercaya rakyat AS sebagai alasan kebangkitan baru mereka.
  16. Jadi di tengah problematika sosial, ekonomi dan politik domestik itu, keberadaan pasukan AS di Timur Tengah dan Asia Tengah memang menjadi sangat tidak relevan. Memang harus ditarik. Itu ongkos kedigdayaan yang sia-sia belaka.
  17. Tapi bagaimana mempertahankan dominasi global AS selanjutnya? Itulah inti dari semua cerita ini selanjutnya.
  18. AS akan fokus pada konsolidasi sekutu utama di Atlantik (Eropa) dan Pasifik (Jepang, Australia, India, plus Korsel dan Taiwan). Sementara masalah kawasan diberikan kepada kekuatan kawasan. Turki, misalnya, bisa diandalkan untuk Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika Utara. Turki bisa berperan sebagai sekutu regional AS di kawasan yang dulu merupakan wilayah imperium Ottoman.
  19. Bagi AS, strategi geopolitik itu bisa mengurangi intervensi teritorial dan mengandalkan sekutu regional. Ada efesiensi finansial, kesempatan untuk melakukan konsolidasi sekutu global dan perbaikan citra sebagai pemimpin dunia.
  20. Kunjungan Biden beberapa waktu lalu ke Eropa relatif berhasil mengkonsolidasi sekutu utama AS. Begitu juga pertemuan bilateral dengan Erdogan sebagai anggota NATO dengan peran baru Turki di kawasan.
  21. Jadi Afganistan di bawah Taliban akan sangat dipengaruhi secara ideologi dan politik Turki, dan tentu juga Pakistan sebagai sandaran teritori Taliban sebelumnya. Tapi respons Iran, Rusia dan China juga pasti menentukan bagi Taliban.
  22. Yang pasti “bisul” dalam strategi global AS sudah pecah. Nasibnya tidak akan sama dengan Uni Soviet. AS justru lebih solid secara domestik setelah mundur dari Afghanistan. Mereka bisa fokus ke perbaikan ekonomi domestik untuk menghilangkan residu Trumpisme. Dan fokus ke China. Tapi yang tersisa di Asia Tengah justru residunya. Itulah yang sekarang jadi masalah bagi Turki, Pakistan, China, Rusia dan Iran.
  23. Ada residu lain. Ribuan agen/pekerja AS dari warga Afganistan bersama keluarga mereka akan dipindahkan ke beberapa negara Teluk seperti UAE, Arab Saudi dan Qatar. Dulu AS yang bayar, giliran yang lain.
  24. Salah satu kelebihan demokrasi AS adalah mereka membuka diri untuk semua kritik internal dan “perbaikan strategi” secara berkesinambungan tanpa harus merasa bersalah atau kalah.

76 Tahun Indonesia Merdeka, Indonesia Optimis

17 Agustus 2021
@irfanenjo
-Tim Narasi Arah Baru & Kabid Komunikasi DPW Gelora Jakarta-

Menurut Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, pemerintahan yang tidak kompeten, kepercayaan publik yang rendah dan kepemimpinan yang lemah adalah sebab-sebab negara gagal di era pandemi. Krisis kesehatan kemudian ke krisis sosial, krisis ekonomi dan ujungnya krisis politik. Libanon, Tunisia, Afghanistan dan juga Malaysia sedang mengalaminya.

Hari kemerdekaan Indonesia yang ke-76 ini adalah momentum bagi Indonesia untuk melakukan segala daya dan upaya agar krisis ini tidak berujung pada negara gagal yang akhirnya menjadi krisis politik.

Anis Matta selalu mengulang-ulang bahwa kita tidak boleh berhenti mencari inspirasi dari agama dalam mencari solusi persoalan bangsa. Apalagi dalam situasi krisis ini, tingkat religiusitas manusia Indonesia meningkat drastis, keberagamaan rakyat semakin tinggi, harapan yang dibangun dalam konstruksi agama lebih memberikan rasa percaya dan ketenangan bagi manusia, di tengah keterbatasan manusia dalam mengatasi krisis.

Menurut Anis Matta paling tidak ada 4 hal yang menjadi prinsip membangun optimisme di tengah krisis :

Pertama, Ketenangan.
Ketenangan memang tidak bisa merubah situasi atau menghilangkan krisis tetapi ketenangan dibutuhkan untuk membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan dan krisis.

Kedua, Keuletan
Keuletan adalah bagaimana mencapai tujuan besar dengan sumber daya yang sedikit. Membangun performa maksimal dengan sumberdaya terbatas.

Ketiga, Keterarahan
Keterarahan adalah fokus pada peluang dan kekuatan yang dimiliki. Keterbatasan pasti ada tetapi tidak fokus pada itu. Tapi fokus bagaimana mencapai tujuan-tujuan besar denga sumberdaya yang dimiliki.

