Memilih Peran Yang Tepat

AKADEMI MANUSIA INDONESIA
Oleh : Anis Matta

Bagaiamana cara kita memilih peran yang tepat bagi kita?. Karena kalau kita salah memilih peran, maka kita tidak efektif di dalam hidup. Kita akan banyak membuang sumber daya tanpa menghasilkan apa-apa, banyak membuang waktu, banyak berkumpul tapi tidak menghasilkan apa apa.

Namun jika kita bisa memilih peran yang tepat, maka kita akan menjadi orang yang efekif. Dan cara memilih peran yang tepat itu menggabungkan dua hal:

  • Memahami dengan baik kebutuhan yang ada di lingkungan, zaman, dan tempat kita.
  • Melihat kemampuan yang ada di dalam diri kita yang diberikan Allah kepada kita yang bisa kita berikan kepada manusia.

Point yang pertama ini adalah apa yang disebut oleh para fuqaha kita dahulu sebagai wajibul wakt. Apa kewajiban zaman ini, sesuatu yang merupakan tuntutan zaman. Inilah peran yang diharap-harapkan zaman ini.

Yang kedua adalah membaca kemampuan kita sendiri untuk bisa berkontribusi apa dari kebutuhan di lingkungan sekitar kita, wa kullun muyassarun lima khuliqo lahu (setiap orang akan mudah melakukan peran-peran yang dia diciptakan untuknya).

Point yang kedua ini mengharuskan Kita harus mampu membaca arah jalannya sejarah, dengan ini kita akan bisa mendefenisikan dari fakta apa masalah yang dihadapi oleh umat kita, dan apa masalah yang dihadapi umat manusia secara umum dan apa solusi yang bisa kita tawarkan untuk itu.

Kita ditakdirkan hidup di zaman yang keras, dan saya percaya bahwa ini adalah karunia bagi kita semua. kata Filusuf sejarah : Hard time create strong leader, strong leader create good time, good time create little leader, little leader create hard time, itulah siklus.

20 tahun setelah era reformasi Kita tidak hanya menghadapi kekacuan naisonal tapi juga kekacauan global.

Ada 2 hal yang mendefinisikan jalannya perubahan geopolitik yang akan datang secara global

  • Trend Decline pada system global atau global disorder
  • Munculnya leadership style yang baru dari Negara-negara besar : ada putin di rusia, ada si ji ping di china, ada trump di as.

Ada system yang decline, lalu ada model kepemimpinan seperti ini yang akan membawa dunia ini kepada suatu area yang sekarang tidak ada orang yang bisa meramalkannya.

Tetapi dua elemen ini, yaitu decline dan leadership style menjadi factor utama yang akan menentukan jalannya perubahan-perubahan geopolitik global di masa yang akan datang, yang pasti sekarang ini secara global, kita sudah melampaui satu tahap dari decline, satu tahap yang kita sebut global disorder, dan sekarang kita memasuki tahapan yang kedua yaitu global chaos, dan biasanya dari chaos ke tahap selanjutnya itu adalah salah satu dari dua hal; perang atau kesepakatan baru untuk keluar dari masalah yang dihadapi.

Seperti apa pemimpin-pemimpin ini mendefisikan musuhnya, seperti itulah mereka mengambil tindakan, tetapi masalahanya bagi kita adalah dalam global system ini, dalam global disorder ini dunia islam adalah outsider. Dalam sistem politik di seluruh dunia islam, harokah islamiyah sampai saat ini juga masih outsider.

Ayat politik pertama yang turun dalam sejarah kepada Rasulullah, surat ar-rum, ayat itu bukan ayat madaniyah, surat itu adalah surat makiyyah di awal-awal, supaya generasi baru yang tumbuh ini tahu, bahwa ini hanya masalah waktu, mereka akan ketemu dengan dua kekuatan besar, tapi dari awal kita mesti sadar, jadi dari awal ketika dia tumbuh dia belum melakukan apa-apa, tapi dia memiliki kesadaran politik global.

Perhatikan ayat tersebut, semua disebutkan :

  • Aktornya adalah Romawi dan Persia,
  • Tempatnya di tanah paling rendah,
  • Siklusnya setelah kalah mereka menang,
  • Time framenya dalam beberapa tahun.

Dengan mengetahui timeframe seperti ini; ada peristiwa global yang terjadi seperti ini, dengan kesadaran geopolitik global seperti ini, kaum muslimin di bawah kepemimpinan Rasulullah mengerti bagaimana mereka meretas jalan mereka, mengerti bagaimana mereka menemukan peta jalan bagi mereka sendiri.

Kalau kita baca sejarah jengis khan, dia melewati 40 tahun pertama hidupnya itu sebagai buron, karena ayahnya sebagai kepala kabilah dibunuh oleh lawannya, dan seluruh keluarganya dibantai habis, jadi dia berlari menjadi buron ke mana-mana, selama 40 tahun, tapi karena dia menghadapi tekanan 40 tahun, maka berlaku padanya teori fisika tersebut, dan dalam waktu 20 tahun sesudah itu, dia menguasai hampir separuh dari seluruh dunia wilayahnya.

Salah satu tipe dari orang-orang yang lahir di masa keras itu, yang biasa disebut oleh sejarahwan sebagai strong leader adalah kemampuan mereka mengubah tantangan menjadi peluang, kemampuan mereka mengubah ketakutan menjadi keberanian, kemampuan mereka mengubah kelemahan menjadi kekuatan, itu cirinya.

Kalau kita membaca sejarah para 4 imam madzhab; Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Hanbali, ada satu hal yang sama di antara mereka, mereka jauh dari politik, dan mereka dengan sadar menjauhi politik, karena mereka tahu bahwa itu bukan peran utama yang dituntut oleh zamannya.

Kenapa bukan peran utama? karena itu adalah masa established, politik saat itu established, negara saat itu kuat, masyarakat pada umumnya juga sejahtera, tetapi ini ada satu tantangan besar dalam sejarah islam, yaitu ekspansi islam yang sangat luas, sehingga baik secara teritori dia bertumbuh, maupun sejarah demografi dia bertumbuh, dan kemudian yang lebih penting lagi adalah pertumbuhan kebudayaan, multikultur,

Dan karena itu secara intelektual, kalau kita ambil leveragenya, orang akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teks-teks al-quran dan as-sunah untuk bisa memahaminya secara lebih real.

Sementara teks al-quran dan hadits di periode ini proses pengumpulan hadits sedang berlangsung, tetapi tidak semua orang memiliki metodologi untuk memahami al-quran dan sunah secara langsung dan menerapkannya di dalam hidupnya.

Apalagi dengan begitu banyaknya budaya baru yang bergabung dalam horizon islam ini, peluang terjadinya multitafsir kepada teks-teks ini menjadi sangat besar, mereka-mereka ini semuanya sepakat mewakafkan hidupnya untuk menyelesaikan persoalan ini.

Kita perhatikan kehidupan Abu Hanifah, beliau waktu muda tidak mulai belajar dari kecil, di tengah jalan dia belajar, karena dia sorang pedagang, ada seorang ulama besar di zamannya ketemu dia di pasar dan bertanya : kamu gak pergi ke majlis ilmu itu ? enggak, saya lebih suka pasar karena dapat uang, jawab Abu Hanifah. Ulama itu berkata : tapi saya melihat kamu punya kecerdasan, kenapa tidak kamu arahkan untuk menuntut ilmu?.

Imam Abu Hanifah kembali ke rumahnya, dan semalaman dia memikirkan kalimat itu, sejak itulah beliau mengubah jalan hidupnya.

Sekarang perhatikan Imam Syafi’i, beliau lahir di Gazha, besar di Makkah dan Madinah, setelah itu keliling ke Iraq, dan terakhir di Mesir juga meninggal di Mesir. Umur 7 tahun dia hafal quran, umur 10 tahun dia menghafal kitab muwatho’ imam Malik.

