Bangga Ku Menjadi Indonesia

Fahima I.

Siapa yang bisa meminta ingin lahir di mana. Menjadi warga negara apa. Tak ada satupun, kecuali kita semua telah ditakdirkan oleh Yang Kuasa tentang umur kita, jodoh, rizki, kehidupan dan kematian. Sudah tertulis di lauh mahfudzNya.

Termasuk menjadi bagian dari warga dan penduduk yang menghuni bumi Indonesia, adalah diantara anugrah itu. Kita yang berkulit berwarna, yang lebih dominan sawo matang, tentu bersyukur karena secara pigmen kulit kita rerata lebih eksotik dibandingkan para bule itu. Buktinya? Kita lihat di sepanjang pantai di Bali sana, para bule itu berjemur, semata agar kulitnya sedikit menghitam seperti kita. Ini baru satu contoh.

Bahwa kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia adalah hal yang mesti kita promosikan. Di tengah carut marut pemimpin negeri +62 ini belepotan mengelola negeri.

Rasa bangga menjadi Indonesia setidaknya menjadi modal awal optimisme bahwa kita Indonesia masih bisa bangkit. Peluang memperbaiki negeri ini masih luas dan bisa kita perankan. Minimal untuk kemandirian kita, terkhusus dalam aspek ekonomi.

Menurut para pakar ekonomi, di tengah pendemi covid-19 yang belum kunjung usai ini, maka resesi ekonomi adalah keniscayaan yang akan dialami oleh semua negara yang terdampak. Negara yang super power dan hebat secara landasan ekonominya pun terseok dan terkapar. Pertumbuhan ekonominya minus. Indonesia? Pemerintah, yang diwakili kementerian ekonomi mencoba terus meyakinkan bahwa kita memang akan resesi, pertumbuhan ekonomi yang minus, tapi tidak perlu khawatir, kita mempunyai rakyat yang hebat. Kekuatan kehebatan itu justru ada di rakyat. Yakni tumbuhnya kemandirian ekonomi rakyat, UMKM yang terus menjamur, di tengah keterpurukan situasi yang mencemaskan banyak pihak. Hebat Indonesia kita. Hebat rakyatnya.

Ini baru satu tinjauan sisi ekonomi. Ada banyak hal yang membuat kita harus bangga menjadi Indonesia. Selain sumber daya alam yang “given” luar biasa kayanya, namun hanya dinikmati dan dikuasai 1% warga negara yang super kaya, juga ragam budaya, adat istiadat, ribuan suku dan ragam bahasa, adalah diantara kekayaan Indonesia.

Subur tanah dan alamnya, potensi pertanian yang mestinya digarap serius, namun nyatanya petani Indonesia adalah komunitas warga negara termiskin. Ini ironi tapi sekaligus menjadi cambuk, bahwa kita bisa memperbaikinya. Dua per tiga wilayah Indonesia adalah lautan, artinya sumber daya potensi perikanan kita luar biasa besarnya, namun dalam teknologi teramat jauh dibandingkan dengan negara jiran.

Tapi ku tetap bangga menjadi Indonesia. Setidaknya kita masih merasakan ketentraman dengan cara bersosial kita, guyub gotong royong yang masih menjiwai karakter bangsa ini, meski di tengah serbuan individualisme yang menyayat.

Kita mesti tetap bangga dengan Indonesia, yang beragam ras dan perbedaan agama, namun mampu tetap bersatu. Ribuan pulau yang terpisah, namun bisa disatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Meski ada yang sempat terpisah melalui referendum di tahun 1999, toh kini rakyat Timor Leste tidak lebih makmur dari bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, masih menjadi negara termiskin di kawasan Asia.

Tetaplah bangga menjadi Indonesia. Negeri mayoritas muslim terbesar di dunia, yang tetap rukun serta memegang toleransi yang tinggi dalam menghormati minoritas dalam beragama. Sebuah harmoni yang indah bernama Indonesia.

Dan tetap banggalah menjadi bagian dari bangsa besar Indonesia. Sebuah negara yang berazaskan Pancasila dan menganut demokrasi, meski sedang dalam belajar mempraktekkannya. Kita diberikan keleluasaan bersama untuk saling berkolaborasi membangun dan memperbaiki tata kelola, dengan partai politik salah satunya.

Dan aku tetap bangga menjadi Indonesia. Karena kulinernya yang kaya menggugah selera. Rendangnya yang kaya rempah, sate madura yang mak nyus, sop conro yang menggugah selera, serta sego pecel yang selalu bikin kangen. Dan semua itu tidak ditemui di negara selain Indonesia, kecuali warga negara Indonesia yang berbisnis kuliner di manca negara.

Banggalah menjadi Indonesia.
Merdeka……