Keempat, Kebangkitan
Kebangkitan adalah bagaimana kita terus membangun kemampuan tanpa henti sampai tujuan tercapai.

Kemerdekaan yang kita peringati hari ini adalah wujud dari ketenangan yang melahirkan keyakinan utk merdeka. Keuletan dalam mencapai kemerdekaan walau hanya dengan bambu runcing. Keterarahan dimana fokus pada kemampuan diri sendiri dan selalu mengintai kelemahan penjajah. Kebangkitan dimana selalu optimal membangun kekuatan dalam meraih kemerdekaan.

Jadi, hari ini kibarkan merah-putih, katakan “Jangan Menyerah! …Indonesia Optimis!”
Dengan Rahmat Allah; Indonesia Sehat, Indonesia Kuat.

Inspirasi Partai Gelora

Kisah Nabi Daud Kalahkan Jalut, Jadi Inspirasi Partai Gelora Menghadapi Pemilu 2024

Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia optimis menghadapi Pemilu 2024 mendatang. Sebab, krisis dipandang sebagai peluang dan keterbatasan menjadi alasan bagi Partai Gelora untuk bekerja lebih giat lagi.

“Agama kita mengajarkan, kuncinya ada empat, yaitu; ketenangan, keuletan, keterarahan dan kebangkitan. Partai Gelora ditakdirkan hadir di tengah krisis. Insya Allah kita optimis menghadapi pemilu 2024 yang akan datang,” kata Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, pada Rakornas VII, Partai Gelora Indonesia, yang membahas ‘Agenda Kerja 32 Bulan Menuju Sukses Pemilu 2024 dan Arah Baru Indonesia’, Kamis (5/8/2021) malam.

Rakornas VII yang di selenggarakan secara virtual ini dihadiri Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Ahmad Rilyadi, fungsionaris DPN, MPN, MP, DPW dan DPD se-Indonesia.

Dalam situasi sekarang, menurut Anis Matta, manusia perlu terus mencari ilham bagaimana cara menghadapi krisis, termasuk dalam strategi pemenangan Pemilu.

“Seperti dalam kisah Nabi Daud yang mampu mengalahkan Jalut karena ketenangan, keuletannya dan keterarahannya. Bani Israil saat itu menghadapi tantangan besar dari klan besar yang paling ditakuti yang dipimpin oleh Raja Jalut,” katanya.

“Sebelum bertanding, Nabi Daud mencari kelemahan Raja Jalut sebagai strategi untuk mengalahkannya. Karena Nabi Daud menyadari postur tubuhnya yang kecil, jika dibandingkan dengan Raja Jalut yang tinggi besar.”

“Nabi Daud juga tidak menggunakan pedang dan baju besinya sebagai sumber kekuatan dan tidak memilih bertempur dari jarak dekat. Tapi dia menggunakan batu dan batu itu harus tepat mengenai sasaran yang mematikan, yaitu jidat lawan dan akhirnya Jalut bisa dikalahkan,” katanya.

Anis Matta menilai ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut. Dan oleh barat, telah diangkat dalam sebuah film yang berjudul ‘David and Goliath’.

“Dari perlawanan Nabi Daud melawan Jalut ini, saya selalu mendapatkan pelajaran. Kelemahan kita adalah kekuatan kita, dan kekuatan musuh adalah kelemahannya,” ujar Anis Matta.

Artinya, dalam memandang krisis ini, kita harus fokus pada peluang yang tersedia. Bukan sebaliknya, selalu memandang keterbatasan, sehingga menurunkan performance yang tinggi dalam bekerja.

“Pesannya jelas, yaitu; KEBANGKITAN. Kita harus bangkit. Krisis itu seperti awan yang gelap, mungkin dia bisa menurunkan hujan atau badai. Dan mereka yang tetap bekerja dalam situasi krisis, akan mendapatkan keuntungan besar jika krisis reda,” ujarnya.

Karena itu, Anis Matta yakin, elektablitas dan popularitas Partai Gelora akan terus mengalami peningkatan menjelang Pemilu 2024 mendatang.

Jika saat ini elektablitas Partai Gelora sudah pada angka 1.5 persen, maka sebelum Pemilu 2024, target elektabilitas 4 persen dan lolos Parliamentary Threshold akan tercapai.
“Insya Allah Partai Gelora akan siap menghadapi Pemilu 2024,” pungkasnya.

rakornas7 #suksespemilu2024 #arahbaruindonesia

geloraindonesia #gelorakalsel #gelorabanjar #janganmenyerah #indonesiaoptimis #ketenangan #keuletan #keterarahan #kebangkitan