Di dalam kita tarikh tasyri’ kita mendapatkan penjelasan bahwa imam Abu Hanifah adalah imamnya ahli ro’yi, sedangkan imam Malik adalah imamnya ahli hadits, dan imam Syafi’i belajar kepada imam Malik, juga kepada murid-muridnya imam Abu Hanifah, tapi beliau keliling ke seluruh negara-negara ilmu di zaman itu; jazirah, iraq, syam dan mesir, beliau keliling.

Hasil dari ini semualah yang mengantarkan beliau kepada satu metodologi baru untuk memahami teks-teks ini, kalau kita ingin menurunkan hukum dari teks itu pada situasi di lapangan, dari situlah lalu lahir ilmu ushul fiqh.

Sekarang kita lihat, di luar dari khulafa rosyidin yang 4 itu, adakah khulfa’ khulafa’ atau raja-raja islam yang lebih populer dari 4 imam madzhab itu?.

Jadi cara kita semua beragama itu didefinisikan oleh 4 imam madzhab itu, di wilayah Iraq, Asia tengah dan sekitarnya itu ahnaf, dan secara populasi pengikut madzhab hanafi itu paling besar.

Di teluk, di syam beberapa di antaranya itu adalah hanabilah, tapi kalau kita pergi ke Afrika utara, mesir dan hampir seluruh Afrika itu adalah madzhab imam Malik.

Kemudian sebagian syam, sebagian mesir, dan asia tenggara pada umumnya adalah madzhab syafi’i.

Jadi cara kita beragama ini didefinisikan oleh imam 4 madzhab ini.

Mereka dari awal mengerti peran sejarah yang harus mereka lakukan, karena politik established, ekonomi bagus, mereka memilih peranya.

Kebalikannya, ketika tartar ingin mulai menyerbu dunia, memulai masuk wilayah-wilayah islam ada satu orang yang kemudian nanti mengalahkan tartar itu dari awal berdoa dan berniat, terus menerus memikirkan caranya, terus menerus, mewakafkan hidupnya untuk itu, bahwa suatu waktu dia akan mengalahkan tartar itu. karena setelah tartar mengambil iraq, mengambil syam seluruhnya, wilayah yang tersisa bagi dunia islam itu tinggal mesir. dan di mesirlah orang ini ada.

Tapi kita tahu dia bukan orang mesir, dia orang dari afganistan, anak dari kerajaan khowarizm syiah, yang dihancurkkan oleh tartar, yaitu muzhoffar qutuz.

Dia tahu bahwa inilah peran terbesar yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain, dan karena dia punya historis benturan dengan tartar itu, di mana keluarganya habis, dan dia melarikan diri dan selamat, kemudian masuk sebagai budak, diperjualbelikan di damaskus, lalu kemudian dikirim ke mesir, dan masuk menjadi tentara di zaman mamalik, di era para budak ini memimpin di mesir, akhirnya di zamannya inilah ketika tartar akan datang dipimpin holago dia berhadapan dengan itu. Dia mendefinisikan perannya secara tepat, sesuai dengan tuntutan zamannya

Gelorakan Semangat Indonesia

Saat ini, kira kira ada 75 partai politik yang terdaftar di Kemenkumham RI.

11 diantaranya adalah partai baru, dan sisanya adalah partai lama. Baik yang eksis di Senayan maupun partai lama yang berganti ganti nama dan AD ART.

Partai Gelora termasuk dalam list itu. Dan Alhamdulillah partai ini partai baru yang dibangun dari nol.

Partai Gelora juga menjadi partai baru paling diminati oleh banyak kalangan, dan secara khusus diharapkan mampu tampil lebih baik dalam panggung politik. Begitu hasil risetnya.

Partai Gelora adalah partai baru dengan semua platform dan narasi politiknya. Tidak ada kaitannya platform partai gelora dengan platform partai manapun di Indonesia. Bukan paltform copy paste.

Masuknya partai Gelora menjadi salah satu partai politik di Indonesia adalah bagian dari tanggung jawab kami sebagai anak bangsa yang mencintai negeri ini, dengan seluruh tumpah darah Indonesia.

Partai Gelora saat ini juga menjadi partai baru yang benar benar dikenal publik sebagai Partai baru yang mengusung ide ide besar perubahan Indonesia.

Partai baru yang benar benar baru dalam menarasikan ulang platform partai politik di Indonesia.

Kami menyadari masih memiliki berbagai kelemahan sebagai pendatang baru, yang baru akan ikut pemilu pertama di 2024 nanti.

Harapannya, Partai Gelora mampu menjadi kekuatan baru yang modern dan moderat, yang akan menjadi pilihan baru rakyat Indonesia.

Tidak ada yang mudah. Oleh sebab itu semua kader dan pengurus, khususnya yang berkaitan dengan teritorial dan penguatan basis awal partai harus benar-benar bekerja keras, untuk memastikan partai Gelora menjadi salah satu penghuni Senayan yang bisa mewarnai politik kita yang lebih sehat.

Sebagai pengamat juga sebagai pengurus, saya hafal betul kelebihan dan kekurangan partai ini. Tapi sekali lagi, partai ini ada bukan sebagai wadah gagah gagahan. Ini adalah panggilan nurani untuk mengisi warna demokrasi kita yang lebih baik.

Partai Gelora bertekad menjadi kekuatan baru dalam ranah politik tanah air, yang mampu mendorong rakyat kita menjadi rakyat yang lebih optimis dalam menatap masa depan.

Berkali kali saya menulis, bahwa tujuan utama partai Gelora bukan hanya ikut pemilu atau kerja keras menuju Senayan semata. Itu hanya bagian dari misi, bukan main goalnya.

Tapi lebih jauh dari itu, setiap batu bata partai Gelora diarahkan untuk menjadi kekuatan politik yang ril yang mampu merubah Indonesia dimasa yang akan datang.

Partai Gelora harus menjadi partai modern, terbuka, dan siap memasang telinga yang tebal untuk mendengar semua masalah bangsa ini dari Sabang sampai Merauke. Lalu mencarikan solusinya.

Sebagai anak muda di Partai Gelora, saya selalu menghitung dengan cermat setiap pergerakan partai, dan selalu berupaya agar partai ini memiliki narasi politik yang sehat dan kuat.

Berpartai bukan asal asalan, bukan gagah gagahan. Bukan untuk mencari kekuasaan semata mata. Karena kekuasaan yang telah didapat jika platform dan tujuan besar tidak tercapai, maka akan sama bohong nya di depan rakyat. Sudah banyak contoh model begini.

Partai Gelora dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia kelak, InsyaAllah akan menjadi kekuatan baru yang bertekad memperbaiki tatanan demokrasi kita menjadi negara mapan dan disegani Dunia.

Gelorakan Semangat Indonesia!

Tengku Zulkifli Usman✓
Pengurus Harian Dewan Pimpinan Nasional Partai Gelora Indonesia.

Partai Gelora hadir bukan untuk memperbanyak Jumlah partai politik di Indonesia.

Tapi, Gelora hadir untuk menyusun kembali batu bata sejarah Indonesia modern.

Agar negara kita berada pada posisi yang tepat yang seharusnya dia berada.

Dengan upaya penuh, untuk mencapai tujuan bernegara. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan rakyat Indonesia seluruhnya.

Berpolitik Itu Jadi Apa, Dapat Apa


By: Nandang Burhanudin


Berpolitik, ya cara kita mengayomi, melindungi, menafkahi rakyat. Sebab satu komando PM, bisa kalahkan kehendak ayat. Satu titah raja/Presiden, mampu mengubah kondisi yang tidak bisa diubah oleh kitab suci.

Dalih berpolitik, bisa beragam. Hal dominan dalam politik adalah: jadi apa dan dapat apa. Terlalu naif, jika aktif di ranah politik, tapi “mematikan” ambisi dapat apa dan jadi apa.

Mentalitas tertindas, jamak diwakili para pecundang yang kemudian dinobatkan sebagai penguasa negeri-negeri Muslim.

Tengoklah kisah seminar internasional di Israel tahun 1980. Mesir mengirimkan pejabat tinggi level PM saat itu Dr. Mustafa Khalil dan Menteri Negara Urusan Luar Negeri Boutros Ghali, yang di kemudian hari menjadi Sekjen PBB.

Pihak Israel hanya mengirimkan akademisi, guru besar dan pakar rekayasa sosial. Di antaranya Prof. Tevi Ya but fab Prof. David Vitel. PM Mesir menjadi keynote speaker. Dalam ceramahnya ia mengatakan, “Saya jamin, Mesir aman untuk kalian Israel. Sebab Mesir telah memisahkan urusan agama dan urusan berbangsa bernegara.”

Tak disangka. Narasi galau tersebut dibantah Prof. David Vitel, “Kami Yahudi di Israel dan dunia, menegaskan satu keutuhan sikap bahwa Yahudi bukan sekedar agama ritual, tapi Yahudi adalah sistem mengatur bangsa dan tanah air.”

Kini, kalangan fundamentalis Zionis Yahudi, meningkat lima kali lipat dan memegang 11 kementrian vital di Israel. Wanita-wanita bercadar penuh hingga ujung jilbab melantai, dengan warna hitam kelam dan pria Yahudi berpeci hitam tinggi dengan janggut panjang tebal, menjadi pemandangan umum di Eropa dan tentu Israel.

Tak ada yang menjuluki mereka sebagai negara teroris, radikalis, atau intoleran. Sebab julukan itu hanya berlaku untuk kalangan Muslim.

Namun positifnya, radikalisme Yahudi di atas, dibuktikan dalam tata kelola negara Israel. Di mana tidak ada toleransi bagi pejabat korup Israel, sipil maupun militer. Supremasi hukum betul-betul ditegakkan. PM Israel Ehud Barack, Yilmart, hingga Benyamin Netanyahu pernah menjadi terdakwa dan divonis.

Jika Yahudi yang militan dalam bersama diiringi dengan militansi mengelola negara, sukses menghantarkan negara Israel menjadi negara dengan tingkat kemajuan SDM tinggi dan teknologi maju. Memang awalnya dibackup Lobi Yahudi Internasional yang mencengkram AS, Inggris dan Eropa.

Namun faktanya, tak lepas dari efisiensi dan efektivitas dalam tata kelola negara. Dana yang dihemat dari efisiensi diinvestasikan untuk high technology yang diborong rezim-rezim kaya Arab dan Muslim. Teknologi Paegasus made in Israel misalnya, diborong penguasa UAE, Saudi, Mesir, Indonesia, untuk memata-matai rakyatnya.

Kini pola Israel yang berjaya di tanah Palestina, ditiru banyak negara di seluruh dunia. Sayangnya, negara +62, hanya meniru sisi-sisi negatif Israel dalam politik jadi apa dapat apa. Namun enggan menerapkan politik yang mengantarkan pada keadilan, kesejahteraan dan supremasi hukum.

Generasi Muda dan Politik

Kadang saya miris melihat generasi muda Indonesia.

Terutama anak anak muda yang memutuskan terlibat dalam politik.

Mereka takut menjelaskan diri mereka ke publik, takut menyampaikan ide ide mereka tentang politik, negara dst.

Ketakutan itu ada beberapa sebab, baik karena dia takut dipecat partai nya, takut kehilangan mata pencaharian nya, takut kehilangan komunitas nya dst.

Atau ada juga yang tidak berani menjelaskan narasinya yang original dalam berpolitik secara jelas. Karena takut ditinggalkan follower nya, takut dijauhi teman teman nya dst.

Padahal anak anak muda kita adalah masa depan nasib bangsa ini. Jika anak mudanya saja sudah punya mental begitu. Anda bayangkan nasib bangsa ini kedepannya.

Banyak yang mau bermain aman, tidak berani bersikap dengan ilmu yang dia miliki agar dia bisa berkontribusi secara langsung untuk pembangunan negara.

Mereka memilih diam, ikut arus, walaupun yang mereka ikuti jelas salah. Asal gak kehilangan pekerjaan, gak kehilangan kawan, atau gak kehilangan amplop ceramah jika dia aktivis partai Islam. Apakah generasi mental begini yang mau memimpin Indonesia kelak?

Kondisi seperti ini sangat memperhatikan, saat anak anak muda kita tidak berani berdaulat menentukan arah dirinya sendiri bahkan tidak mau dengan jelas mempersiapkan diri mereka memimpin Indonesia kelak.

Mereka serba takut, akhirnya mereka hanya ikut arus, ikut kemana mata angin berhembus. Menjadi petugas petugas partai yang membebek buta.

Akhirnya rakyat kita kebingungan dengan sosok mana yang mau mereka pilih kedepannya di panggung politik. Karena generasi kita tidak berani sejak awal bersikap dalam politik.

Bisa jadi kadang sebuah pemikiran kita saat ini tidak cocok dengan kalangan tertentu, tidak cocok dengan golongan tertentu. Tapi jika kita benar. Harusnya kita yakin akan selalu mendapatkan pendukung. Tidak sekarang, mungkin nanti.

Anak anak muda harusnya memiliki idealisme yang kuat, narasi yang lurus, sikap negarawan yang ditunjukkan sejak dini. Agar rakyat punya harapan.

Bisa jadi saat ini dianggap kontroversi, dianggap gak cocok dengan komunitas tertentu. Tapi jika kita benar benar berjuang sesuai dengan koridor demokrasi. Harusnya kita tidak takut kehilangan pendukung saat ini hanya karena kontelasi politik semata.

Anda bayangkan kalau anak anak muda kita sejak dini saja sudah bermental budak, mental yes man, mental petugas partai, mental mental feodal yang terus mencari aman demi uang receh?

Anda bayangkan kalau aktivis aktivis politik kita sudah begitu sejak masa mudanya. Main aman demi mempertahankan amplop tipis pemberian orang. Mau jadi apa generasi muda Indonesia kedepannya saat mereka memimpin.

Oleh sebab itu, saya sejak dini menempatkan diri saya sebagai anak muda, generasi penerus, dan saya menjaga kedaulatan berpikir dan bertindak saya. Tidak mau didikte siapapun dan tidak mau ikut arus kalau itu keliru. Apapun resikonya.

Saya tidak takut kehilangan teman, kehilangan komunitas, apalagi kehilangan mata pencaharian hidup. Karena saya gak pernah mencari makan lewat jalur itu, tidak pernah takut kehilangan honor atau amplop tausiyah recehan.

Saya juga tidak takut kehilangan follower, pengikut dst. Bahkan di medsos berkali kali saya usir siapapun yang merasa gak cocok dengan narasi demokrasi, hususnya yang hanya pengen debat kusir di wall saya.

Sikap saya cukup jelas sejak awal. Saya memperjuangkan demokrasi yang sehat, dan saya anti segala bentuk praktek kebodohan dalam politik, baik itu dilakukan oleh partai nasionalis maupun partai Islam sekalipun. Bagi saya bodoh itu gak mengenal warna dan bendera.

Sebagai generasi muda, saya sadar betul perjalanan masih jauh. Jadi lebih baik anak muda kita mempersiapkan diri dan memperkuat kapasitas, ketimbang harus terlibat buru buru dalam Politik hanya karena sekedar pengen punya komunitas, pengen punya teman ngobrol dst.

Tengku Zulkifli Usman✓

Umat Islam masih sering sibuk dengan cover daripada isi

TZU

Dalam banyak bidang, umat Islam punya kekurangan disitu, tapi jarang yang mau mengakui apalagi mau berubah.

Ulama terkemuka timur tengah yang juga saya anggap pakar politik Islam Dr Yusuf Al Qardhawi pernah mengingatkan umat Islam.

Agar beranjak dari sikap tertutup ke sikap terbuka, agar mereka beranjak dari sikap heroik ke meja riset, dan dari gaya ekstremitas ke gaya moderat.

Salah satu penyebab utama kenapa umat Islam susah maju dalam politik, karena mereka masih terbawa dengan semangat masa lalu yang pernah berjaya.

Tapi sayang, mereka salah dalam meletakkan kejayaan masa lalu itu dengan konteks kekinian. Terutama dalam hal politik di era demokrasi modern yang sudah berjalan 90 tahun belakangan di negara negara muslim.

Sebagai contoh sederhana, lihat saja bagaimana kekuatan PA 212 saat ini? Sudah hilang, lihat bagaimana kekuatan yang tidak mampu dikelola dengan baik menguap begitu saja.

Lihatlah bagaimana aktivis aktivis Islam modal semangat tapi non skill, non jaringan, fakir miskin harta, non pengalaman, non ilmu, buta peta jalan, tapi semangat 45. Hanya sibuk berdebat tanpa isi, sibuk dengan judul bukan pada substansi.

Lihatlah bagaimana yayasan yayasan yang dipimpin umat islam begitu tidak profesional dan penuh konflik kepentingan yang mengantarkan yayasan yayasan itu mundur bukan maju.

Lihatlah partai partai Islam yang dikelola dengan mental feodalisme dan bermodalkan heroik semata. Satupun partai Islam tidak punya kekuatan dan tidak ada yang punya otot sama sekali.

Meraih suara 10% saja tidak mampu, bahkan ada partai berumur setengah abad tapi mandul dan loyo. Hanya bikin gaduh dan ribut sesama partai Islam lain hanya karena fanatisme ideologi.

Lihatlah Ketua ketua partai Islam yang terlibat korupsi, uang yang mereka kejar ketika ketangkap KPK adalah uang receh. Sangat terlihat sekali mereka masih mencari makan dengan jalur partai masing-masing. Apes nya bawa bawa nama Islam.

Era pasca reformasi, semua partai Islam jadi pesakitan. Mereka bangga dengan ideologi ideologi masing masing dengan terus mengatasnamakan dakwah. Padahal gak ada hubungannya dengan dakwah secara substansial.

Belum lagi soal keuangan, partai partai Islam hampir semua miskin tapi merasa punya segalanya. Kalau dilihat secara objektif, mereka semua kelas bawah yang gak ngefek apa apa untuk pembangunan demokrasi.

Bagaimana mereka mau menguasai sumber daya yang besar dan dana? Sedangkan uang kecil saja mereka ributkan dan asyik berantem dengan diri mereka sendiri secara internal.

Bagaimana yayasan yayasan yang mereka buat gaduh sendiri memperebutkan uang receh sesamanya. Bagaimana Islam mau maju dengan mental mental muslim begini?

Umat Islam tidak terbiasa Melakukan kritik ke diri mereka sendiri (self criticism). Karena terlalu terbiasa mencari kambing hitam dan menganggap mereka adalah korban konspirasi musuh.padahal ini murni karena ketidak profesionalnya mereka dalam bekerja.

Terlalu suka menuduh orang lain. Tidak terbiasa berkaca pada dirinya sendiri. Jika ada muslim yang mengkritisi mereka dan memberi masukan, maka dengan gampang si pemberi masukan tadi di tuduh liberal, sekuler, anti dakwah, bahkan dianggap anti Islam. Betapa feodal dan cetek nya pikiran mereka.

Mereka sudah pasang mindset dan menanamkan mindset salah itu kepada follower nya. Bahwa jika mereka dikritik, maka si pengkritik itu adalah musuh Islam dan musuh dakwah.

Waktu berjalan sedangkan mereka bertambah kerdil, tapi sayang, mereka gak mau melakukan muhasabah karena terlalu sibuk menyuruh orang lain untuk muhasabah.

Akhirnya kekuatan mereka seperti buih, bukan hanya tidak dianggap, tapi juga hanya jadi bahan tertawaan orang lain. Lebih buruknya lagi, gara gara mereka nama Islam ikut buruk karena mereka selalu membawa bawa nama Islam.

Selalu saja terjebak pada pola pikir sempit, pola pikir kerdil, dan kena penyakit megalomania. Merasa besar dan hebat, padahal selalu jadi pesakitan ketika bertarung.

Masa masa begini adalah masa masa kemunduran. Dan salah satu ciri khas masa kemunduran Islam itu adalah saat banyak yang jualan agama untuk kepentingan politik mereka. Banyak yang terlena dengan tausiyah tausiyah menipu yang meninabobokan.

Salah satu ciri kemunduran Islam adalah, saat agama ini bukan lagi dipraktekkan dengan baik, bukan lagi era menjaga ukhuwah. Tapi agama lebih dipakai untuk mengejar kepentingan dirinya sendiri dan golongannya yang katak di bawah tempurung.

Tengku Zulkifli Usman✓

Generasi Pemikul Beban


Oleh : Anis Matta

Kita mulai dari cerita Umar bin Abdul Aziz, saat pertama menjadi khalifah, menjelang pelantikan, dan saat sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Menjelang dilantik, Umar bin Abdul Aziz berbisik kepada salah satu ulama besar di sampingnya; imam zuhri :
إني أخاف النار
Sesungguhnya aku takut neraka

Ini adalah Kalimat pertama yangg diucapkan. Apa korelasinya kalimat tersebut dengan pencapaian seseorang dalam kepemimpinan?. itu artinya dia memulai dari akhir, bahwa akhir dari semua ini adalah kematian, dan hidup setelah kematian hanya ada dua pilihan; surga atau neraka.

Makanya ulama-ulama kita mengatakan:
العاقل أنظر الناس في العواقب
Orang yang berakal itu adalah orang paling jauh pandangannya tentang akibat dari apa yang dia lakukan

Beliau memulainya dengan menyatakan rasa takut pada neraka, itu artinya orang boleh tidak membuat pencapaian, tetapi paling tidak, dia tidak berbuat kesalahan. Nah dengan memenej ketakutan di dalam dirinya ini, beliau memiliki sumber energi yangg tidak habis habisnya untuk bekerja.

Beliau melakukan perubahan besar, beliau mulai dari dirinya sendiri, karena dia bagian dari masa lalu bani umayah yang ingin dia rubah, maka langkah pertama yang harus dia rubah adalah merubah dirinya, lalu keluarganya, kemudian keluarga besar istana.

Setelah dilantik dia kumpulkan seluruh keluarganya dan mengambil seluruh harta keluarga untuk dikembalikan ke baitul mal, satu persatu.

Bahkan dia mengancam istrinya, jika tidak mau menyerahkan hartanya, dia kasih dua pilihan: menyerahkan harta atau cerai, pergolakan terjadi di dalam keluarganya, tpi dia bisa lalui.

Kita sekarang hidup di era kapitalisme, kapitalisme ini berhasil memberikan kesejahteraan kepada umat manusia , tapi ada satu fakta yang tidak bisa dicapai oleh kapitalisme yang dulu dicapai oleh Umar bin Abdul Aziz, itulah pencapaian itu, dan itu dicapai dalam kurun 2,5 tahun.

Beliau wafat di usia 39 th, sebelum menghembuskan nafas terakhir, dia meminta istrinya untuk diantar keluar, dia membaca ayat :
تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Ayat ini disebutkan di dalam surat Al-qoshosh, ayat ini persis menyudahi kisah Qorun setelah ditelan bumi, dia dihancurkan karena sombong dengan menganggap bahwa semua keberhasilan dirinya itu berkat kecerdasannya, maka Allah tidak ridho.

Semua jabatan yang diawali أني أخاف النار (takut neraka) dan diakhiri تلك الدار الآخرة apa maknanya itu?

Sejarawan muslim, Imadudin dalam kitab malamih inqilab islami fi ahdi umar bin abdul aziz, dalam satu bab : tikungan jiwa, dari mana dia mendapatkan energi yang begitu besar untuk melakukan hal-hal besar dalam waktu 2,5 tahun, dan ternyata sumber energinya adalah dari ketakutan kepada neraka, ini adalah sumber energi yang luar biasa, ini yg membuat kita tidak bercanda dalam memainkan peran dalam hidup kita, tidak main dalam pilihan, yg kita putuskan, karena kita tahu akibat dari keputusan yang kita ambil.

Ketakutan terhadap akhirat inilah yang akan melahirkan energi besar yang kita sebut dengan ruhul mas’uliyah, (semangat pertanggung jawaban).

Kita menyadari bahwa kita ini adalah pemikul beban, bukan pencari kuasa, bukan pemburu popularitas, tapi kita ini adalah pemikul beban, karena sebesar apa beban yang kita pikul, maka sebesar itulah tempat kita kelak di akhirat.

Namun jika kalian berpaling, maka Allah akan datangkan generasi lain yang akan memikul beban
وَإِن تَتَوَلَّوْا۟ يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓا۟ أَمْثَٰلَكُم
dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.

Oleh karena itu, doa doa yang lahir dari ruhul mas’uliyah adalah
اللهم استخدمنا ولا تستبدلنا
Ya Allah perdayakan aku, dan jangan ganti aku

Karena Rasulullah bersabda
إن الله إذا أحب عبدا استعمله
Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Allah akan memberinya tugas.

Semangat pertanggung jawaban itulah yang membuat kita mempunyai energi memikul beban, semangat itulah yang melahirkan pernyataan pribadi sejenis pernyataan Abu bakar :
أينقص الإسلام وأنا حي
Apakah islam berkurang padahal saya masih hidup

Dia ambil tanggung jawab itu secara personal dan tidak menganggapnya sebagai fardhu kifayah. Semangat pertanggung jawaban seperti ini lah yang diperlukan oleh umat kita sekarang ini.

Dengan pernyataan seperti ini, orang akan menemukan motif yang benar dari awal, niat yang benar dari awal ketika dia melangkah, jadi kita di sini tidak dikumpulkan oleh kemarahan, tidak dikumpulkan oleh kekekecewaan, tapi kita dikumpulkan oleh semangat pertanggung jawaban. Pertanggungan jawaban kita di hadapan Allah dan di hadapan umat manusia, bahwa suatu waktu kita termasuk umat yang disebutkan
تلك أمة قد خلت لها ما كسبت ولكم ما كسبتم

Semangat ini kita ambil secara pribadi, dan semangat seperti ini menjadikan kita menjadi manusia bebas yang enerjik, karena kita merasa bahwa sumber pertanggung jawaban kita kepada Allah.

Semua perkumpulan yang diawali kekecewaan tidak akan lama, kalo kita ingin berkumpul lama dan melakukan hal hal besar, pastikan bahwa niat kita benar, pastikan bahwa kita ini melakukan semua ini sebagai pertanggung jawaban kita kepada Allah dari jenis yang dikatakan Abu bakar.

Dengan cara seperti ini, saudara akan menemukan bahwa pertemuan saudara adalah gabungan dari energi individual yg tidak bisa dibendung menjadi arus sejarah dalam kehidupan manusia.

ANIS MATTA, GURU FORECASTING

Saya mengenal beliau secara pribadi sejak masih mahasiswa tahun 2000-an. Dan aktif berdiskusi dengan beliau tentang tema-tema nasional dan global sejak tahun 2002, bertepatan ketika saya menjadi ketua senat mahasiswa. Dari inspirasi beliau lah saya berinisiatif mengkonsolidasi BEM se-Makassar untuk membangun parlemen jalanan terbesar pasca reformasi kala itu.

Setelah terjun dalam dunia politik, saya semakin intens berdiskusi dengan beliau. Lebih tepatnya menjadi murid beliau. Anis Matta memang tidak mengajarkan bagaimana menyusun Perda atau seni membaca APBD, tapi beliau mengajarkan tentang norma dan kaidah dalam politik praktis dan interaksi dengan kekuasaan.

Tahun 2012 saya dan beberapa kawan separtai kala itu diikutkan dalam program informal “global leader” oleh beliau. Kami diperkenalkan dengan elit-elit nasional dan berkesempatan medalami pikiran-pikiran mereka. Lalu mengikuti program perjalanan internasional ke beberapa negara untuk diperkenalkan bagaimana dinamika global bekerja. Sayangnya, dinamika internal partai waktu itu membuat program keren ini terhenti.

Baru pada tahun 2016 saya dkk diperkenalkan dengan ilmu baru bagi kami, forecasting. Kebetulan momennya tepat. Anis Matta membaca bahwa dunia sedang mengalami pergeseran besar dalam siklus sejarahnya, dan kita perlu memahami petanya: Krisis ekonomi global tahun 2008, krisis politik arab spring 2010, krisis Krimea 2014, Brexit 2016, fenomena Trumpisme di AS, kebangkitan populisme di Eropa, kebangkitan China, dll.

Bagi mata awam seperti saya, semua fenomena-fenomena tersebut hanyalah rentetan peristiwa yang berdiri sendiri. Tapi dalam kacamata forecasting Anis Matta, semua ini adalah penanda sedang dimulainya gelombang perubahan besar dalam skala global, yang bersesuaian dengan siklus perubahan besar dalam teori-teori siklus perubahan sosial yang populer di dunia.

Bagi Anis Matta, forecasting adalah ilmu saintific. Pengetahuan yang bisa membantu kita membuat prediksi, tapi bukan ilmu pasti. Masa depan hanyalah ilmu Allah. Tetapi akar ilmu forecasting sebagai sebuah pendekatan mengahadapi ketidakpastian dan krisis bisa ditemukan pada kisah Nabi Yusuf di dalam Al-Qur’an yang basisnya adalah mimpi, dan sekarang manusia bisa membuat pendekatan yang serupa melalui basis Big Data.

Sehebat-hebatnya forecasting manusia, tidak akan mampu mengalahkan pengetahuan dan kehendak Allah tentang masa depan. Namun, saya telah menyaksikan bagaimana forecasting Anis Matta dalam peristiwa-peristiwa tertentu benar-benar terjadi atas kehendak Allah.

Sebulan sebelum kudeta Turki tahun 2016 terjadi, kami dalam kelas kecil ilmu forecasting diberikan pertanyaan oleh Anis Matta: “Kira-kira, jika Erdogan dikudeta oleh militer hari ini, apakah kudeta tersebut akan berhasil?”. Kami semua menjawab: Ya, kemungkinan berhasil! mengingat sejarah kudeta militer di Turki yang tidak pernah gagal. Tapi beliau justru menjawab berbeda: Kemungkinan tidak! Lalu beliau menjelaskan bagaimana Erdogan membangun struktur elit baru Turki sejak berkuasa tahun 2003. Struktur elit baru tersebut membuat kudeta militer kemungkinan gagal. Dan, memang terbukti gagal…

Pada kelas tersebut Anis Matta juga menguji kami dengan prediksi pemenang Pilpres AS kala itu: Trump vs Hillary Clinton. Berdasarkan informasi umum yang ada di media dan hasil-hasil survey, menurut kami Hillary yang akan menang. Tapi menurut beliau, kemungkinan Donald Trump. Lalu beliau menjelaskan tentang perubahan struktur sosial masyarakat AS sebagai dampak kapitalisme global yang membuat kelas menengahnya mengalami shrinking, dan melahirkn populisme AS. Dan, sekali lagi forecast itu benar.

Dulu sedikit yang percaya bahwa krisis Crimea bakal membesar menjadi cikal bakal Perang Dunia ke-3, tapi Anis Matta sudah memperingatkan hal tersebut kepada kami waktu itu. Sebagaimana sekarang masih jarang yang gelisah dengan krisis laut cina selatan, tapi beliau sudah mewanti-wanti bahwa ini bisa menjadi sumber konflik besar di kawasan indo-pasifik.

Dan baru beberapa bulan yang lalu beliau menyampaikan bahwa krisis saat ini akan menjadi krisis berdurasi panjang yang menggabungkan semua bentuk krisis secara bersamaan, termasuk varian virus-virus baru pasca Covid-19. Hari ini, kita kembali waspada oleh jenis penyakit baru yang menyerang anak-anak, hepatitis.

Anis Matta, tetap saja manusia biasa. Forecastingnya punya peluang besar untuk salah. Forecasting ini hanyalah sebuah pendekatan saintifik yang dibingkai dengan pendekatan baru dalam memahami pesan-pesan Al-Qur’an. Dan ini yang membuat forecasting beliau tidak pernah melampaui takdir Allah SWT tentang masa depan. Tapi bagi saya, beliau adalah salah satu guru terbaik dalam forecasting di Indonesia saat ini…

Wallahu a’lam…

(Irwan, ST – Bidang Pengembangan Narasi DPN Partai Gelora Indonesia)

Selamatkan2024

Sebenarnya saya ingin menulis surat terbuka kepada para pemimpin negeri ini khususnya kepada para pemimpin lembaga2 tinggi negara; presiden @jokowi dan jajaran eksekutif, ketua @DPR_RI dan jajaran legislatif serta ketua MK @officialMKRI jajaran yudikatif.

Sebuah pesan penting harus kita sampaikan kepada elit kita sekarang juga sebelum terlambat. Saya bingung karena terlalu banyak judul yg ingin saya Tuliskan, Karena terlalu banyak yang ingin saya katakan, menjadi terlalu banyak hestek yang ingin saya Tuliskan: #Selamatkan2024.

Saya tulis #Selamatkan2024 sebagai titik tolak, Karena banyak hal yg harus kita jernihkan dari begitu banyak hal prinsipil dlm sistem politik dan ketatanegaraan kita, yg kekeliruan dan kesalahan di dalamnya telah melahirkan efek buruk berantai dlm penyelenggaraan pemerintahan.

Kesalahan dan kekeliruan tersebut tampak dilakukan pembiaran tanpa ada upaya memikirkan ulang secara filosofis dan mendalam untuk dijernihkan. Atau jika itu bukan merupakan pembenaran, maka Mungkin kita bisa katakan semacam kekeliruan umum.

Seperti jika di sebuah negara ada yang disebut dengan common good atau kebaikan umum maka ada juga keburukan umum seperti yang kita hadapi sekarang. Salah satu bukti keburukannya adalah karena kita sudah tidak sadar bahwa itu salah dan buruk.

Dan Tiba tiba saya menghendaki dan menginginkan dengan sangat bahwa sebaiknya presiden, ketua DPR dan ketua MK-lah yang harus menjernihkan masalah ini. Atau jika tidak bisa kepada orang lain maka 1 orang presiden @jokowi dan wakilnya @Kiyai_MarufAmin bisa mewakilinya.

Harapan kepada pak @Jokowi begitu tinggi karena beliau juga lah yg harus diselamatkan dari akhir yg kurang baik akibat anomali politik yg sumbernya sangat fundamental, yaitu terkait terciptanya ruang transaksi gelap dlm mendapatkan mandat kekuasaan yg berasal dari suara rakyat.

Ini tentang pemilu, sebagai titik berangkat yang saya maksud. Saya merasa bahwa jika pemerintah tidak bisa memperbaiki keseluruhan kualitas demokrasi dan sistem politik kita, maka paling tidak kita berharap pemerintah bisa berkontribusi dalam memperbaiki sistem Pemilu kita.

Pemilu adalah asal muasal legitimasi dan legalitas kekuasaan dari seluruh penyelenggaraan pemerintahan di semua sektor kehidupan. Tanpa pemilu tidak ada hak sekelompok orang mendapatkan kekuasaan untuk mengatur kehidupan orang lain. Pemilu adalah awal kita #Selamatkan2024.

Maka yang bisa kita perbaiki sekarang adalah kesalahan fatal yang menggabungkan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, di mana syarat pencalonan presiden datang dari mandat suara rakyat yang berasal dari Pemilu 5 tahun sebelumnya. Coba kita renungkan dalam sampai di sini.

Pasal 2 UUD 1945 “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD”. Maka, suara rakyatlah sumber kekuasaan dlm negara demokrasi, yg suara rakyat itu harus terus diminta melalui pemilu atau rakyat harus terus memberikan mandat kuasanya terbatas dlm 5 thn sekali.

Dengan diselenggarakannya pemilu legislatif dan pilpres secara serentak di waktu yang sama di satu sisi, dan di sisi yang lain syarat Capres/Cawapres dlm Pilres harus mendapatkan mandat 20% dari suara sah pemilu, akhirnya, tiket justru diambil dari suara rakyat yang berbeda.

Coba Kita Renungkan sekali lagi, “maka tiket Pilpres harus diambil dari suara rakyat yang sudah kadaluarsa karena telah diberikan untuk penyeleggaraan pemerintah pada pemilu 5 tahun sebelumnya, dgn jumlah rakyat yang berbeda, aspirasi yang berbeda dan suasana yang berbeda” .

Pemilu bukan basa-basi. Tapi Anggaplah ini sebuah pesta demokrasi yg di dalamnya anda bayar untuk nonton konser. Bagaimana jadinya Jika ternyata yg main dlm konser itu telah ditetapkan oleh orang yg anda tidak ketahui siapa dari masa lalu padahal anda mau nonton penyanyi idola.

Ini bukan konser, ini suara rakyat yg harus jelas. Jika syarat treshold Pilpres tetap dipertahankan (20%) maka Pileg dan Pilpres wajib berasal dari mandat suara rakyat yg sama pada pemilu yg sama. Tapi jika treshold ditiadakan maka pileg dan Pilpres dapat dilakukan bersamaan.

Inilah yang saya sebut sebagai kesalahan yang telah bertumpuk-tumpuk karena motif kita melakukan perubahan UU tidak bersumber dari nilai-nilai dan falsafah yang tercantum di dalam konstitusi kita tapi oleh kepentingan sesaat untuk kepentingan kelompok bahkan sangat partisan.

Karena itu saya mengusulkan kita menatap ke depan, bahwa jelas hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Tidak akan bisa dibenarkan sampai kapanpun suara rakyat yang telah kedaluwarsa dipakai kembali untuk satu kegiatan yang maha penting (Pilpres). Ini bukan arisan keluarga!

Mandat pencalonan dua orang pemimpin tertinggi di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini diambil dari suara rakyat yang sudah expired. Betapa rapuhnya, tidak hanya legitimasi tapi juga legalitas kepemimpinan 2 orang yang paling istimewa di Republik ini. Cukuplah!

Tidak akan kita temukan di belahan dunia manapun dari bangsa bangsa yang konyol sekalipun penggunaan suara lama untuk memilih pemimpin baru. Kalau kita mengetik kata “presidensial threshold” di YouTube atau Google maka yg temukan hanya ada artikel tentang pemilu Indonesia.

Rupanya di negara lain istilah “presidential threshold” itu artinya angka batas kemenangan bukan batas syarat pencalonan.Sungguh aneh, tapi sekali lagi sebaiknya kita menatap ke depan, kita harus perbaiki kualitas dan prosedural demokrasi kita demi legalitas dan legitimasinya.

Pak @Jokow yth, ini waktu yang baik bagi kita semua untuk memperbaiki keadaan dan dimulai dengan memisahkan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, karena apabila regulasi tetap menghendaki adanya tiket Pilpres (PT20%), maka tiket itu harus didapatkan terlebih dahulu.

Dan tiket itu haruslah bersih, didapatkan dari rakyat dengan janji-janji yang terintegrasi antara calon dan aspirasinya Pada kurun waktu yang aktual sesuai dengan sifat dari aspirasi dari rakyat oleh partai politik yang akan ikut kompetisi dalam priode pemilu yang sama.

Hanya dengan cara itu politik kita menjadi Rasional dan masuk akal kembali . Politik harus bisa dijelaskan kepada rakyat di halaman depan ruang publik yang terang benderang tanpa misteri dan hal hal yang tidak masuk akal seperti sekarang ini .

Hanya dengan cara itu konsitusi modern kita dapat ditafsirkan secara terang benderang tanpa multi interpretasi. Bahwa Konsitusi menghendaki penggunaan akal sehat dan nalar yang lurus dalam proses kita menyelenggarakan negara dari a sampai z penyelenggaraan negara tersebut.

Sekali lagi, Bahwa karena pemilihan presiden mensyaratkan adanya tiket dengan persentase tertentu dari suara sah pemilu, maka tiket harus didapatkan terlebih dahulu dalam satu perlombaan perebutan suara rakyat di level legislatif.Silakan perkenalkan calon legislator anda!

Sekali lagi, hanya dengan cara itu Pemilu akan secara aktual berorientasi ke depan selain akan menjadi rasional dan masuk akal. Jika tidak maka Pemilu hanyalah sebuah misteri khususnya pemilihan presiden yg kita tidak tahu ujung pangkalnya tiba2 kita sudah berada di kotak suara.

Pemilu itu adalah sebuah pesta demokrasi yang tidak saja menyenangkan tetapi juga memberikan harapan kebahagiaan dan optimisme masa depan. itu sebabnya penyelenggaraan pemilu harus didisain untuk memenuhi tujuan dari kedaulatan rakyat itu sendiri.

Kalau kita sedang menyelenggarakan pemilihan anggota cabang kekuasaan lembaga perwakilan, ke depan kita harus mengatur bahwa biarlah anggota legislatif yang dipilih terlebih dahulu (DPR, DPD, DPRD) baru kita memilih Presiden dan pemerintahan eksekutif daerah melalui Pilkada.

Tetapi apabila kita hendak memilih dengan pertimbangan wilayahan pusat terlebih dahulu baru daerah, maka sebaiknya kita memilih semua otoritas pusat (DPR, DPD DAN PRESIDEN) tanpa persyaratan yang ANEH-ANEH, yang menyisakan RUANG gelap yg penuh misteri.

Hanya dengan cara itu semua agenda pemerintahan dapat dikedepankan tanpa hutang piutang masa lalu. Adalah praktek yang berbahaya dalam penyelenggaraan pemerintahan menggunakan sumber keuasaan dari suara rakyat yang sudah laku terjual kepada segelintir tangan dan kuasa harta.

Sungguh mencurigakan, bahwa orang orang kaya mulai bergentayangan baik sebagai kandidat yang telah membeli tiket dari belakang layar maupun sebagai tukang bayar yang telah menggelontorkan uang di dapur dapur partai politik secara diam2.

Padahal sekali lagi, kita tidak mau ada ruang gelap dalam demokrasi kita. Demokrasi dan Pemilu sebagai bagian terpenting didalamnya haruslah sepenuhnya dikelola di ruang terbuka yang kasat mata. Membiarkan beredarnya tiket palsu dalam pesta demokrasi adalah bahaya luar biasa!

Jika ide ini diterima maka tidak ada lagi menteri yang sibuk kasak kusuk kesana kemari meninggalkan tugas, merayu ormas dan partai politik, menghabiskan uang dan fasilitas negara untuk curi start kampanye pemilihan presiden tanpa malu dan tanpa merasa punya konflik kepentingan.

Saya berani menyimpulkan secara tegas bahwa runtuhnya elektabilitas presiden @Jokowi belakangan ini adalah ulah dari partai dan anggota kabinet yang tidak fokus lagi bekerja untuk rakyat. Perhatian mereka sudah tertuju kepada kursi presiden yang memang lebih penting!

Kursi presiden memang jauh lebih penting bahkan bagi partai politik karena memang kursi legislatif sering hanya menjadi embel2 belaka. Presiden memang terlalu kuat dan penting apalagi saat DPR dikendalikan Dari belakang oleh para pejabat partai politik..

Semua orang juga tergoda dengan jabatan presiden yang begitu penting itu. termasuk kepala daerah yang akhirnya dikritik sendiri oleh partai politik yg sama. Pada Jika proposal ini diterima maka tidak akan ada lagi kepala daerah yang merasa salah tingkah oleh lembaga survei.

Jika proposal ini diterima maka kabinet akan fokus bekerja untuk keselamatan rakyat dan bangsa Indonesia menghadapi tantangan global dalam krisis besar, sehingga seluruh sumber dan upaya akan digunakan untuk sepenuhnhya mensukseskan tugas sebagai pembantu presiden.

Jika proposal ini diterima maka kita semua sebagai bangsa hanya akan menyaksikan partai politik melalui para calon legislatifnya menawarkan ide dan pikiran besar tanpa mengganggu jalannya pemerintahan karena mereka mengincar kursi yang berbeda yaitu.

Dengan cara inilah seluruh partai politik yang lama ataupun yang baru harus bekerja mencari mandat baru. Tidak boleh jualan tiket lama untuk calon presiden yg pasti adalah orang yang banyak uangnya atau orang yang dibayar oleh kelompok yang banyak uangnya.

Kita harus menghentikan seluruh kelakuan ganjil partai politik yang merasa superior karena sudah memegang tiket palsu dan basi yang dijajakan kepada para calon presiden untuk mengumpulkan dana bagi penyelenggaraan legislatif Pemilu yg mereka anggap tak begitu penting.

Mereka seolah sudah puas dgn transaksi dengan para calon presiden yang akan datang. Mereka telah menipu rakyat Indonesia karena mereka sebenarnya tidak fokus untuk menyiapkan kader mereka menuju Pilpres akibat kader tidak punya uang untuk membeli tiket yg harganya sangat mahal.

Sementara itu para capres, orang orang kaya, para pejabat dan kepala daerah dengan posisi tawarnya dalam penyelenggaraan negara menggunakan sumber dayanya untuk membeli tiket dari para ketua partai. Mereka sibuk berdandan untuk sebuah pesta yang dihadiri oleh orang2 kaya.

Parpol tidak punya kepentingan jangka panjang untuk membangun partai dan memperjuangkan partai dan kadernya menjadi pemimpin bangsa. Karena bagi mereka yang penting adalah bisa menjual tiket lebih awal dan meraup uang milyaran rupiah dari transaksi haram di belakang layar itu.

Kepalsuan ini harus dihentikan, partai politik yg menjadi joki orang2 kaya dan antek2 oligarki harus distop. Partai politik harus mencalonkan kader kader terbaik mereka di awal dan dari situlah kita akan menemukan pertarungan pikiran dan ide2 besar dari kader2 partai politik.

Sehingga kontestasi pemilihan pemimpin tertinggi di republik bukan sekedar basa basi cerdas cermat, oleh calon presiden dan wakil presiden setingan dan pura2, karena memang sesungguhnya mereka tidak memperjuangkan apapun kecuali sebagai suruhan orang2 di belakang layar.�
Ini harus dihentikan dan partai politik harus mengambil kembali kedaulatan dan kewibawaan yang diharapkan oleh rakyat dari keberadaan sebuah alat perjuangan yang bernama Partai politik agar mereka menyumbangkan pikiran pikiran terbaik melalui kader terbaik yang mereka ciptakan.

Kembali ke ide dasar dari proposal ini bahwa sekali lagi ini tentang legitimasi dan legalitas kepemimpinan nasional yang hal tersebut sangat fundamental dalam demokrasi, bahwa mandat menjadi calon pemimpin nasional haruslah datang dari suara rakyat yang aktual dan nyata.

Demokrasi mendasarkan diri pada mandat suara rakyat yang mandat suara rakyat itu harus diminta kembali setial Pemilu. Tentang mandat daulat suara rakyat sebagai sumber kekuasaan dalam demokrasi inilah yang membuat tak mungkin menggunakan mandat yang sudah expired.

Dalam sistem parlementer, bahkan keabsahan sebuah pemerintahan sering ditantang di tengah jalan sehingga sering sekali Seorang perdana menteri terpaksa atau tidak menyelenggarakan kembali Pemilu atau Pemilu ulang untuk membuktikan bahwa mereka masih didukung oleh rakyat.

Dalam tradisi presidensil seperti kita, kita tidak harus melaksanakan Pemilu ulang untuk membuktikan legitimasi karena pada dasarnya kekuatan oposisi berada di luar pemerintahan. Sehingga praktek jual beli tiket kedaluwarsa inilah yang merusak sistem presidensialisme kita.

Memang keberadaan tiket kedaluwarsa ini sangat mengganggu secara filosofis dan membuat kita jadi konyol secara kolektif. Bagaimana bisa konsep yang begitu dangkal bisa hadir dan bahkan menjadi kebenaran yang diterima secara luas bahkan diperjuangkan oleh semua partai politik.

Memang, bertahun tahun belakangan ini kita tidak pernah lagi menyentuh perdebatan filosofis tentang demokrasi kita termasuk filsafat pemilihan umum, hak suara, konsep kedaulatan rakyat dan bagaimana ia digunakan.

Terlalu banyak yang kita bicarakan adalah semacam jalan pintas dan menghalalkan segala cara, seolah olah prosedur dalam demokrasi tanpa makna dan tanpa nilai nilai Yang luhur di dalamnya.

Sehingga dengan kasar dan kasat mata para politisi mengatur agar suara rakyat yang telah diberikan dan telah habis masa legitimasinya justru menjadi barang dagangan utama menghadapi pemilihan presiden 2024.

Sungguh sebuah Pengkhianatan yang sangat kasar kepada demokrasi kita dan kepada kedaulatan rakyat. Sebuah pencurian dan perampokan besar besaran yang dilakukan secara bersekongkol agar mereka semua mengantongi barang berharga yang bernama tiket Pilpres 2024.

Dan tiket itu sekarang telah masuk ke dalam bursa perdagangan di pasar pasar gelap kekuasaan bawah tanah dan bawah meja. Mereka sedang melakukan tawar menawar atas sebuah barang yang paling berharga melebihi harga intan permata.

Mari kita hentikan semua kegilaan ini, mari kita akhiri semua perbuatan jahat ini yang telah membuat politik kita memfasilitasi tindak pidana. Orang orang yang menjadi pemimpin pada dasarnya adalah mereka yang telah dipaksa oleh segelintir orang untuk berada di dlm kertas suara.

Dan kehadiran mereka di dalam kertas suara itu tidaklah melalui prosedur yang bertanggung jawab melainkan percakapan terbatas. Kehadiran para pemimpin kita ini tidak pernah dikonsultasikan pd rakyat bahkan nama mereka tidak pernah didengar sebelumnya tiba2 sudah memimpin kita!

Jika kita gagal menghentikan tindakan yang tidak waras ini, sekali lagi maka dapat diduga bahwa tidak saja paska Pemilu 2024 bahkan sebelumnya demokrasi kita telah dan tak akan lagi dihargai oleh rakyat kita sendiri, demokrasi kita akan ditinggalkan pergi.’’

Maka tak akan ada lagi yang luhur tentang pemimpin karena semuanya adalah hasil perdagangan sapi. Semua partai politik ikut berdosa karena telah menjadi jalur perdagangan tiket palsu. Tindakan ini harus dilawan sekuat tenaga karena ini adalah hidup atau matinya demokrasi kita!.

Saya mengajak semua yang masih waras dan punya niat baik untuk melihat bahwa pemilihan pemimpin adalah peristiwa yang paling Syahdu dan paling suci sehingga dasarnya mestilah sesuatu yang agung dan tinggi sesuatu yang luhur dan membuat tenang akal budi.

Kalau kita sebagai bangsa memperjuangkan agar akal pikiran, reputasi, kehormatan, harga diri, keilmuan dan kecakapan menjadi dasar pemilihan pemimpin maka kita akan menyaksikan pemimpin yang menghadirkan reputasi dan kehormatannya, ilmu dan pengetahuannya di ruang publik kita.

Tapi apabila kita sebagai bangsa berkomplot menggunakan uang dlm memilih pemimpin dan melakukan transaksi material; jabatan dan peluang, proyek dan bisnis. maka ke depan kita akan menyaksikan pemimpin yg berdagang dgn rakyatnya, mengumpulkan uang dari jabatan dan pangkat mereka.

Memurnikan kembali proses politik pemilihan umum bukanlah urusannya KPU semata tapi urusan semua pihak dan yang terpenting adalah mereka yang masih punya pikiran dan akal sehat serta Nurani dan harga diri. Bangsa kita memanggil kita ke
mbali! #Selamatkan2024

By Fahri Hamzah

Menang Vs Menang (is)
By: Nandang Burhanudin New


Lebih kurang 700 tahun, Persia bertempur dengan Romawi. Tenggelam dalam kecamuk perang lebih dari 1000 kali pertempuran. Sama-sama kuat. Sama-sama kokoh.

Namun tak lama kemudian, Khalid Bin Walid datang, dengan pasukan alakadarnya, tanpa alutsista modern atau backup dana berlimpah. Khalid mampu menghempaskan keduanya hanya dalam jangka waktu 4 tahun saja.

Tak tanggung, Khalid dengan modal keimanan kepada Allah, sukses menumbangkan Persia dalam 15 kali pertempuran. Adapun Romawi, lebih singkat lagi, hanya 9 kali pertempuran.

Kaget dengan kekalahan mengejutkan, dari pasukan Muslim yang dipandang sebelah mata, Persia dan Romawi melakukan koalisi. Bersatulah dua kekuatan, 200.000 pasukan ves 15.000 pasukan Khalid. Siapa pemenangnya? Pasukan Muslim yang dikomando Khalid bin Walid.

Pada Perang Gaza 2014, mentalitas komando sekelas Khalid muncul. Diotaki sosok genius, Muhammad Adh-Dhaif. Drone sederhana, rudal, terowongan canggih, membuat Israel menekan Mesir untuk gencatan senjata. Israel dipermalukan. Namun ia segera bangkit, menekan titik lemah perlawanan Palestina: Mahmud Abbas dan sekuelnya dari Mesir/Jordania.

Komandan dan tongkat komando, adalah kunci stabilitas, durabilitas, efektivitas, dan kualitas sebuah perjuangan. Komandan tidak boleh sekedar sholeh, tapi harus shalahiyyah (relevanitas). Lalu apa jadinya jika komando dikendalikan sosok yang tidak sholeh dan tidak shalahiyyah?

Mengagungkan kepiawaian Khalid dalam memimpin pasukan, membaca strategi musuh, lalu menemukan racikan jitu mengalahkan lawan, adalah di antara skill dasar seorang komandan.

Khalid tentu tidak menggunakan cara, logika, bahkan nalar berpikir komandan Persia atau Romawi. Tapi Khalid meracik resep kemenangan berdasarkan pengalaman di lapangan: pun ketika sukses menghempaskan pasukan Muslim di Perang Uhud.

Jadi, kapan dan dimana, otak brilian Khalid itu didalami? Kapan dan mau diperlakukan seperti apa, jika ditemukan insan-insan cerdik pandai seperti Khalid? Jawabannya bisa terlihat dari penerjemahan peta jalan. Plus pemberdayaan SDM di lapangan.

Jika orang-orang dengan skill seperti Khalid diparkirkan, maka jangan berharap menang, kecuali menangis menjadi harapan.